Qnet Ciptakan Sistem Keuangan untuk Mengelabui PPATK, Kapolres Lumajang: Pelaku Money Loundring Selalu Sembunyikan Asal-Usul Transaksi Keuangan Untuk Hindari Pajak

LUMAJANG, KANALINDONESIA.COM: Kenapa PT QN International Indonesia yang biasa disingkat PT. QNII tidak pernah pempublish nomor rekeningnya..?!, bagaimana caranya para leader QNet di bayar oleh perusahaan…?! dan kemana para member baru mentransfer uangnya kalau rekening PT QNII tidak mereka ketahui…?!,

Dalam pernyataan nya, Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban SH, SIK, MH, MM menjelaskan,“ternyata perusahaan QNet Limited induk usaha dari PT. QNII di Indonesia menciptakan sistem lalu lintas keuangan yang sedemikian rupa untuk menghindari pajak dan untuk menyembunyikan transaksinya agar tidak mudah di ketahui oleh PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan). PPATK adalah lembaga independen yang dibentuk dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang di Indonesia” ucap Arsal yang dibesarkan di kota kecil di Kalosi kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan ini”

“Perusahaan QNet Limited yang merupakan sister Company dari Qi Ltd menciptakan sistem E Card singkatan dari Electronic Card. E Card adalah system uang electronic yang dikeluarkan Qnet untuk transaksi keuangan. Komisi yang dibayarkan untuk member yang mencapai keseimbangan 3 kiri dan 3 kanan $225 ini dapat ditarik melalui E Card,”ujar AKBP  Arsal yang merupakan lulusan S3 Universitas Padjajaran Bandung program studi hukum Bisnis.

Lebih lanjut dijelaskanya,”hasil komisi member QNet diberikan dalam bentuk E Card yang nantinya digunakan untuk transaksi di E Store QNet dengan membeli produk bagi member yang baru gabung. Sehingga uang yang di peroleh dari member baru yang akan gabung disetorkan atau diberikan kepada senior membernya, nantinya senior member tersebut akan mencari senior membernya lagi yg memiliki E Card untuk transaksi di EStore. member yang memiliki E Card juga tidak semuanya, hanya member yang sudah menjadi Leader yaitu yang sudah memilki setidaknya 10 circle. setiap 1 circle sudah memilki 3 member di kaki kanan dan 3 member di kaki kiri, berarti kalau 10 Circle sudah memiliki setidaknya 30 member di kaki kanan dan 30 member di kaki kiri.”

“Jadi uang yang dari member ke rekening penampungan tidak akan masuk ke rekening perusahaan QNet Limited ataupun ke rekening PT QNII di Indonesia, tapi uang diambil langsung oleh leader yang memiliki E Card sebagai pengganti komisi yang didapat,”jelas AKBP Arsal.

“Adapun beberapa perusahaan yang menampung dana member baru yaitu PT Wira Muda Mandiri, PT Amoeba Internasional, PT Galaxi, PT A-Team, dan banyak lagi. sebagian besar dibawah kendali PT Amoeba Internasional. PT Amoeba sendiri merupakan mitra usaha/support system dari PT QNII. sedangkan PT QNII merupakan support system dari QNet limited yang berkedudukan di Hongkong. QNet Limited sendiri berada di bawah Qi group, dimana Qi group adalah perusahaan induknya ( holding company) yang membawahi ratusan perusahaan lain, tapi tulang punggung perusahaannya ada di QNet yang menjalankan sistem binari dalam perdagangannya,”terangnya.

“Komisi yang dibayarkan oleh perusahaan QNet kepada para membernya tidak ada pemotongan pajak penghasilan, demikian pula dengan penjualan tidak ada unsur pajak penjualan.” ujar Arsal dengan penuh penjelasan.

Yang menjadi pertanyaan lagi, perusahaan mana yang membayar komisi kepada membernya, apakah PT QNII atau QNet Limited Sebagai induknya PT QNII..?!

Nah…, pembaca mungkin semakin bingung dengan pola permainan mereka. saya jelaskan lagi kalau PT. QNII tidak pernah membayarkan komisi kepada membernya, kenapa..?! Karena PT. QNII hanya bertindak sebagai perusahaan boneka saja di Indonesia. pembelian member langsung ke portal qnet ltd. Demikianpun komisi dibayarkan oleh QNet Ltd melalui E Card. konsep yang sangat cerdas dalam mengelabui hukum di Indonesia.

Selain menipu banyak masyarakat Indonesia, ternyata QNetpun melakukan penggelapan pajak yang luar biasa.

Kemudian, bagaimana model aliran dananya keluar negeri..?!

Transaksi keuangan QNet dari Indonesia di transfer ke hongkong, kemudian dari Hongkong baru di transfer ke malaysia. Tapi pergeseran uang dari Indonesia ke Hongkong menggunakan model sistem tertentu untuk mengelabui PPATK.

AKBP M. Arsal Sahban kembali menerangkan tentang konsep money loundring, “pelaku money loundring selalu menyembunyikan asal usul transaksi keuangannya sekaligus menghindari pajak. Mereka menciptakan sistem yang sedemikian rupa untuk menghindari terlacak oleh pajak dan PPATK, tapi kami yakin, PPATK akan tetap mampu melacak model transaksi apapun yang mereka lakukan,”bebernya.

“Kami juga sudah berkomunikasi dengan pajak untuk menelusuri penggelapan pajak yang dilakukan oleh PT QNII maupun QNet Limited di indonesia” ungkap Arsal kembali.

Informasi yang diperoleh dihimpun, uang yang diperoleh dari Indonesia dari kegiatan money games QNet mencapai jutaan Dollar perbulannya yang kirim ke Malaysia melalui Hongkong.

Qnet menciptakan paper company di Hongkong untuk menghindari pajak. Hong Kong dan Singapura dikenal sebagai negara surga pajak (tax haven) yang banyak dilakukan oleh perusahaan dalam mendistribusikan kekayaan.

Seperti yang disadur dari mediaindonesia.com yang mengatakan bahwa para ahli mengatakan, Singapura dan Hong Kong telah menyalurkan miliaran dolar ke tax haven. Boston Consulting Group pun memprediksi dua pusat keuangan Asia tersebut akan tumbuh menjadi pusat offshore paling cepat di dunia selama lima tahun ke depan.

“Hong Kong dijadikan tempat yang mudah bagi orang untuk melakukan bisnis, dan sangat mudah untuk melakukan bisnis di sini,” kata Douglas Clark, seorang advokat pada salah satu badan paling besar di Hong Kong, seperti dilansir AFP,

“Namun ketika semuanya menjadi mudah untuk melakukan bisnis, maka mudah (pula) untuk melakukan semua jenis bisnis, baik legal ataupun ilegal,” tegasnya.

Mungkin kita masih ingat bocornya dokumen Mossack Fonseca ke publik. Dokumen yang dikenal sebagai ‘Panama Papers’ itu menyingkap perilaku orang-orang tajir dan berpengaruh dunia menyembunyikan kekayaan mereka di mancanegara.

Skandal Panama Papers, yang diungkap pertama kali oleh media Jerman, Suddeutchsche Zeitung (SZ), juga mengekspos peran kunci yang dimainkan oleh Hong Kong dan Singapura dalam mendistribusikan kekayaan tersebut ke negara surga pajak (tax haven).
Menurut investigasi International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), pihak yang menyebarkan bocoran Panama Papers ke media internasional, kantor cabang Mossack Fonseca di Hong Kong merupakan yang tersibuk di dunia.
Kantor itu membentuk ribuan perusahaan cangkang (shell company), sebagaimana dikutip dari mediaIndonesia.com.

Seperti inilah sistem yang dimainkan oleh induk perusahaan Qnet limited yaitu Qi ltd dengan menciptakan perusahaan cangkang di Hongkong tapi sebenarnya operasional usahannya ada di Malaysia di daerah Petaling Jaya. PT QN International Indonesia hanyalah boneka dari perusahaan QNet Limited.