Tes Kesehatan Jiwa di RSUD Jombang, Calon Kades Mengeluh

Suasana tes kesehatan jiwa calon kepala desa di RSUD Jombang

JOMBANG,KANALINDONESIA.COM :Diberlakukan tes kesehatan rohani (jiwa), bagi calon kepala desa (cakades), yang akan mengikuti pemilihan kepala desa secara serentak di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, membuat cakades mengeluh.

Syarat tes kesehatan yang diwajibkan bagi cakades untuk maju pada pilkades serentak, yang dinilai hampir sama dengan syarat tes kesehatan calon anggota legislatif (caleg) pada pemilu 2019 kemarin, dikeluhkan cakades.

Selain itu, cakades juga mengeluhkan minimnya informasi dari pemerintah daerah setempat terkait informasi tes kesehatan bagi cakades, yang berakibat pada membludaknya peserta yang mengikuti tes kesehatan di RSUD Jombang, pada hari Rabu (7/8).

“Kemarin teman-teman kan hanya sebatas ngurusi surat keterangan bebas narkoba sama surat keterangan kesehatan dari Puskesmas, ternyata cakades ini persyaratannya disamakan dengan caleg, kita rohaninya juga di tes juga,” terang cakades asal Desa Kepatihan, Erwin Pribadi, pada sejumlah jurnalis.

Lebih lanjut Erwin mengatakan bahwa tidak hanya dirinya dan cakades lainnya yang mengeluh atas adanya persyaratan ini. Pasalnya setiap cakades pasti merasa tidak siap, dengan adanya tes kejiwaan yang akan dilakukan dua hari berturut-turut itu. “Hari ini kita tes tulis, besok kita harus wawancara,” terangnya.

Masih menurut penjelasan Erwin, untuk hari ini saja sedikitnya ada 400 orang lebih yang mengikuti tes kesehatan rohani di RSUD Jombang. Dan sakiing banyaknya peserta tes yang datang, akhirnya cakades yang ikut tes tersebut, mengeluhkan ketidaksiapan RSUD Jombang, dalam menyelenggarakan tes kejiwaan tersebut.

“Karena membludaknya dan tes psyco (kejiwaan, red) membutuhkan waktu dua jam lebih, akhirnya teman-teman kan banyak yang mengeluh,” kata Erwin.

“Banyak yang duduk di lorong-lorong tidak bisa ikut tes, karena satu ruangan itu cuman mampu menampung 20 hingga 30 orang,” sambung Erwin.

Meski pendaftaran pemilihan kepala desa masih tanggal 19 Agustus sampai 29 Agustus 2019. Namun diakui Erwin bahwa banyak cakades yang panic dan mengikuti tes kesehatan di RSUD Jombang, lebih awal.

“Ya saya kira rumah sakit tidak siap, sehingga yang jadi korbannya ya calon kepala desa seperti kita ini, harus berserakan di lorong-lorong,” tegas Erwin.

Bahkan, imbuh Erwin, untuk tes kesehatan jasmani maupun rohani, setiap cakades harus menyiapkan uang sekitar 500 hingga 600 ribu rupiah. “Tes keehatan rohani saya bayar 300 ribu rupiah, kalau tes kesehatan sekitar 219 ribu rupiah,” bebernya.

Karena merasa di RSUD Jombang, pelayanan tes kesehatan jiwa membludak, Erwin dan beberapa cakades dari 6 Desa di Jombang, sempat mempunyai inisiatif untuk melakukan tes kesehatan jiwa di RSUD Nganjuk.

“Tadi sempat mau tes ke Nganjuk. Karena dalam perbup kan ditulis rumah sakit pemerintah. Dan saya cek tadi di Nganjuk masih kosong, saya dan 6 teman mau ke Nganjuk, karena di Jombang membludak,” tukas Erwin.

Dikonfirmasi secara terpisah, wakil direktur RSUD Jombang, Adi Prasetyo mengatakan bahwa pihak RSUD akan melakukan pengelompokan secara bertahap, untuk mengantisipasi membludaknya jumlah cakades yang mengikuti tes kesehatan jiwa. “Paling tidak 150 orang per gelombang,” terang Adi.

Lebih lanjut Adi menjelaskan bahwa untuk tes kejiwaan diperlukan tes tulis dan tes wawancara. Untuk tes tulis diperlukan waktu hingga 4 jam. Sedangkan tes wawancara akan dilakukan pada keesokan harinya. Dan dalam pelaksanaannya memang pihak RSUD menemui kendala.

“Kendala memang ada, yakni spesialisnya. Karena spesialisnya harus ahli kesehatan jiwa. Dan RSUD hanya mempunyai satu tenaga ahli kejiwaan,” tegas Adi.

Namun untuk mengatasi kendala tersebut, pihak RSUD sudah melakukan persiapan dengan mendatangkan tenaga ahli kesehatan jiwa dari luar. Akan tetapi untuk mendatangkan ahli tersebut, tergantung dari jumlah peserta yang mengikuti tes kesehatan jiwa di RSUD Jombang.

“Kita lihat apakah kita perlu mendatangkan, tetapi secara tentative waktunya akan kita datangkan,” katanya.

Disinggung terkait cara pihak RSUD untuk mengantisipasi membludaknya jumlah cakades yang mengikuti tes kesehatan jiwa, Wadir RSUD mengatakan bahwa untuk hal tersebut pihak RSUD tidak bisa melakukan antisipasi.

“Antisipasi agar tidak membludak ya ndak bisa mas. Kan rumah sakit tidak membatasi, dan semua peserta tes akan difasilitasi di RSUD,” ungkap Adi.

Perlu diketahui bahwa, pihak RSUD Jombang, hanya akan memfasilitasi peserta tes kesehatan jiwa secara bertahap, yakni dengan jumlah kuota 150 orang tiap gelombangnya. Dan untuk setiap hari akan dibagi menjadi dua tahap, tahap pertama pada pagi hari dan sore hari untuk tahap dua.

“Kalau membludak kita cuma bisa bagi dua gelombang per hari, dengan kuota 150 orang dan sehari bisa sampai 300 orang. Dan ruangannya ada,” pungkasnya.(elo)