Kopi Wine, Kopi Bajing, Varian Baru Karya Sang Politisi Pecinta Kopi

SURABAYA KANALINDONESIA.COM – Bagi anda penyuka kopi, mimum kopi aroma kopi atau susu mungkin sudah biasa. Pernahkah anda berpikir bahwa ternyata ada kopi beraroma wine ?

Kalau belum, anda perlu mencobanya dengan cara mengajak minum kopi rasa wine ini dengan anggota DPRD Jatim asal Malang Agus Dono Wibawanto. Lho kok ? Jangan salah, bukan untuk minta ditraktir, tapi karena politisi Demokrat Jatim inilah yang menemukan dan mengembangkan jenis minuman kopi rasa wine.

Ditemui disela sela tugansya sebagai anggota DPRD Jatim, pria yang akrab disapa Gus DON ini mengaku mempunyai ide untuk memunculkan sebuah kopi varian baru yaitu kopi wine. Idenya juga berawal ketika ia duduk di Komisi B DPRD Provinsi Jatim periode lalu, saat  melaksanakan reses dan mendapatkan banyak keluhan dari
masyarakat. Diantaranya adalah keluhan soal harga dan melimpahnya panen kopi.

Untuk membantu masyarakat, Agus Dono membeli kopi-kopi dari para
petani dengan harga lebih tinggi dari harga pasar ketika itu. Namun,
setelah kopi terkumpul banyak, Agus malah menjadi bingung mau
dikemanakan kopi kopi itu. Agus Dono pun mencari berbagai referensi
dan akhirnya menemukan ide untuk menciptakan kopi wine dan beberapa
jenis kopi lainnya.

Kopi wine, namanya terdengar unik, mengingatkan pada nama minuman
beralkohol yang merupakan hasil fermentasi buah.  Di dunia minuman,
wine termasuk minuman berkelas yang harganya bisa cukup mahal.

Menyebut nama KOPI WINE, jangan berfikiran dulu jika kopi ini adalah kopi yang mengandung alkohol. Kopi ini sama sekali tidak mengandung alkohol dan tidak membuat para penikmatnya mabuk kepayang seperti setelah minum
minuman beralkohol. Kopi wine adalah kopi yang proses pembuatannya
dengan cara fermentasi seperti layaknya memuat wine. “Hanya prosesnya
saja, seperti proses pembuatan wine yaitu melalui fermentasi, sehingga
kopi ini diberi nama kopi wine. Awalnya saya ingin menyebutnya dengan
kopi anggur, tapi nama anggur kurang gereget,” kata Agus Dono, sang
pencipta kopi wine.

Agus Dono yang saat ini  berada di Komisi C DPRD Provinsi Jatim
mengatakan bahwa kopi wine memiliki cita rasa yang sangat tinggi dan
tidak kalah dengan kopi lainnya termasuk kopi luak. Pembuatan kopi
wine juga melalui proses yang cukup panjang, bisa memakan waktu tiga
bulan lebih. “Prosesnya cukup panjang dan ribet,” katanya.

Proses dimulai dari pemilihan buah kopi yang masih berbentuk cerry.
Buah kopi yang dipilih adalah buah yang kulitnya sudah benar-benar
merah. “Kulit kopi itukan mengandung glukosa, dari kulit kopi ini
kemudian difermentasikan,” jelas politisi dari Malang ini. Dia
menambahkan, ada tiga jenis kopi yang digunakan untuk kopi wine ini,
yaitu Arabica, delebrica dan robusta.

Kemudian, buah kopi yang masih ada kulitnya ini dijemur, setelah itu
dimasukkan dalam kantong plastik sampai terjadi fermentasi dari
kulitnya. Setelah  terjadi proses fermentasi, kopi dikeluarkan dan
ditiriskan selama sehari. Keesokan hari, kopi kembali dimasukkan ke
dalam kantong plastik untuk menjalani proses fermentasi lagi. Begitu
terus dilakukan hingga tiga bulan lamanya.

Proses fermentasi itu juga akan berberda ketika kulit kopinya lebih
tipis, sebab tidak bisa sebagus kopi yag kulitnya tebal. Jika kulitnya
tipis, maka perlu dicuci dan dalam kondisi basah dilakukan proses
fermentasi seperti diatas. “Ini prosesnya juga beda dan agak lebih
rumit,” tandas Agus Dono.

Setelah proses fermentasi selesai, kemudian dilakukan pemisahan antara
kopi dengan kulit kopi yang terfermentasi tadi. Dari situlah baru
dilakukan pengeringan terhadap biji kopi. Proses penggorengan juga
dilakukan secara khusus dengan menggunakan suhu hingga 200 ° C.
Demikian juga dengan proses penghalusan kopi. “Ada yang minta kopi
halus ada yang minta agak kasar, sesuai dengan permintaan,” katanya.

Nah, dari proses yang cukup panjang itu menghasilkan kopi yang bercita
rasa tinggi. “Banyak orang punya kopi, ada kopi lanang, kopi
fermetasi, dan kopi luwak, terus kita ujikan dipertadingan di Malang
Kabupaten,  itu rata-rata terenak punya kita,” tandasnya sambil
menambahkan bahwa begitu bungkus kopi wine dibuka, maka aromanya
langsung keluar, aroma wangi dari fermentasinya.

Perjalanan proses pembuatan kopi wine yang cukup panjang ini serasa
terayar dengan kualitas yang langsung disambut antusias oleh pasar.
Saat Agus Dono sudah menerima permintaan dari Malaysia dan China.
Mereka sudah meminta penetapan harga dan bahkan sudah tidak sabar
untuk segera bisa memasarkan kopi wine di Negara itu.

Kalau yang di Malaysia, lanjut Agus Dono, meminta merek sesuai dengan
merek kita. Sedangkan yang China meminta dalam bentuk kosong tanpa
merek, mereka mereka akan membuat dengan merek mereka. “Saya belum
bisa menetapkan harga untuk mereka, ini saya belum pulang baru dari
umroh,” katanya saat ditemui di DPRD Provinsi Jatim.

Lantas bagaimana dengan permintaan dari dalam negeri, Agus mengatakan,
saat ini kopi wine sudah dipasarkan di tingkat lokal. Antusias para
pecinta kopi lokal juga terbilang cukup bagus, bakan diantara mereka
ada yang menanyakan kenapa belum ada café khusus menjual kopi wine
atau jenis jenis kopi lagi hasil ciptaan Agus Dono dengan merek Don
Kope ini.

Lantas bagaimana dengan harga?. Kopi wine ternyata tidak semahal kopi
luak meski prosesnya juga cukup panjang. Di pasar lokal kopi luak
untuk 100 gram bisa seharga Rp 210 ribu. Sedangkan untuk kopi wine
cuma jual Rp 50 ribu. Kalau satu gelas kopi luwak jual Rp 50 ribu,
saya jual Rp 25 ribru. “Memang niat awal saya bukan komersil tapi
untuk mengedukasi bukan menjualnya,” jelasnya.

“Sebenarnya saya masih punya beberapa varian kopi lainnya, diantaranya ada kopi bajing,” katanya.

Perbedaan antar kopi wine dengan kopi bajing adalah pada prosesnya,
jika kopi wine prosesnya melalui fermentasi dengan tangan manusia,
tapi kalau kopi bajing menggunakan perantaran binatang bajing. Agus
Dono menjelaskan, prosesnya pun berbeda dengan kopi luwak dimana biji
kopi dimakan lalu keluarkan melalui kotoran. Sedangkan kopi bajing
tidak sampai keluarkan, namun melalui proses gigitan bajing.

“Hasil yang dibuat bajing tadi cukup luar biasa, diujikan Di Balai
Tanaman Jember sekornya 83,75, tertinggi dan special, itu enak sekali
dan itu langka, dalam setahun satu ton pun susah, jenis kopinya bisa
arabica, deleberika dan robusta. Itu perlakuan dari binatang,”
tandasnya.

Agus Dono berharap nantinya akan melakukan edukasi untuk kelanjutan
produksi kopi tersebut. Edukasi dilakukan mulai dari bagaimana proses
awalnya hingga proses menyajian kopi untuk dihidangkan ke para
penikmat kopi. Nang