Sekda Trenggalek Berangkatkan Arak-Arakan Ketupat

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Lebaran Ketupat Tahun 2019 di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur tepatnya di Kelurahan Kelutan Kecamatan Trenggalek diwarnai pawai Gebyar Ketupat.

Arak-arakan tumpeng ketupat yang berupa gunungan dilepas langsung Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Trenggalek, Joko Irianto, didampingi beberapa asisten bupati bersama camat setempat dan lurah serta kades se Kecamatan Trenggalek.

Sementara, dari pantauan media, meriahnya momentum H+7 Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah Tahun 2019 Masehi ini juga terjadi di Kelurahan Sumbergedong, tepatnya di RW 3 yang sudah berjalan sepanjang empat tahun ini.

Joko Irianto, Sekda Kabupaten Trenggalek, mengatakan lebaran ketupat   merupakan tradisi turun temurun di Kabupaten Trenggalek. Meski awalnya hanya berlangsung di Kecamatan Durenan, tepatnya di Pondok Pesantren Babul Ulum peninggalan pendirinya dengan nama kondang ‘Mbah Mesir’.

“Maka sekarang dalam kurun waktu 10 tahun belaknag sudah merambah ke kecamatan lain,”ungkapnya, Rabu,(12/6) usai berangkatkan arak-arakan kupatan di Kelutan Trenggalek.

Dia bercerita, tradisi itu berawal dari kebiasaan pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum menyediakan menu ketupat setelah Mbah Mesir bersama santrinya puasa Syawal selama enam hari setelah hari pertama Idul Fitri.

“Hari ketujuh Lebaran Mbah Mesir menyediakan ketupat untuk dimakan bersama santri dan warga sekitar,”lanjutnya.

Dikatakannya, Mbah Mesir pengasuh yang dulu itu merupakan penasehat spiritual bupati Trenggalek.

“Beliau mulai malam Lebaran hingga H+7 itu di Pendopo. Baru bisa pulang ke Durenan setelah itu. Di rumah, beliau membuka silaturahmi dengan warga dan menyediakan menu ketupat,” katanya.

Kebiasaan itu akhirnya ditiru oleh warga. Awalnya, tradisi kupatan hanya berlangsung di masing-masing rumah. Sejak 2013, mulai diadakan kirab ketupat keliling dusun.

Alasannya, warga ingin mengenalkan lebih luas soal tradisi kupatan.

“Biar lebih dikenal. Akhirnya bisa rutin seperti sekarang ini,” tuturnya.

Pada tahun ini, arak-arakan ketupat digelar secara berbeda. Tumpeng ketupat bakal diarak dari pondok menuju lapangan dusun. Di sana, ketupat berserta sayur dan lauk-pauknya boleh dimakan oleh siapa saja yang hadir.

Selain itu, akan digelar juga lomba anyam ketupat yang diikuti oleh berbagai kecamatan di Trenggalek.

“Mulai malam juga akan ada acara kembang api dan pertunjukan musik,” terangnya.

Seperti halnya yang dilaksanakan di Kelurahan Kelutan, Trenggalek ini selain masyarakat menyediakan menu ketupat lengkap sayurnya dan disajikan secara gratis di setiap rumahnya. Kegiatan juga di meriahkan dengan pawai seni budaya keliling.

“Tradisi Ketupat ini sangat baik dan mampu meningkatkan silaturahmi serta menjaga kerukunan,” ucap Joko Irianto.

Dikatakan Joko, gebyar Ketupat ini merupakan salah satu event budaya. Dimana semua masyarakat menyuguhkan tampilan di acara tersebut dengan berbagai budaya yang dimiliki, mulai dari kesenian jaranan hingga tiban.

“Disisi lain kegiatan ini sangat bagus untuk menjalin kerukunan dan ketentraman. Karena seluruh masyarakat ikut ambil bagian mulai dari usia anak, pelajar hingga dewasa,” terangnya.

Ditambahkan Joko,  kegiatan gebyar ketupat,  selain di Kelurahan Kelutan dan wilayah lain, namun yang cikal bakal tradisi kupatan di Desa/Kecamatan Durenan, juga digelar acara serupa.

“Gebyar Ketupat merupakan tradisi turun temurun dan ini perlu dipelihara. Oleh sebab itu Pemkab akan lebih memperhatikan serta mensuport  bahkan akan dilakukan pembinaan agar semua ini bisa menjadi lebih baik kedepannya,” pungkasnya.

Sementara, kupatan di RW 3 Keluarahan Sumbergedong Kecamatan Trenggalek, diwarnai aksi serbu makanan gratis yang dijajakan warga setempat.

Berbagai jenis makanan ringan yang disediakan masing-masing warga seperti sate ayam, lodho sampai bakso ludes dinikmati pengunjung yang dating dari berbagai kota.

Khusnul, (31) warga asal Kediri sengaja datang lebih awal di lokasi acara kupatan Sumbergedong agar bisa kebagian makanan dan tidak seperti tahun-tahun yang lalu saat dirinya dan keluarga datang terlambat.

“Kita sudah sering datang ke sini karena banyak teman dan lebih nyaman akibat tidak macet seperti di Durenan,”terangnya.

Camat Trenggalek, Hari Andiko berharap even di Kelurahan Sumbergedong bisa terus dilanggengkan agar bisa menjadi ajang silaturahmi antar warga.

“Kalau alasan tidak bisa berhala bi halal dengan tetangga karena alasan kesibukan masing-masing, even kupatan di sini bisa menjadi ajang pengganti dan bisa saling bertemu,”pungkasnya. (ham)