​Kuasa Hukum :Korban Tiga Kali Diajak Gituan Oleh Pelaku

KANALINDONESIA.COM : Kasus dugaan asusila yang dilakukan oleh SW oknum guru SMKN 1 Paron, Ngawi, Jawa Timur, dengan korban sebut saja Mawar salah satu siswi di tempat nengajarnya terus beelanjut. 

Wahyu Winarto selaku kuasa hukum Mawar dari Yayasan Pengabdian Hukum Indonesia (YAPHI) yang beralamatkan Jalan Nangka No.05, Kerten, Solo, menjelaskan, bahwa kasus yang dialami korban yang saat ini tengah melakukan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) sudah dilaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Ngawi pada Jum’at, (04/11), dua hari yang lalu. Dalam pelaporan dugaan asusila ke ranah hukum tersebut disertai hasil visum dokter sebagai dasar penyidikan petugas kepolisian.


“Hasil visum sudah robek (kemaluan-red) ya tapi saya belum baca sesungguhnya hanya semacam pemberitahuan. Dan visumnya memang ditulis robek gitu yang terjadi tiga atau empat bulan yang lalu,” jelas Wahyu Winarto kuasa hukum Mawar melalui via selular, Minggu (06/11).


Sesuai pendapatnya tanpa keterikatan hasil visum, Wahyu menyebutkan, dugaan perilaku asusila yang dilakukan oknum guru SMKN 1 Paron yang dimaksudkan tersebut (SW-red) memang dilakukan tiga kali ditempat yang berbeda. Perbuatan tidak pantas yang harus dialami Mawar semuanya berada dikawasan wisata seperti di Parangtritis Yogjakarta, Sarangan Magetan dan Tawangmangu Karanganyar.


Dan peristiwa itu sendiri terjadi antara bulan Februari 2016 lalu setelah peringatan Valentine Day dan terus berlanjut beberapa bulan setelahnya. Masih kata Wahyu selaku kuasa hukum Mawar, modus yang dilakukan terduga pelaku (SW-red) adalah demi sebuah aplikasi kegiatan sekolah yang terkait dengan Bahasa Inggris sesuai bidang studi yang diajarkan. Untuk bisa menguasai aplikasi Bahasa Inggris yang lancar tentunya harus dipertemukan dengan turis yang berada di lokasi wisata.


Selain itu jelasnya lagi modus yang dilakukan oknum guru ini, mengaku sebagai bapak angkat Mawar. Tentu saja dengan alasan antara bapak dan anak inilah korban diajak ke beberapa tempat wisata diluar Ngawi untuk membahagiakan Mawar. Anehnya lagi urai Wahyu, semua perilaku yang tidak lazim antara guru dan siswi tersebut mendasar restu dan ijin dari TN selaku ibu Mawar.


“Jadi modusnya gini kalau jenengan mau perso, jadi dia itu kan mengaku bapak angkat tentunya dia berusaha membahagiakan anak angkatnya. Terus pamit kepada orang tuanya untuk keperluan sekolah apalagi menyangkut aplikasi Bahasa Inggris harus ketemu turis dulu dan semuanya sudah ijin ibunya itu,” beber Wahyu Winarto.


Seperti diketahui, kasus dugaan asusila yang dialami Mawar siswi kelas XI jurusan Akomodasi Perhotelan SMKN 1 Paron mulai menyeruak kepermukaan setelah ratusan siswa melakukan aksi demo dihalaman sekolahnya pada Rabu pekan lalu, (02/11). Aksi demo yang dilakukan ratusan siswa ini sebagai bentuk dukungan moral terhadap Mawar sekaligus menuntut terhadap terduga oknum guru yang berbuat asusila untuk segera dicopot dan ditindak hukum secepatnya