Dibalik Penanaman Pohon Oleh Presiden yang Pecahkan Rekor Dunia, Menyisakan Duka Bagi Masyarakat

Lahan milik warga yang digunakan untuk menanam
Lahan milik warga yang digunakan untuk menanam

KANALINDONESIA.COM, TUBAN :Dibalik penanaman pohon yang dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang memecahkan rekor dunia menyisakan sejumlah kekecewaan bagi masyarakat sekitar.

Pasalnya warga yang ikut menanam sejumlah 5.500 dijanjikan oleh panitia untuk di berikan uang sejumlah Rp 25000,- per orangnya, namun hingga berita ini di unggah panitia belum membayar pada para peserta tanam pohon bersama Presiden yang pecahkan rekor dunia.

Belum lagi lahan yang digunakan untuk menanam pohon diduga tidak memiliki izin pemakaian lahan dari pemilik lahan. M. Ali Baharudin selaku warga masyarakat sekitar yang diberikan kuasa memanfaatkan lahan tersebut oleh warga menuturkan bahwa, penanaman pohon yang dihadiri Presiden tersebut bekerjasama dengan koperasi produsen anugrah bumi hijau (Koprabuh).

Penanaman pohon ini dilakukan diatas lahan milik warga dan pemerintah desa dengan luas sekitar 23 hektar (ha) yang berada di Desa Tasikharjo dan Sumurgeneng, Kecamatan Jenu.

“Lahan sebagian yang dipakai untuk menanam kemarin adalah lahan milik warga. Tetapi panitia tidak memiliki izin pemakaian lahan dari pemilik lahan,” ungkapnya.(02/12/2016).

Masih menurut M. Ali Baharudin, pemilik lahan tidak pernah diajak komunikasi atau dimintai izin. Luasan lahan milik warga yang yang dipakai atau digunakan menanam sangat bervariasi dan berada di lokasi Sugihan sekitar 5 ha yang di gunakan kegiatan menanam kemarin oleh presiden.

“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Dilain sisi kami memandang kegiatan ini sangat positif, tetapi diproses pelaksanaannya kami merasa dirugikan sebagai pihak pemilik lahan,” keluhnya.

Lanjut Ali, pihaknya sebagai masyarakat berharap panitia yang bertanggung jawab atas kegiatan tersebut segera menyelesaikan masalah ini, hal ini dikarenakan lahan itu sudah di gunakan (red: ditanami) secara otomatis warga tidak bisa memanfaatkan untuk usaha tani.

“Kita menuntut kepada pihak panitia atau yang bertanggungjawab dalam kegiatan kemarin,  karena secara sah dan sesuai ketentuan, kita pemilik lahannya. Supaya ada kejelasan pula,” tegasnya.

Wala Adm KPH Tuban Muchlishin Sabarna menjelaskan bahwa, dalam penanaman pohon kemarin yang dilakukan oleh Presiden tersebut tidak berada di lahan Perhutani KPH Tuban. Karena Perhutani sendiri dalam rangka Hari Menanam Pohon Indonesia tahun 2016, mempunyai kegiatan sendiri dengan menanam secara serentak seluas 18,2 ha atau sebanyak 20.800 pohon.

“Penanaman kemarin tidak berada di lahan perhutani, Perhutani menanam sendiri dengan jenis tanaman pohon jati, kesambi, dan mangga,” pungkasnya.(elo)