Dokumen Perubahan Perencanaan Proyek RSUD Ploso Belum Selesai

Papan proyek pembangunan gedung di RSUD Ploso Jombang

JOMBANG, KANALINDONESIA.COM :Pembangunan gedung rawat inap lantai II RSUD Ploso, Jombang Jawa Timur, meski sudah berjalan pada tahap pemasangan tiang pancang. Namun hingga kini dokumen perubahan pelaksanaan proyek belum selesai dikerjakan.

Proyek yang menelan anggaran 9,4 milyar tersebut, sempat mengalami keterlambatan, hingga dua bulan lamanya. Hal ini dikarenakan adanya perubahan pelaksanaan yang tidak sesuai dengan dokumen perencanaan awal.

Menurut keterangan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) RSUD Ploso, Heru Purwanto, adanya perubahan pelaksanaan tersebut, dikarenakan tiang pancang yang direncanakan awal tidak memenuhi standar SNI.

”Kemarin  sudah selesai, lalu kita bahas dengan PPK dan pelaksana ternyata masih ada bagian yang belum dimasukkan, sehingga harus dirubah lagi,” ujar Heru, Rabu (4/9/2019).

Selain itu, Heru mengaku sudah mewanti-wanti pihak pelaksana agar segera menuntaskan dokumen perubahan pelaksanaan termasuk anggaran. ”Karena masih ada perubahan, sehingga belum bisa kita pastikan anggarannya,” katanya.

Saat disinggung dimanakah dokumen perubahan pelaksanaan tersebut. Heru menjelaskan bahwa dokumen itu masih dalam proses pengerjaan di tim ahli teknis struktur bangunan.

”Untuk dokumen perubahan masih ditenaga ahli, katanya dalam minggu ini rampung, saya juga terus tanyakan,” tegas Heru.

Selain itu, Heru berharap dokumen hasil perubahan perencanaan bangunan, bisa secepatnya selesai. ”Saya juga butuh dokumen itu, agar segera bisa saya rapatkan. Nanti kami cermati bersama,” ungkapnya.

Perlu diketahui, jika mengacu pada dokumen perencanaan awal, tiang pancang menggunakan spek K250. Namun setelah perubahan pelaksanaan proyek yang belum rampung dikerjakan, tiang pancang menggunakan K600.

Terpisah, manajer pelaksana proyek pembangunan gedung rawat inap lantai 2 RSUD Ploso dari PT Anggaza Widya Ridhamulia, Topan Dewa membenaran, bahwa ada perubahan jenis tiang pancang, dari awal rencana K250 berubah ke K600. ”Kalau saya melihat, dari mungkin human eror saja, kesalahan ketik. Karena memang kalau SNI itu K600, sementara jenis K250 tidak,” bebernya.

Masih menurut penjelasan Topan, dikarenakan administrasi pada pekerjaan pemerintahan ketat, sehingga penting dilakukan perubahan. ”Misal ada kesalahan seperti itu harus dibenarkan, kalau kita paksa seperti itu malah menyalahi aturan, sehingga ada pembenaran,” terangnya.

Disinggung kemungkinan membengkaknya anggaran proyek, Topan menolak memberikan komentar. ”Mohon maaf, kalau terkait penghitungan anggaran, itu bukan wilayah saya. Saya di wilayah pelaksana di lapangan, kalau terkait penghitungan anggaran silahkan tanya ke kantor,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pelaksanaan pembangunan gedung rawat inap lantai II RSUD Ploso, sempat mengalami keterlambatan. Lantaran, adanya perubahan pada pelaksanaan pengerjaan proyek. Dimana pada dokumen perencanaan awal tiang pancang tidak standar SNI, sehingga dirubah ulang menjadi sesuai standart SNI.(elo)