Kasus DBD Tinggi Di Jombang, DPRD Panggil Pihak Terkait

suasana hearing antara Komisi D DPRD Jombang, dengan Direktur RSUD dan Plt Dinkes

JOMBANG,KANALINDONESIA.COM:Tingginya kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, membuat Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) setempat memanggil Direktur RSUD beserta jajarannya untuk memberikan klarifikasi kabar tersebut.

Dalam agenda hearing tersebut disampaikan oleh Direktur RSUD Kabupaten Jombang, Dr Pudji Umbaran, bahwa dalam bulan Januari 2019 ini terjadi peningkatan jumlah pasien yang diduga terserang DBD, dari tahun 2018, namun pihaknya menjelaskan bahwa  kondisi tersebut tidak dalam kegawatan yang mengkhawatirkan karena penanganannya sudah relatif terkontrol.

“Jadi kunjungan pasien memang agak semakin meningkat dari bulan sebelumnya terutama dalam satu bulan terakhir ini, namun demikian kondisi yang kita tangani relatif terkontrol, artinya tidak dalam kegawatan yang mengkhawatirkan kita semua,” kata Dr. Pudji Umbaran, yang juga menjabat sebagai Plt Dinkes Jombang, pada sejumlah jurnalis, Senin (14/1/2019).

Masih menurut Pudji Umbaran, pada pertengahan tahun 2018 pihaknya dan Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang sudah melakukan langkah antisipasi ketika mendekati musim hujan dengan menggerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan melakukan launching program satu rumah satu jumantik, namun dengan munculnya kasus DBD ini maka pihaknya berusaha untuk memaksimalkan kegiatan tersebut.

“Sebenarnya kewajiban PSN ini harus dilakukan setiap saat oleh masing-masih penghuni rumah, itulah sebabnya kenapa Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang melaunching program satu rumah satu jumantik, harapan kita masing-masing penghuni rumah itu betul-betul mengawasi kebersihan rumah supaya tidak ada pertumbuhan nyamuk, dengan begitu kalau tidak ada nyamuk maka tidak ada penularan DBD, namun demikian ternyata masih muncul juga kasusnya, sehingga bisa kita simpulkan bahwa kegiatan satu rumah satu jumantik ini perlu kita maksimalkan lagi,” ungkap Pudji.

Dari data Dinkes Jombang, terhitung di bulan Desember 2018 ada 454 kasus DBD, jumlah ini bertambah 25 kasus pada saat bulan Januari 2019. Dan yang meninggal akibat DBD 1 orang pada tahun 2018, dan di awal tahun 2019, yang meninggal 1 orang karena DBD.

“Kalau pasien yang masih diduga DBD untuk tanggal 1 sampai dengan tanggal 12 Januari ini kurang lebih jumlahnya 120, kalau angka pasti di Dinas Kesehatan,” terang Pudji.

Menurut penjelasan Pudji, ada kegelisahan di masyarakat, terhadap maraknya kasus panas pada tubuh anak maupun dewasa, yang selalu diasumsikan bahwa hal itu identik dengan DBD.

“Padahal itu belum tentu dan ternyata sebagian besar yang kita rawat hasil pemerikasaan labolatoriumnya belum memastikan itu DBD, sampai tanggal 12 Januari ini dari 120 kasus panas pada anak-anak maupun dewasa yang kita layani tidak semua DBD, ada yang ternyata kena demam tivoid, tipus, diare dan sebagainya, sehingga angka pastinya kami belum mendapatkan konfirmasi dari Dinas Kesehatan, ” ujarnya.

Disinggung tentang terbatasnya kamar untuk pasien DBD di RSUD Jombang. Dan apakah Jombang nantinya bisa dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) atas kasus DBD yang tinggi ini. Direktur RSUD mengatakan sudah melakukan antisipasi untuk mencukupi kebutuhan pasien yang diduga DBD.

“Overload itu dalam arti begini,  karena daya tampung di Pavilun Seruni itu kan kurang lebih kisaran 35 sampai 40, jika yang berkunjung lebih dari itu maka itulah yang dikatakan overload, namun kami antisipasi dengan mempersiapkan ekstra bed dan ruangan tambahan untuk mencukupi. Sedangkan yang bisa memutuskan  KLB itu Bupati, dan itu bisa kita jadikan rujukan, ” tegasnya.

Terpisah, Ketua Komisi D DPRD Jombang, M Syarif Hidayatullah, mengatakan pihaknya  memanggil Direktur RSUD Kabupaten Jombang bersama jajaranya untuk memberikan klarifikasi terkait tingginya jumlah pasien DBD yang ada di Kabupaten Jombang.

“Memang harus pelan-pelan menyikapi yang pertama kita lihat sekarang masalah penanganan gejala DBD, dimana ditingkat bawah banyak kepanikan jadi banyak orang mengatakan itu DBD padahal belum tentu, sehingga harapan kami kedepan masyarakat tetap tenang, kita nunggu pemeriksaan saja,” terang Syarif.

Selain itu, lanjut Syarif (Gus Sentot) menghimbau pada masyarakat agar tidak panik saat mengalami gejala panas tubuh yang tinggi. Menurut Syarif, alangkah baiknya masyarakat untuk menunggu hasil uji laboratorium dulu, dan menunggu rujukan dari dokter, atas naiknya suhu badan yang cukup tinggi.

“Jika masyarakat panik maka imbasnya rumah sakit overload, jadi seperti komitmen awal jangan sampai ada pasien yang tidak bisa ditangani, harapan kami kita menjaga bersama, ternyata masalah DBD ini tidak hanya di Jombang ternyata di daerah lain juga sama, ” pungkas Syarif. (BEN)