Musren Keren Muncul di Trenggalek

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Sebutan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) yang sudah lazim dilakukan pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek, jawa Timur, kini bertambah lagi dengan ruang yang bernama Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Perempuan, Anak, Disabilitas dan Kelompok Rentan (Keren) dan disingkat menjadi Musren Keren.

Hal ini merupakan bentuk kepedulian pemkab setempat terhadap kelompok masyarakat itu yang kerap termaginalkan sehingga sering terabaikan posisi maupun perannya padahal terkadang malah menjadi potensi dalam ikut mempercepat pembangunan daerah.

Moch Nur Arifin, Plt Bupati Trenggalek, menerangkan, kemunculan inovasi Musren Keren menjadi pintu utama bagaimana cara mengelola kelompok Perempuan, Anak, Disabilitas dan yang dianggap  Rentan.

“Pintu utama menjawab persoalan kelompok ini adalah Musren Keren ini,”ungkapnya, Kamis, (14/3) di Trenggalek.

Dikatakan Arifin, saluran untuk mengakomodir kepentingan perempuan , kelompok anak disabilitas sering tidak mampu hanya tergarap dari musrenbang selama ini. Cenderung yang kerap ditemui justru tak pernah terbahas di forum penting tersebut.

“Dalam musrenbang selama ini jarang sekali dimunculkan permasalahan kelompok ini,”katanya.

Selain itu, masih keterangan Arifin, Musren Keren adalah wujud keberpihakan Pemkab Trenggalek terhadap kesetaraan gender, kelompok perempuan, anak, disabilitas dan kelompok rentan.

“Sekali lagi karena kita sudah berpredikat kabupaten layak anak, maka itu harus didorong pula dengan terobosan yang lain yang tentunya sesuai dengan kebutuhan daerah,”terangnya.

Lanjut dia, kelompok ini harus diberikan saluran aspirasi dalam perencamaan pembangunan.Sebab selama ini suara mereka kurang didengar, baik di tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten.

“Kelompok ini nyaris tidak terakomodir dalam setiap musyawarah di masyarakat,” ujar Gus Ipin, panggilan akrabnya.

Sementara itu, selama ini berkembang stigma terhadap perempuan, suargo nunut neroko katut (surga hanya numpang, neraka ikut serta-red). Stigma itu menegaskan, bahwa perempuan tidak punya tempat dalam proses pengambilan keputusan.

“Kondisi ini dianggap sudah tidak relevan dengan kondisi kekinian,”tegasnya.

Arifin berharap, peran perempuan dan bagaimana memberikan ruang yang lebih luas kepada kelompok rentan di Trenggalek agar lebih menonjol sehingga sesuai dengan rasa keadilan dan ber Pancasila.

“Kita tumbuhkan rasa berkeadilan sosial yang adil dan beradab,”pungkasnya. (dik/ham)

WELAS ARSO