Hentikan Kasus Dugaan Pembunuhan, Polres Ponorogo Dipraperadilankan

PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Polres Ponorogo di Praperadilankan keluarga korban dugaan pembunuhan yang terjadi di Dusun Warung, Desa Bedi Wetan, Kecamatan Bungkal Ponorogo, Jawa Timur.

Pihak kepolisian telah menghentikan kasus ini pada 1 Desember 2018. Sedangkan kejadian yang merenggut nyawa Mulyono terjadi pada Februari 2018 silam.

Melalui tim kuasa hukum, keluarga korban tidak bisa menerima begitu saja keputusan Polisi. Mereka menempuh jalur hukum agar penyidikan kasus tersebut bisa dibuka kembali dan dilanjutkan penyidikanya.

“Tetap kami akan berupaya untuk membuka jalur konstitusi, yaitu menggugat melalui pra peradilan terhadap kepolisian yang telah melakukan penghentian penyidikan agar kasus bisa dibuka kembali dan penyidikan  dilanjutkan,”ucap Didik Hariyanto, kuasa hukum keluarga korban kepada awak media

Dalam kasus ini Didik menyampaikan bahwa unsur pasal 170 mestinya sudah bisa diterapkan.

“Namun karena kurang keseriusan dari penyidik di dalam melakukan penyelidikan maupun penyidikan, sehingga dikatakan sebagai tidak cukup bukti. Dan perlu diingat bahwa kepolisian telah menghilangkan 1 alat bukti yaitu berupa pakaian korban pada saat terjadinya pembunuhan. Sampai saat ini pada saat pemeriksaan atau penyidikan itu tidak pernah ada, sehingga kami merasa perlu untuk dibuka kembali,”terang Didik.

Selain itu, Didik juga mempertanyakan soal serpihan kayu pintu dari rumah Marlohi (tempat kejadian perkara), yang justru diambil penyidik untuk dijadikan barang bukti.

Sidang praperadilan atas gugatan keluarga korban melawan Polres Ponorogo saat ini sudah memasuki tahap kesimpulan, dan Hakim Pengadilan Negeri (PN) Ponorogo, Albanus Asnanto akan membacakan keputusan atas gugatan ini pada Senin(14/10/2019) mendatang.

Sementara itu AKBP Nurul Anaturoh dari Bidkum Polda Jatim yang mendampingi tim Subbakum Polres Ponorogo saat ditemui awak media di gedung Pengadilan Negeri Ponorogo menyampaikan, “kami selaku kuasa hukum dari termohon, yaitu Kapolres Ponorogo berkeyakinan bahwa segala tindakan kepolisian yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur hukum, begitu diatur dalam KUHAP maupun dalam Perkap14 tahun 2012 tentang manajemen penyidikan tindak pidana. Jadi dengan pasti dalam proses penyidikan sudah melakukan pemeriksaan, ada beberapa saksi, baik fakta maupun ahli. Itu yang membuat keyakinan kami bahwa kematian korban bukan karena perbuatann yang lain, akan tetapi karena penyakit jantung,”ucap AKBP Nurul Anaturoh.

Dikatakan AKBP Nurul,”sebenarnya sudah kita sampaikan pada jawaban kita, maupun di duplik kita, bahwa namanya pembuktian itu barang bukti harus yang ada kaitanya langsung dengan tindak pidana atau dugaan tindak pidana yang dilakukan, artinya yang mempunyai hubungan langsung, kalau barang itu tidak mempunyai hubungan langsung dengan dugaan tindak pidana tersebut sudah diatur dalam pasal 39, yang dilakukan penyitaan itu barang yang berkaitan langsung dengan tindak pidana,”tegasnya.(red)