Berkat Kesabarannya, Kuli Bongkar Muat Batu di Lamongan Dapat Hadiah Umroh Gratis

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Rasa bahagia dan haru tampak di wajah Jumiran warga Kampung Desa Nguwok Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan tatkala mengetahui dirinya mendapat kesempatan umroh gratis pada tahun ini.

Pria 43 tahun yang sehari-harinya berprofesi sebagai pencari batu gunung ini, mendapat kesempatan untuk berangkat umroh secara gratis dari Yayasan Sedekah Umroh Nasional yang memiliki program memberangkatkan 1. 000 orang ke tanah suci.

Kepada Kanalindonesia.com, Jumiran mengaku senang dan sangat berterima kasih kepada Yayasan Sedekah Umroh Nasional telah memberikan kesempatan untuk bisa berangkat umroh.

Sebelumnya tidak banyak yang tahu tentang latar belakang kehidupannya. Jumiran dulu pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Bustanul Muta’alimin Desa Nguwok Kecamatan Modo. Selanjutnya Jumiran bekerja di lokasi penggalian batu gunung untuk mengisi kesehariannya guna untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

Ilmu yang didapat dari pondok pesantren terus diamalkan diantaranya membimbing anak-anak di kampungnya untuk mengaji di pondok pesantren tempat dia menuntut ilmu dulu.

Rutinitas pria yang tinggal di RT. O7/RW.03 tersebut dimulai sejak pagi hari. Setelah Sholat Shubuh, Jumiran berangkat ke lokasi tempat penggalian batu gunung. Dengan menumpang mobil L300 milik sang majikan, Jumiran ikut berkeliling menjajakan batu gunung tersebut. Pekerjaan yang terkadang tidak mendapatkan hasil tersebut dijalaninya hampir 15 tahun.

“Saya pernah tidak diajak kerja di tempat penggalian batu gunung itu karena setiap setengah hari saya pulang dan tidak kembali,” terang Jumiran.

Jumiran setiap tengah hari selalu pulang. Teman sekerjanya dan bahkan majikannya pada awalnya tidak tahu kalau Jumiran memiliki kegiatan mengajar mengaji di pondok pesantren desa tempat tinggalnya hingga menjelang Maghrib.

Setelah mengetahui kegiatan Jumiran menjadi ustadz maka sang majikan pun memberikan kesempatan bagi dia untuk kerja setengah hari saja.

Jumiran juga menjadi pengurus  Masjid At-Taqwa, di mana dia juga terdaftar sebagai salah satu khotib dalam kegiatan Sholat Jum’at. Jumiran terkenal sabar, sehingga banyak warga yang senang dan simpati karena dia tidak memungut biaya mengajar. Dia hanya berharap ada rejeki sebagai seorang kuli bongkar muat batu gunung.

Jumiran hidup bersama mertuanya  dan adik adiknya di rumah lantai karpet plastik dan dinding kayu karena Jumiran belum bisa membangun rumah. Dan termasuk warga miskin di desanya.

Jurnalis : omdik/ferry

WELAS ARSO