Fragmen Perburuan di HUT ke 74 Trenggalek Pukau Dewan

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Fragmentasi atau drama berjudul Perburuan berhasil menghipnotis ribuan pasang mata peserta maupun tamu undangan yang hadir dalam upacara penurunan bendera merah putih dalam rangka Peringatan HUT RI ke-74 di Kabupaten Trenggalek, Sabtu,.

Salahsatunya, H Samsul Anam, Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur yang menganggap drama ini berhasil merefleksikan bagaimana perjuangan Jendral Besar Sudirman dalam perang gerilya menjaga kedaulatan bangsa.

“Sudirman dibuat seolah hidup dan melakukan peperangan yang nyata dalam acara ini,”ungkapnya, Senin,(19/8).

Dengan penampilan itu,mengingatkan kepada kaum muda untuk selalu belajar sejarah berdirinya bangsa dengan dinamikanya yang penuh makna.

“Jika menengok sejarah justru unjuk kedaerahan harus muncul dalam jiwa anak muda Trenggalek,”tuturnya.

Sementara program pemberdayaan kepada generasi muda, politisi asal PKB ini sudah banyak dilakukannya selama ini termasuk mendorong anggaran untuk kiprah pemuda.

“Kiprahnya telah diakomodir Dana Desa dan anggaran lain yang dikelola Karang taruna,”ungkapnya.

Trias Kurniawan, sutradara fragmen tersebut mengatakan,  ada tiga adegan yang dilakukan secara bersamaan. Adegan pertama penyobekan bendera di Surabaya, terus Soekarno melantik Sudirman dan yang ketiga penangkapan Sudirman oleh pasukannya sendiri karena belum pernah tahu sosok Sudirman itu seperti apa dan dikira mata-mata.

“Intinya ini mengantarkan Sudirman pada perang gerilya yang endingnya ada di Desa Bendorejo,” ujarnya.

Ditempat ini Sudirman akan melanjutkan perjalanan ke Kediri di tengah-tengah konflik. Dalam kesempatan ini sempat Sudirman dikira menjadi mata-mata dan ditangkap oleh anak buahnya sendiri.

Namun penangkapan ini tidak berlangsung lama setelah mereka mengetahui siapa sebenarnya yang mereka tangkap dan Sudirman bisa melanjutkan perjalanan ke Kediri.

Trias menyebutkan perburuan ini merupakan bagian dari trilogi cerita Jendral Sudirman saat menjalankan perjalanan perang gerilya.

“Tahun sebelumnya trilogi ini mengulas cerita mengenai keberangkatan yang didalamnya mengenai konflik batin Sudirman meninggalkan keluarga,” imbuhnya.

Sekarang ini perburuan mengenai perangnya dan tahun depan terkait kepulangan yang menceritakan Sudirman menyudahi perang gerilya.

Diambil kata Perburuan karena dianggap kata yang lebih santun daripada penyekapan atau yang lainnya. Perburuan juga menggambarkan Sudirman yang dikejar oleh Belanda.

Mengulas sedikit cerita dalam sosiodrama ini, Trias menerangkan Pemerintahan Indonesia sedang mengalami masa transisi dimana Soekarno diamankan ke Jogja sehingga Pemerintahan dalam posisi terguncang saat itu.

Untuk mempertahankan kemerdekaan Soekarno dalam posisi terpojok perlu orang yang dipercaya untuk menjaga kedaulatan bangsa dan orangnya itu adalah Sudirman.

Makanya Belanda itu menganggap Sudirman sebagai penjajah yang perlu diburu, makanya judulnya perburuan.

Lanjut Trias, kita ingin menyampaikan pesan, Sudirman itu Jendral yang sudah sakit parah tapi dia ingin bertanggung jawab sebagai jendral.

Sudirman boleh sakit namun Panglima Perang tidak boleh sakit. Kita ingin generasi penerus bangsa ini mengilhami sosok Sudirman, apapun yang bisa dikerjakan untuk NKRI harus dikerjakan. Tidak boleh beralasan sakit ataupun alasan apapun.

Kalau sudah di hati, NKRI harga mati dan tidak bisa digantikan dengan apapun, tandasnya.(ham)