Hancurkan Jalan, Pengembang LIPI Recidence Arco eks KSO Jasa Marga Properti Diprotes Warga Pengasinan Depok

Istimewa

DEPOK, KANALINDONESIA.COM: Pengembang proyek perumahan multi cluster PT Abdi Luhur Kawulo Alit (ALKA) yang sempat mempromosikan hunian LIPI Residence yang berstatus resmi di medsos merupakan proyek kerjasama operasi (KSO) dengan anak perusahaan BUMN PT Jasa Marga Properti, Kamis (21/3/2019), diprotes warga di Jalan Raya Arco, Pengasinan, Depok.

Pengembang yang dikenal kerap bersengketa dengan warga ini, bertindak semena-mena mengerahkan perkerja proyek dengan menggunakan peralatan bego, menghancurkan jalan yang bertahun-tahun dipakai warga sebagai fasilitas umum. Jalan itu panjangnya lebih 0,5 Km dan lebar 4 meter.

Tindakan semena-mena seperti memancing keributan warga itu, beruntung warga tidak ada yang terprovokasi untuk membalas dengan merusak bego milik proyek, sehingga tidak terjebak pasal pidana perusakan. Warga berdatangan hanya memprotes keras tindakan itu. Pihak pengembang pun menghentikan sikap kesewenang-wenangannya. Namun, sebagian jalan sudah terlanjur dihancurkan dengan peralatan bego.

“Bego yang dipakai pengembang proyek perumahan itu sebenarnya sudah lama disiapkan menghancurkan jalan itu,” kata seorang warga di situ. Bisa jadi karena warga terus mengawasi, dan memasang tiang kayu untuk tanda batas jalan dan area proyek pengembang, sehingga pihak pengembang seolah mencari waktu yang tepat untuk melakukan eksekusi semena-mena.

Jalan itu kebetulan menjadi pembatas antara lahan proyek yang sebelumnya sudah dibeli pengembang dari para warga. Jumlah luas lahan yang disiapkan pengembang yang pembebasannya dari pihak warga dilakukan secara bertahap dan bertahun-tahun, sebagaimana dipublikasikan PT ALKA totalnya 18 hektar.

Jalan yang dibego itu, selama ini, sekaligus juga pembatas antara area lahan proyek PT ALKA dengan lahan milik warga di Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Bojongsari, Depok. Pengguna akses jalan ini, selain warga yang melakukan kegiatan sosial, juga warga yang menolak menjual tanahnya untuk kepentingan komersial pengembang. Warga yang menolak ini seakan tidak gentar menghadapi ancaman akses jalan dilenyapkan, jika tidak menjual tanah kepada pengembang.

“Rumah dan tanah saya total luasnya 3.100 meter persegi. Saya tidak akan jual untuk proyek perumahan itu,” kata pemuda Reza, anak salah seorang pemilik rumah dan lahan yang akses jalannya diincar pengembang itu, kepada LensaIndonesia.com, Kamis (21/3/2019).

Reza yang kerja di Jakarta, dan bersama keluarganya menetap di Jakarta, praktis rumahnya hanya ditunggu pembantu. Ia mengaku tahu pengembang berhasrat membeli rumah dan tanahnya tidak dari pihak pengembang. “Saya hanya terima info dan belum pernah dihubungi langsung,” kata Reza.