Tenaga Honorer Di Jombang, Tega Cabuli Pelajar Dibawah Umur

Tersangka pelaku pencabulan Gaguk Wahyudi saat diamankan Polisi di Polres Jombang

JOMBANG,KANALINDONESIA.COM :Unit PPA Satreskrim Polres Jombang, Jawa Timur mengamankan seorang pelaku tindak pidana persetubuhan atau pencabulan terhadap anak di bawah umur.

Pelaku yang diamankan Polisi tersebut, bernama GW (30) seorang tenaga honorer asal Desa Kali Kejambon, Kecamatan Tembelang, Jombang.

Dengan berpura-pura mengagumi kecantikan korban, sebut saja Mawar (12). GW sering berkirim pesan pada kerabat korban. Bahkan, tersangka sering mengagumi kecantikan korban dan menyatakan bahwa tersangka sayang terhadap korban.

“Pada suatu hari tersangka mengajak korban untuk bertemu berdua dan jalan-jalan,” ujar Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Azi Pratas Guspitu pada sejumlah jurnalis, Selasa (26/3/2019).

Masih menurut penjelasan Azi, korban yang tidak merasa curiga dengan ajakan tersangka selanjutnya berpamitan pada neneknya untuk keluar rumah, dengan alasan untuk membeli peralatan tugas sekolah.

“Setelah dijemput oleh tersangka, ternyata korban dibawa ke rumah tersangka. Kemudian  korban di suruh masuk kamar oleh tersangka. Dan disitulah tersangka melampiaskan nafsunya pada korban,” ungkap Azi.

Usai puas melampiaskan nafsunya, lanjut Azi, tersangka mengantarkan korban pulang ke rumahnya. “Korban diantar pulang namun diturunkan oleh tersangka di depan tambal ban dekat rumah korban,” terang Azi.

Mengetahui anaknya menjadi korban perbuatan cabul oleh GW, selanjutnya orang tua korban, melaporkan peristiwa pencabulan tersebut kepada Polisi.

“Setelah peristiwa tersebut kedua orang tua korban melapor ke Polres Jombang dengan laporan polisi nomor: LPB/88/III/RES.1.24./2019/JATIM/RES JBG, tertanggal 19 Maret 2019 ditindaklanjuti dengan mengamankan pelaku ke Unit PPA Polres Jombang guna menjalani proses lebih lanjut,” tegas Azi.

Atas perbuatannya, tersangka  dikenai Pasal 81 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 atau Pasal 81 UU RI Nomor 35 Tahun 2014, tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002, tentang perlindungan Anak.

“Pelaku terancam hukuman penjara minimal 5 tahun maksimal 15 tahun dengan denda maksimal Rp 5 miliar,” pungkas Azi.(BEN)