Seks Bebas Dominasi Penyebab Penyebaran HIV/AIDS di Tulungagung

TULUNGAGUNG, KANALINDONESIA.COM: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung menyatakan kasus HIV/AIDS yang setiap tahun kian bertambah selama 13 tahun terakhir ini didominasi akibat hubungan seks bebas.

Tak tanggung-tanggung dari sejumlah 2.543 kasus, 97 persennya disebabkan melalui hubungan seks bebas.

“Tak bisa dipungkiri, perilaku seks bebas mendominasi penyebaran HIV/AIDS,” kata Kasi Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Tulungagung Didik Eka, Jumat (18/10/2019).

Sedangkan tiga persen sisanya lanjut Didik, dua persen diturunkan dari ibu yang positif HIV/AIDS ke bayinya. Kemudian yang satu persen disebarkan melalui penggunaan jarum suntik yang tidak steril.

“Jadi di Tulungagung hanya ada tiga hal itu cara penularan virus HIV,” imbuhnya.

Didik menjelaskan, sebenarnya penularan virus HIV tidaklah semudah apa yang dibayangkan. Menurutnya, setidaknya harus memenuhi empat hal yang dikenal dengan istilah ESSE. E yang pertama berarti exit (keluar), sufficient (cukup), survive (virus dalam keadaan hidup), dan enter (masuk).

“HIV keluar dari tubuh seseorang penderita melalui empat cairan  tubuh (darah, sperma, vagina, ASI) harus dalam jumlah yang cukup, dan dalam keadaan hidup masuk ke tubuh  orang lain,” jelasnya.

Artinya lanjut Didik, HIV tidak akan menular melalui gigitan nyamuk, bersalaman atau bersentuhan, berpelukan/berciuman, menggunakan peralatan makan/minum, tinggal serumah, dan menggunakan jamban yang sama.

“Nah di Tulungagung ternyata mayoritas cara penularannya karena hubungan seks bebas,” ujarnya.

Didik melanjutkan, sejauh ini memang belum ditemukan obat untuk menyembuhkan seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS. Namun bukan berarti HIV/AIDS tidak bisa dicegah. Menurutnya, pencegahan penularan melalui kontak seksual seperti setia dengan satu pasangan, atau berhubungan seks dengan kondom.

Untuk pencegahan penularan melalui darah yakni, penggunaan jarum suntik yang steril, transfusi darah dengan darah yang telah disteril. Pencegahan penularan dari ibu ke anak yakni, ibu tida memberikan ASI secara langsung kepada bayinya dan ibu hamil dengan HIV positif merencanakan proses kelahirannya.

“Yang tak kalah penting yakni pencegahan melalui pendidikan,” ujarnya.

Masih menurut Didik, bagi seseorang yang telah terinfeksi HIV/AIDS diwajibkan untuk mengkonsumsi ARV. Terapi ini untuk memperlambat perkembangan virus HIV berkembang biak dan menyebar di dalam tubuh.

“Jadi sebelum terlambat, sebaiknya setiap orang mengikuti tes HIV.” katanya.

Didik menambahkan, dalam kesempatan ini pihaknya ingin merubah mindset masyarakat. Menurutnya, HIV bukanlah akhir dari segala-galanya. Setidanya ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir penularan HIV. Yakni, temukan pasien HIV secepat mungkin, obati segera dengan ARV, dan pertahankan pengobatan supaya kualitas hidup ODHA terjaga.