Bahasa Indonesia Terdegradasi, Balai Bahasa Jatim Turun ke Ponorogo

PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Balai Bahasa Jawa Timur menggelar rapat koordinasi (Rakor) pengawasan dan pengendalian penggunaan bahasa media massa di Ponorogo bertempat di gedung Nirwana kompleks STKIP Ponorogo, Senin(17/06/2019).

Pelaksanaan koordinasi diikuti sejumlah awak media di Ponorogo dan media dari sejumlah lembaga pendidikan, sekolah juga perguruan tinggi yang ada di Ponorogo.

Hadir dalam kegiatan tersebut yaitu Drs Mustakin M.Hum dari Balai Bahasa Jawa Timur, DR. Sutedjo dari STKIP Ponorogo dan Suharno Kepala Bidang Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Kominfo Ponorogo.

Balai bahasa Jatim menilai media massa menjadi sangat berperan dalam berkembang atau tidaknya penggunaan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah oleh masyarakat. Sebab, media massa menjadi etalase penggunaan bahasa, rujukan dalam penggunaan bahasa, pengembang bahasa dan pembina bahasa.

Balai bahasa Jatim menilai saat ini telah terjadi degradasi penggunaan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah di Indonesia bahkan di Jawa Timur termasuk di Ponorogo.

Banyak istilah-istilah bahasa di kantor dan di sekolahan mulai tergantikan dengan bahasa asing seperti Bahasa Inggris.

Degaradasi bahasa juga mulai terjadi pada penuturan bahasa daerah serta varian dari bahasa daerah.

Data dari Balai Bahasa Jawa timur menunjukkan saat ini ada sekitar 700 bahasa daerah di Indonesia, dari jumlah tersebut 668 sudah teridentifikasi. Namun yang memprihatinkan, dari 668 bahasa daerah itu hanya sekitar 100 orang saja yang sekarang ini menuturkan. Sehingga perlu diambil langkah untuk terus melestarikannya.

Mustaqin, Kepala Balai Bahasa Jawa Timur yang berada dibawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan,”untuk mencegah degradasi penggunaan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah ini kami turun di beberapa daerah di Jawa Timur untuk koordinasi dengan sejumlah pihak. Salah satunnya turun ke Ponorogo ini,”ucap Mustaqin.

Mustaqin mengungkapkan, Bahasa Jawa dengan varian Ponoragan salah satunya,  juga harus tetap dilestarikan karena menjadi salah satu identitas budaya Ponorogo.

Untuk pelestarian tersebut perlu kerjasama antara perguruan tinggi dan juga pemerintah daerah dalam melakukanya.(wa)