Polres Kendal Gelar Doa Bersama dan Deklarasi Kebangsaan

Penandatanganan dan Deklarasi Kebangsaan FKUB.

KENDAL – KANAL INDONESIA. COM

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kendal KH Ubaidillah mengajak semua tokoh agama dan masyarakat untuk menjaga kerukunan dan menjaga wilayah Kendal yang kondusif, tenteram dan damai dan saling menyayangi.

‘’Semua agama tidak mengajarkan kekerasan, saling memusuhi, maupun memecah belah,’’ katanya pada acara Doa Anak Bangsa dan Deklarasi Kebangsaan yang digelar di lapangan tenis indoor Polres Kendal, Minggu (28/10) malam.

Deklarasi diikuti tokoh agama, tokoh masyarakat, ulama, dan jajaran Polri di Polres Kendal. Ubaidillah menambahkan, masyarakat jangan salah memahami makna dari NKRI, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945 maupun Pancasila.

‘’Warga supaya hidup rukun dan saling gotong royong dengan baik. Jangan sampah salah dalam memahami NKRI,’’ungkapnya.

Baca:  Jual 600 Wanita Cantik di Facebook, 2 Muncikari 1 Mami Diamankan Satreskrim Polrestabes Surabaya

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kendal, KH Asroi Thohir, mengatakan, cinta tanah air sebagian dari iman. Indonesia mempunyai sumber kekayaan yang luar biasa, sehingga banyak bangsa lain tertarik dengan Indonesia.

Maka sebagai tanda cinta kepada tanah air, harus merawat dan mengelola dengan baik yaitu dengan menciptakan situasi aman. Para ulama bersama umaro bersama-sama untuk menjaga tanah air.

‘’Tingkatkan solidaritas dan kebersamaan untuk menjaga. Perbedaan harus disikapi dengan baik. Islam itu tidak pernah menyakiti sesama,’’ tuturnya.

Kapolres Kendal AKBP Hamka Mappaita, mengucapkan terima kasih kepada tokoh agama dan berbagai elemen masyarakat yang menjaga situasi kondisi, sehingga pelaksanaan pemilu sampai pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI berjalan aman dan lancar.

Baca:  Dua Hari Operasi, Polres Ponorogo Amankan 149 Balon Udara

‘’Tahapan pemilu presiden sangat panjang dan bisa berjalan lancar. Semua itu tidak lepas dari peran masyarakat yang turut menciptakan situasi kondusif,’’ katanya.

Hamka menambahkan, ancaman ke depan adalah paham radikalisme yang bertentangan dengan pemerintah. Hal itu supaya menjadi perhatian bersama. Benih-benih radikalisme harus diantisipasi dan jangan dibiarkan.

‘’Kita harus menjaga supaya generasi penerus tidak lupa jatidiri sebagai bangsa Indonesia dan sebagai umat Islam. Jangan sampai generasi muda gagal paham dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,’’ pungkasnya.(eko)