Kepsek SMKN 1 Paron Ngawi : Oknum Guru Diduga Cabul Telah Dinonaktifkan

JH Budi Kasek SMKN 1 Paron
JH Budi Kasek SMKN 1 Paron

KANALINDONESIA.COM : Kemelut atas dugaan oknum guru cabul yang terjadi di SMKN 1 Paron sedikit terurai permasalahanya. Menyusul, ratusan siswa terus mendesak pihak sekolah untuk secepatnya mengambil langkah yang tepat baik terhadap oknum guru maupun proses hukumnya. Atas desakan yang klimaksnya pada aksi demo kemarin membuat pihak sekolah langsung melakukan rapat koordinasi lintas sektoral melibatkan pengawas sekolah, komite sekolah dan Kasek SMKN 1 Paron.

Hasil dari rapat koordinasi tersebut melahirkan empat point penting yang harus ditaati bersama. Point yang dihasilkan antara lain, sehubungan adanya rapat koordinasi guru, kasek, komite dan kepolisian, maka kegiatan belajar mengajar untuk hari Kamis dan Jum’at dilaksanakan dirumah dan aktif kembali pada Sabtu mendatang, (05/11).

Ditambah, terkait dengan guru yang diduga oleh siswa melakukan pelanggaran dibebaskan dari wakil kepala sekolah dan tugas mengajarnya diambil alih guru lain sampai semuanya jelas dan berkekuatan hukum. Aspek-aspek yang bersinggungan dengan ranah hukum diselesaikan melalui jalur hukum dan harapan guru, orang tua dan siswa dimediasi oleh ketua komite dan pengawas.

“Hasil koordinasi tadi salah satunya guru yang diduga oleh siswa melakukan pelanggaran kita non aktifkan sebagai wakasek dan tugas mengajarnya diambil alih guru lain,” terang JH Budi Kepala SMKN 1 Paron dihadapan para wartawan, Kamis (03/11).

Kemudian JH Budi ketika ditanya tentang upaya sekolah untuk mengambil Mawar selaku siswi yang diduga menjadi korban pencabulan SW oknum guru saat ini pihaknya sudah melakukan proses penjemputan. Hanya saja tandasnya, terganjal adanya larangan di lokasi Mawar saat mengikuti Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di Hotel Sunan Solo.

“Pihak orang tuanya sudah mengirimkan surat  kepada kami untuk menarik anaknya untuk dicarikan tempat lainya. Namun dari lokasi disana (lokasi PSG Mawar-red) ada yang melindungi,” jelasnya lagi.

Selain itu kata Kasek ini, dirinya membantah terhadap isu yang menyebutkan siswa maupun oknum guru yang mendukung maupun melakukan aksi demo kemarin akan dikeluarkan dari sekolah. Kata JH Budi pihaknya tetap menjamin kelangsungan proses belajar mengajar baik kepada siswa maupun guru.

“Tidak ada soal itu malah kita ini dengan siswa komitmen melindungi, saya ingin anak itu masa depanya selamat masa depan anak itu,” urai JH Budi.

Terkait aksi dugaan asusila yang terjadi di SMKN 1 Paron yang sudah terjadi kedua kalinya ini JH Budi mengaku tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan penyaringan terhadap para guru. Karena sesuai peranya hanya sebatas menerima tenaga pendidik tanpa bisa intervensi terhadap ranah lainya. (pr)