BPBD Ponorogo Bersama Basarnas Trenggalek Berhasil Evakuasi Dua Bersaudara Yang Meninggal dalam Sumur

PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: BPBD Kabupaten Ponorogo dan Basarnas Trenggalek berhasil mengevakuasi jenazah Boimin dan Miskun warga Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Ponorogo yang meninggal saat menguras sumur gali milik Miskun, Minggu(27/10/2019).

Jenazah Boimi berhasil diangkat dari dasar sumur sekira pukul 16.30, selang 30 menit kemudian tim gabungan BPBD Ponorogo dan Basarnas Kabupaten Trenggalek berhasil mengevakuasi jenazah Miskun.

Kejadian bermula saat Miskun yang turun ke dalam sumur dengan menggunakan tangga yang terbuat dari bambu.

Sesampainya di dasar sumur korban sempat berteriak minta tolong. Mendangar teriakan adiknya, Boimin kemudian turun ke dalam sumur untuk menolong Miskun. Setelah sampai di dasar sumur Boimin berusaha mengangkat tubuh adiknya untuk di bawa ke atas, akan tetapi baru menginjakan kaki di anak tangga pertama, Boimin tidak kuat dan terjatuh, yang akhirnya kedua korban meninggal dunia di dalam sumur, diduga menghirup gas beracun yang ada di dalam sumur.

Mengetahui hal tersebt, dua rekan korban yang masih diatas segera berteriak minta tolong ke warga dan melaporkan kejadian tersebut kepada perangkat desa dan diteruskan ke Polsek Sawoo.

Dari hasil pemeriksaan luar yang dilakukan tim Identifikasi Polres Ponorogo dan  petugas kesehatan Puskesmas Sawoo didapati Boimin menderita luka sobek pada bagian tumit kaki sebelah kiri dan luka robek pada kepala bagaian atas, sedangkan Miskun menderita luka robek di kepala bagian belakang dan juga luka babras pada bagaian punggun.

“Berdasarkan keterangan dari saksi-saksi korban meninggal dunia pada saat menguras air di dalam sumur dengan kedalaman sekitar 9 meter.Dan diduga kedua korban menghirup gas beracun yang berada di dalam sumur tersebut,”ucap Aipda Anton Setyo Yuliantoro.

Sementara itu, luka luka yang ada di tubuh korban disebabkan karena korban berusaha naik menggunakan tangga yang terbuat dari bambu kemudian namun korban tidak kuat dan selanjutnya  korban terjatuh hingga membentur batu dan gorong gorong sumur.

Atas permintaan keluarga yang disaksikan oleh kepala desa, keluarga menolak untuk dilakukan otopsi dan menerima kejadian tersebut sebagai musibah.