Proyek Pembangunan RSUD Ploso, PPK dan Rekanan Diduga Ada Main

Pembangunan proyek di RSUD Ploso

JOMBANG,KANALINDONESIA.COM :Proyek pembangunan gedung rawat inap VIP berlantai II RSUD Ploso, Jombang Jawa Timur, masih menyisahkan sejumlah polemik. Salah satunya, diakibatkan adanya keterlambatan pada proses pemasangan tiang pancang.

Namun, pekerjaan belum dimulai pihak rekanan sudah melakukan perubahan pelaksanaan. Dengan dalil tiang pancang yang ada dalam dokumen lelang tidak ada pada pasaran. Di sinilah muncul dugaan permainan antara PPK dan pihak rekanan pada proyek gedung yang dananya bersumber dari APBD sebesar Rp 9,4 miliar.

Menurut keterangan ST, salah satu narasumber yang namanya enggan untuk dipublikasikan, mengatakan bahwa dari alur lelang hingga muncul persoalan keterlambatan itu, sebenarnya sudah dapat diketahui bahwa ada permainan antara rekanan dan PPK.

Menurut ST, dalil tidak adanya tiang pancang dipasaran memang tidaklah masuk akal. Pasalnya, dalam dokumen lelang sudah jelas ada ketentuan yang mengatur syarat-syarat untuk keperluan proyek yang diinginkan oleh PPK. Termasuk kualitas tiang pancang.

Pada saat pekerjaan tersebut dilelang, dari pihak rekanan semestinya melakukan aanwijzing (pemberian penjelasan, red) pada saat melihat syarat ketentuan atau spek barang dalam dokumen lelang. Dan jikalau ada kendala semisal barang atau tiang pancang tidak ada di pasaran harusnya rekanan memberitahukan informasi tersebut pada PPK.

“Dukungannya kemarin seperti apa. Kalau ia (rekanan, red) menang terus punya dukungan berarti dukungannya seperti apa ini ceritanya, kok bisa dukung tiang pancang yang kualitas 250,” ungkap ST, sembari mewanti-wanti namanya untuk tidak dipublikasikan.

Lebih lanjut ST menjelaskan bahwa sedari awal saat pekerjaan ini dilelang oleh ULP, maka setiap rekanan yang menawar pasti akan menyertakan dukungan pabrikasi sesuai dengan permintaan PPK yang ada dalam dokumen lelang. Tentu, termasuk kualitas dan ukuran tiang pancang.

“Pada saat rekanan memasukkan dokumen penawaran kan diminta dukungan ama PPK sama pokja. Dukungan pabrikasi, kan muncul tiang pancang, diameter berapa, mutunya berapa, kalau dia dukung 250 kan itu lucu, kalau sekarang di rubah,” katanya.

“Kalau dukungan itu dulu diminta oleh PPK dan Pokja maka jelas sekali syarat-syarat itu tadi akan muncul dan aka nada tanya jawab sebelum adanya kontrak,” sambung ST.

Seperti diberitakan sebelumnya, proyek pembangunan gedung rawat inap VIP berlantai II RSUD Ploso, terancam molor. Hal ini dikarenakan adanya perubahan pelaksanaan yang diajukan rekana pada PPK, dengan dalih tiang pancang tidak ada dalam pasaran.(elo)