​PPI Turki: Panglima TNI Titisan Jenderal Soedirman!


KANALINDONESIA.COM : Aksi Damai, Jumat 4 November 2016 lalu di Ibukota Jakarta kini dibincangkan dunia. Meski tidak massif diberitakan sejumlah media mainstream di Indonesia, tapi dari berbagai video yang viral di media sosial membuktikan bahwa Aksi tersebut yang diklaim sebagai yang terbesar dalam perjalanan sejarah bangsa dan negara berlangsung damai. 

Hebatnya lagi aksi untuk menuntut keadilan dan penegakan hukum atas dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur (non aktif) DKI Jakarta Basuki Tjahya Purnama alias Ahok berlangsung secara tertib, ramah, dan menuai simpatik. Bukan saja bagi umat Islam, tapi juga bagi warga Jakarta yang heterogen dan plural. Meski sempat terjadi sedikit insiden ba’da Isya, namun secara kesuluruhan berhasil mencitrakan Islam yang rahmatan lil a’lamin.
“Demo sejuta ummat yang dimulai dengan shalat Jumat di Istiqlal berhasil menunjukkan wajah Islam Indonesia yang rahmatan lil ‘alamin. Kita mengikuti berbagai kisah unik dan inspiratif yang akan dicatat oleh sejarah umat Islam dunia” sebut Azwir Nazar, Presiden PPI Turki di Istanbul. 
Prilaku peserta aksi mulai tidak menginjak rumput, menyapu jalan, mengutip sampah, shalat berjamaah dan berbagi makanan dengan aparat keamanan adalah sangat langka terjadi di dunia. Belum lagi peserta demontrasi dari multi etnis, ormas, profesi bahkan ada yang cacat secara tertib mengikuti dan patuh pada para ulama dan habaib yang memimpin demo. Ini luar biasa! 
“Kita mengucapkan apresiasi dan terima kasih kepada para ulama, habaib dan para guru tercinta. Segala bentuk perjuangan dan panggilan iman untuk membela alQuran sangat indah dan menyejukkan” 
PPI Turki juga memuji sikap Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, beliau mampu berdiri diatas semua golongan dan bersama Kapolri berada di garda terdepan mengawal aksi. “Kita mengikuti kiprah, langkah langkah dan beberapa pernyataan Panglima TNI sangat membanggakan. Keberaniannya mengingatkan kita laksana titisan Jenderal Sudirman” 
Disisi lain, PPI Turki juga mendorong penegakan hukum kasus ini berjalan komprehensif dan bermartabat. Pandangan keagamaan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tanggal 11 Oktober 2016 tentang penistaan agama harus menjadi rujukan utama dalam menangani proses hukum masalah penistaan agama. Tentu MUI memiliki kepakaran dan kewajiban dalam menjaga agama dan mendorong kehidupan agama yang harmonis dalam memelihara kerukunan dan persatuan.
Meski sedang belajar di luar negeri kami meyakini bahwa seluruh pelajar Indonesia dimanapun berada memiliki konsen terhadap apa yang terjadi di tanah air. Termasuk kasus penistaan agama yang telah menguras energi dan perhatian publik yang cukup besar. Kita berdoa supaya soalan ini cepat selesai dan bangsa ini dapat melaju.
Kita menilai dialog dialog keagamaan dalam nuansa dan semangat kebhinnekaan mesti menjadi agenda utama di masa depan. Hal demikian sangat penting demi memupuk jiwa cinta tanah air dan memperteguh komitmen berbangsa dan bernegara.  Budaya saling menghormati dan menghargai termasuk tenggang rasa terhadap keyakinan orang lain adalah nilai luhur yang dititipkan para pahlawan. 
Dengan demikian cita cita kita demi terus terpeliharanya persatuan dan kesatuan  NKRI sebagai negara demokrasi yang berpenduduk muslim terbesar di dunia dapat terwujud.(ZAL)