Warga Lakardowo Mojokerto Keluhkan Keberadaan Pabrik PT. PRIA

MOJOKERTO, KANALINDONESIA.COM: Warga Dusun/Desa Lakardowo, Kabupaten Mojokerto keluhkan keberadaan limbah B3 yang dikelola oleh PT. PRIA pabrik pemanfaat dan pengolahan limbah yang berdiri di desanya.

Dari keterangan sejumlah warga, hanya sebagian kecil yang diolah sebagai bahan pembuat paving atau batako, sebagian besar langsung ditimbun dalam tanah tanpa menggunakan alas dan pembatas di sisi kiri dan kanan lubang penimbun limbah. Sehingga lindi dari limbah B3 yang tertimbun meresap ke sumber air dan sumur warga.

“Sebelum adanya PT.PRIA di Lakardowo warga setempat sangat aman dalam mendapatkan suplai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,”ucap Sarpan warga desa setempat.

Dikatakannya, sedikitnya ada 3 Dusun yang terdampak limbah B3 paling parah yakni Dusun Kedung Palang, Dusun Sambu Gembol, Dusun Sumber Wuluh, mereka rata-rata mengeluh karena kualitas air dari tiga dusun tersebut berangsur menurun tiap harinya.

Baca:  Sederhana dan Efektif, Cara Satlantas Polres Trenggalek Edukasikan Tertib Lantas

“Selain air bersih warga juga merasa terganggu akibat asap hitam pekat yang dikeluarkan dari cerobong pembakaran limbah medis PT. PRIA. Dengan jarak yang tak jauh dari pemukiman asap tersebut mengenai beberapa lahan pertanian warga dan mengganggu tiga sampai lima dusun sekaligus yang ada di sekitar PT. PRIA,”kata Sarpan.

Hal ini sejalan dengan uji Total Dissolved Solid(TDS) air, yang dilakukan oleh komunitas Green Women, Sutamah dan Rumiati, dimana tiap hari kandungan terlarut dalam air menunjukan hasil yang melewati ambang batas baku mutu, sehingga warga Desa Lakardowo harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-harinya.

“Setiap hari warga Desa Lakardowo harus menikmati bau busuk yang menyengat dari aktifitas PT.PRIA, bau tersebut dirasakan mulai dari pagi hingga menjelang malam,”tegasnya.

Baca:  Ratusan Kader Milenia Golkar Akan Digembleng Lewat Sekolah Politik

Pihaknya menambahkan,”polemik yang dihadapi oleh warga ini sudah lama sekali tapi dari aparat desa sampai kabupaten seakan tutup mata, padahal polemik ini sangat komplek sekali dan berdampak pada kesehatan manusia dan lingkungan hidup yang ada, tapi kenapa sampai sekarang pabrik pengolahan limbah B3 ini kok di biarkan beroperasi dengan seenaknya tanpa melihat dampak yang dihasilkan, apakah mereka para wakil rakyat sudah mendapat upeti dari PT. PRIA sehingga dia tidak mau bertindak sesuai aturan yang ada,”pungkasnya dengan nada geram.

Lebih lanjut dikatakanya,”kita sampai dipusingkan oleh keberadaan PT. PRIA ini mas, sudah dari dulu kita tegur lewat managemen pabrik tapi tak juga diindahkan, bahkan kita juga pernah lakukan demo di depan kantor Pemkab Mojokerto tetap belum juga ada titik terang, kemarin tanggal 10/1/2019 kita lakukan aksi unjuk rasa di kantor pemerintah provinsi Jatim dengan membawa masa 300 orang dan semuanya adalah ibu-ibu,”kata Sarpan.(Irwan)

Baca:  Penyelidikan Jembatan Runtuh