Atasi Banjir langganan, Plt Bupati Trenggalek Minta Pembangunan Bendungan Teralisasi

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Plt Bupati Trenggalek, Jawa Timur, H Moch Nur Arifin, mempertegas bila pembangunan Bendungan Bagong yang ada di Kecamatan Bendungan harus  secepatnya dikerjakan agar bencana alam berupa banjir dan tanah longsor di wilayahnya tidak menjadi langganan.

Pasalnya sejak bencana banjir bandang pada tahun 1992 dan tahun 2006 Kabupaten Trenggalek punya sebutan langganan banjir dan hampir merata pada 14 kecamatan.

“Rencana strategis (renstra) yang kita telah telorkan pada RPJMD berupa usulan bendungan dari tiga sisi penjuru harus kita dorong secepatnya berjalan,”ucap Plt Bupati Moch Nur Arifin usai meninjau posko bencana, Jum’at, (8/3) di Trenggalek.

Dikatakan Arifin,  Pemkab Trenggalek berharap adanya pembangunan nasional seperti Bendungan di Kecamatan Tugu, Bendungan Bagong  dan Kampak bisa sangat membantu mengurangi risiko bencana.

“Kita sudah mulai bendungan Bagong yang ada di Kecamatan Bendugan dan akan segera selesei yang ada di Tugu ini solusi terbaik,”katanya.

Kendati demikian , Arifin menegaskan jika program normalisasi sungai sebenarnya telah dilaksanakan. Namun hasilnya masih belum memuaskan sehingga berdampak meluasnya bencana itu.

“Jujur normalisasi sungai itu sudah sedikit banyak mengatasi , namun ada kelemahan yang timbul bencana di wilayah yang lain,”tegasnya.

Dia berharap, program strategis nasional pembangunan bendungan di beberapa titik bisa mengurangi risiko banjir. Selain itu dalam penanggulangannya beberapa saluran-saluran drainase atau sungai kecil akan dibuatkan sudetan untuk menampung air melalui penampungan bawah tanah atau sejenis bunker.

“Bunker air bawah tanah ini nanti akan bisa juga dimanfaatkan, misal di saat musim kering akan bisa digunakan sebagai air baku untuk sarana air bersih,” terangnya.

Masih lanjut Arifin , selain gagasan tersebut solusi serta alternatif lain masih di cari. Karena sudah beberapa kali dan menahun telah dicoba dengan memperbaiki jalur saluran air, namun masih belum berdampak signifikan. Karena memang hujan sangat lebat dengan intensitas curah hujan yang tinggi.

“Kita harus benar-benar mencari cara untuk mengurangi risiko bencana. Karena hampir setiap 3 tahun sekali sampai lima tahun sekali, di saat musim penghujan masih terulang,”tandasnya.

Dipungkasinya, langkah jangka pendek saat ini akan dilakukan pemetaan kerawanan serta evakuasi.

“Jangka panjang selain pembangunan bendungan, normalisasi sungai serta penghijauan juga segera dilaksanakan,”pungkasnya.(ham)

WELAS ARSO