Dituduh Curi HP, Pasutri dan Ponakannya Babak Belur Dihajar Oknum Polisi Hingga Opname

Kondisi Rofiul Huda (23) salah satu korban penganiayaan oknum Polisi

JOMBANG,KANALINDONESIA.COM :Dituduh mencuri Hand phone (HP), pasangan suami istri (Pasutri) beserta keponakannya di Jombang, Jawa Timur babak belur.

Satu keluarga yang terdiri dari paman dan bibi serta keponakannya tersebut alami sejumlah luka lebam pada bagian tubuhnya terutama pada bagian wajah.

Bahkan korban yang sempat dilarikan ke RSUD Jombang, guna menjalani perawatan. Tak tanggung-tanggung korban sempat menjalani okname selama 4 hari di rumah sakit plat merah tersebut.

Ketiga korban yang mengalami penganiayaan oleh dua oknum anggota Polisi berinisial DA anggota Polres Jombang, dan S anggota Brimob yang berdinas di Bandung, Jawa Barat. Parahnya, salah satu dari oknum Polisi tersebut, sempat menodongkan senjata api ke kepala salah satu korbannya, dengan kondisi tangan terikat.

“Sekitar setengah 5, saya pulang ke rumah tiba tiba ada dua orang itu. Langsung bapaknya ditodong. Ngakunya Polisi intel,” ujar Markini, pada sejumlah jurnalis, saat ditemui dirumahnya pada Kamis (13/6/2019).

Selanjutnya Markini dimasukkan ke dalam rumah dan kedua oknum anggota Polisi itu membawa suami dan ponakan ke luar rumah untuk dihajar. “Dari latar (halaman rumah, re) bapaknya dihajar sama orang itu (oknum anggota Polisi, red),” terang Markini.

Masih menurut penjelasan Markini, setelah suaminya di bawa ke rumah oknum anggota polisi tersebut, ia selanjutnya menyusul ke rumah oknum itu.

“Saya dan keponakan saya langsung menyusul ke rumah nya Polisi. Terus dari sana saya, suami dan keponakan dihajar, mau dibakar, ditembak,” tegas Markini.

Tidak tanggung-tanggung dua oknum anggota Polisi tersebut juga mengklaim bahwa kawasan tersebut adalah kawasan intel Polisi.

Usai menghajar satu keluarga tersebut, ketiga korban selanjutnya dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa ke Polres Jombang.

“Sepeda saya dilemparkan ke dalam mobil, habis itu suami saya, saya dan keponakan saya dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa ke Polres, untuk dilaporkan pada polisi yang katanya saya mencuri HP,” kata Markini.

Saat ditanya apakah pihaknya diperiksa oleh petugas kepolisian di Polres Jombang, atas kasus pencurian. Markini mengatakan bahwa dirinya saja yang diperiksa Polisi, namun suami dan ponakannya tidak diperiksa.

“Di Polres saya sempat di mintai keterangan sama polisi di sana, dan saya juga disuruh tanda tangan,” papar Markini.

BACA; http://kanalindonesia.com/64829/2019/06/14/kasus-oknum-polisi-hajar-pasutri-karena-dituduh-curi-hp-kasat-reskrim-polres-jombang-itu-hanya-salah-paham/

BACA : http://kanalindonesia.com/64890/2019/06/14/unjuk-rasa-warnai-pelantikan-117-kades-di-ponorogo/

BACA: http://kanalindonesia.com/64903/2019/06/15/buku-gembok-ati-stimulus-keilmuan-geografi-pada-minat-baca-siswa/

Sementara itu, menurut keterangan Rofiul Huda yang merupakan keponakan Markini, membenarkan bahwa ia dan pamannya dihajar oleh oknum anggota Polisi.

Pada sejumlah  jurnalis Rofiul menceritakan bahwa awalnya ia disuruh bapaknya beli nasi. Namun tiba tiba ada dua orang datang dan langsung menuduh mencuri.

“Terus saya diancam mau ditembak. Orangnya diajak rembukan ngga mau dibawa kesana (rumah pelaku),” ungkap Rofiul.

Selain itu Rofiul membenarkan bahwa ia dan pamannya diseret oleh oknum anggota polisi tersebut. “Om ini ngga sampai kakinya ke lantai langsung dibawa diseret, mau nolong saya takut .Terus saya tanyakan warga dulu katanya orang itu polisi. Terus saya dipukul terus ngga sadar,” terang Rofiul.

Saat tidak dalam kondisi sadar, ia dibawa ke kamar. Selanjutnya dibawa ke ruang tamu dan diikat sama baju dan tali raffia.

“Itu belum dilepas (ikatan talinya,red) dinaikkan ke mobil itu dihajar terus sampai babak belur. Om saya ini dilempar ke mobil dihajar terus di mobil itu. Dia bilang saya tidak takut sama polisi atau TNI, pengacara, katanya polisi gitu yang masnya (oknum,red) sempat nodong ke kepalanya om saya,” tegas Rofiul.

BACA: http://kanalindonesia.com/64821/2019/06/13/warga-madiun-tewas-terjebur-telaga-sarangan/

BACA: http://kanalindonesia.com/64876/2019/06/14/fkub-dan-mui-madiun-tolak-kerusuhan-sidang-gugatan-pilpres/

BACA : http://kanalindonesia.com/64817/2019/06/13/lokalisasi-sunan-kuning-dipastikan-tutup-sebelum-17-agustus/

Sementara itu, Kutut Layung Pambudi, selaku kuasa hukum yang ditunjuk korban, berencana akan melaporkan tindak penganiayaan tersebut, hingga berkirim surat ke Kapolri Jendral Tito Karnavian. Hal ini dilakukan agar oknum tersebut ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku.

“Kita akan berkirim surat ke kapolri. Dugaannya telah melakukan penganiayaan pasal 351,” ujar Kutut.

Selain itu, Kutut juga membenarkan bahwa kliennya atau korban, sempat menjalani perawatan di RSUD selama 4 hari. “Korban dirawat di RS sampai 4 hari,” tegasnya.

Lebih lanjut Kutut mengatakan bahwa tindakan oknum anggita Polusi tersebut melanggar kode etik kepolisian. “Kita pengen kepolisian kita lebih baik, kalau setiap anggota kepolisian bersikap seperti itu, rusak negara kita,  kita tetap akan upayakan itu ditindak tegas,” tukasnya.(elo)