Gelar Tradisi Tiban, Warga Pucangan Tulungagung Berharap Segera Turun Hujan

TULUNGAGUNG, KANALINDONESIA.COM: Puluhan warga Desa Pucangan, Kecamatan Kauman, Tulungagung menggelar tradisi Tiban di lapangan bola voley setempat dengan harapan, agar hujan segera turun dan musim kemarau panjang ini segera berakhir, Minggu(17/11/2019).

Berdasarkan pantauan, dalam ritual Tiban tersebut dua warga yang hanya memakai celana tanpa baju atasan memasuki arena sambil membawa cambuk yang terbuat dari lidi aren yang sudah dianyam. Sebelum dimulai, masing-masing pemain diminta saling berjabat tangan oleh wasit yang juga berada di dalam arena.

Kemudian keduanya langsung berjingkrak mengikuti irama musik kentrung yang mengiringi acara tersebut. Peserta saling cambuk secara bergantian. Masing-masing diberi kesempatan sebanyak tiga kali.

Mereka hanya diperbolehkan mencambuk pada bagian punggung, perut, tangan, dan kaki. Saat mencambuk pun mereka harus menunggu posisi lawannya siap dengan tangkisan cambuk serupa.

Saat kedua peserta telah menyelesaikan tiga kesempatan untuk mencambuk lawannya, salah satu peserta harus rela keluar arena dan diganti dengan penantang yang baru. Hal ini terus dilakukan hingga menjelang magrib.

Meski kulit punggung para peserta mengelupas hingga mengeluarkan darah, namun mereka tetap kompak dan tidak ada dendam antar peserta.

Salah satu panitia penyelenggara yang juga turut dalam ritual Tiban, Misnan (50) mengatakan, riual ini sengaja dilakukan selain untuk melestarikan seni budaya, juga untuk meminta turun hujan. Pasalnya, saat ini sumber air di daerahnya sudah mulai mongering.

Selain itu, karena mayoritas warga bermata pencaharian sebagai petani maka air hujan sangat dibutuhkan untuk mengawali tanam jagung.

“Sebenarnya sekarang sudah mulai tanam, Karena hujan tak kunjung datang akhirnya terpaksa mundur,” katanya.

Misnan melanjutkan, pihaknya yakin pasca digelarnya ritual Tiban ini musim hujan akan segera datang. Karena, menurut perhitungannya saat ini sudah masuk musim penghujan. Beberapa hari yang lalu sebenarnya hujan juga sudah mulai turun dan cuaca juga sudah mulai mendung.

“Selain untuk meminta hujan kami juga ingin menguri-nguri (melestarikan-red) kebudayaan,” imbuhnya.

Misnan menambahkan, dalam ritual ini pihaknya menyiapkan 200 cambuk. Ritual ini juga dipimpin oleh seorang wasit dan satu orang asisten wasit. Jika aturan dilanggar, maka peserta akan di diskualifikasi.

“Bagi yang mengalami luka-luka karena cambuk, maka mereka hanya mengobatinya dengan ludah. Peserta percaya keesokan harinya luka tersebut sudah mengering dan sembuh,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Karangkates Malang Musripan mengatakan, puncak musim penghujan akan terjadi pada bulan Januari — Februari tahun depan. Namun demikian, saat ini di sejumlah kota/kabupaten di Jawa Timur (Jatim) sudah ada yang turun hujan.

“Di Malang, Ngawi, Kediri bahkan, Tulungagung juga sudah hujan meski intensitasnya rendah,” katanya.

Musripan melanjutkan, namun demikian di beberapa kabupaten/kota cuaca juga sudah mulai mendung. Pihaknya berharap agar masyarakat bersabar menunggu puncak musim penghujan.