Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, dr. Reisa Broto.

JAKARTA, KANALINDONESIA.COM: Kementerian Kesehatan sudah mengizinkan ibu hamil dan menyusui ikut vaksinasi. Namun ada beberapa hal yang tetap harus diperhatikan bagi ibu hamil.

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Dokter Reisa Broto, memaparkan tips bagi ibu hamil yang ingin ikut vaksinasi.

Pertama, konsultasikan keinginan tersebut kepada dokter kandungan atau bidan. Kedua pastikan semua prasyarat dasar dipenuhi.

“Sebelum pergi ke pos vaksin setelah mendaftar, pastikan tidak demam atau suhu tubuh di bawah 37,5 derajat celcius dan tensi darah di bawah 140/90 MMHG,” ujar dr. Reisa dalam webinar zoom yang diselenggarakan KPCPEN (Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional), Rabu (4/8/2021).

Ia menambahkan, bagi ibu hamil, usia kehamilan minimal 13 minggu atau masuk trimester kedua karena kandungan sudah semakin kuat. Rata-rata berat bayi dalam kandungan sudah mencapai 42 gram dengan panjang mencapai 9 cm, tulang dan tengkoraknya semakin mengeras, dan kemampuan mendengarnya ikut meningkat.

Begitu juga kemampuan otak sudah berkembang di trimester pertama, mungkin bisa merasakan tendangan dan detak jantung berdebar serta bisa melihat berbagai ekspresi melalui pemeriksaan USG.

“Indah ya ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang luar biasa,” katanya.

Karenanya, menurut dr. Reisa, ibu hamil dianjurkan vaksinasi setelah kandungan berusia 13 minggu. “Info lebih lanjut di kemkes.go.id atau 119 ext 9,” katanya.

Dalam kesempatan itu, dr. Reisa juga menerangkan bagi yang belum punya Nomor Induk Kependudukan atau NIK seperti kelompok penyandang disabilitas, masyarakat adat, penghuni lembaga pemasyarakatan, Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), dan Pekerja Migran Indonesia Bermasalah (PMIB) bahwa pelayananvaksinasi Covid-19 dapat dilakukan bersama-sama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat terlayani kebutuhan vaksinasinya dan kebutuhan NIK pun dapat terpenuhi. “Makin mudah kan? Memang itu tujuan pemerintah membuka akses vaksinasi seluas-luasnya,” tutur dr. Reisa.

Ia juga mengungkapkann, tujuan organisasi kesehatan dunia (WHO) adalah setiap negara untuk memvaksinasi setidaknya 70% pada pertengahan tahun depan. Begitu juga dengan pemerintah, bahkan berambisi dapat bisa memenuhi target ini sebelum pertengahan tahun depan.

“Saat ini yang terpenting adalah memastikan semua saudara saudari sebangsa mendapatkan vaksin Covid-19. Bukan bagaimana mendapatkan suntikan tambahan. Bukan saatnya mencari cara mendapatkan suntikan dosis booster,” katanya.

Menurut dr Reisa, tidak elok kalau hanya memikirkan prioritas diri pribadi atau kelompok saja. Lebih baik fokus saling bantu meratakan vaksin untuk semua
sasaran di Indonesia. Masih 70 persen lebih dari sasaran vaksinasi yang belum
mendapatkan vaksin.

“Apakah ideal kalau banyak yang belum dapat lalu kita memikirkan suntikan
berikutnya?,” ujar dr. Reisa mengingatkan.

Dia juga menegaskan, dalam sejarah imunisasi dan vaksinasi, individu yang
disuntik berkali-kali pun tidak akan mampu menghentikan wabah. Yang harus terjadi adalah pembentukan imunitas bersama sebagaimana mengalahkan wabah cacar dan polio dulu yang saat ini sudah tidak ada lagi di Indonesia.

“Bukan karena ada satu orang yang divaksin berkali-kali, tapi karena puluhan juta orang divaksin bersama-sama dalam waktu yang singkat. Kunci sukses vaksinasi adalah merata dan setara untuk melindungi sesama. Begitu juga prinsip setelah divaksin Covid-19, kita harus tetap taat dan disiplin prokes untuk lindungi sesama. Disiplin prokes, dukung 3 T dan sukseskan vaksinasi bersama-sama,” pungkas dr. Reisa. @Rudi

---------Ikuti Chanel youtube: KanalindonesiaTv ---------- ----------------------------------------------------------------

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here