Tega Setubuhi Anak Tiri, Warga Tulungagung Diamankan Polisi

TULUNGAGUNG, KANALINDONESIA.COM: Polisi mengamankan TW (33) warga Kecamatan Tulungagung pasalnya pengusaha jasa laundry tersebut  tega menyetubuhi anak tiri sebut saja bunga yang masih berumur 15 tahun sejak 4 tahun lalu.

“Kini kasus tersebut tengah ditangani Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Tulungagung. Dan tersangka sudah kita amankan di Mapolres,” tegas Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia, Senin (2/12/2019) pagi.

Dijelaskan AKBP Eva Guna Pandia, kasus tersebut mulai terbongkar pada Rabu (27/11/2019) lalu. Ketika itu, bibi korban mendapat panggilan dari pihak sekolah tempat dimana korban bersekolah. Bahwasannya, beberapa hari terakhir ini korban terlihat murung saat berada di sekolah.

“Pihak sekolah pun menanyakan apa yang menyebabkannya murung ? akhirnya korban menceritakan bahwa selama ini ia telah dicabuli oleh ayah tirinya,” kata Kapolres.

Dikatakan AKBP Pandia, perlakuan bejat ayah tiri tersebut sudah berlangsung sejak 2015 silam. Terakhir, korban dicabuli pada Rabu pagi. Tak terima dengan perlakuan tersangka, akhirnya bibi korban memilih melaporkan kasus tersebut ke Polres Tulungagung.

“Setelah dilakukan penyelidikan, tersangka akhirnya diamankan pada Kamis (28/11/2019),” imbuhnya.

Pandia menambahkan, kini kasus tersebut masih dalam proses penyidikan. Petugas juga tengah mempersiapkan berkas-berkas perkara tersangka untuk pelimpahan ke kejaksaan.

“Nanti hukumannya akan ditambah sepertiga dari ancaman pidana karena pelaku adalah ayah tiri korban,” pungkasnya.

Sementara itu, kepada sejumlah awak media, tersangka mengaku nekat mencabuli korban karena terpengaruh video porno yang sering dilihatnya. Apalagi istri tersangka saat itu juga tengah sakit, sehingga tidak bisa melayani nafsu birahi tersangka.

“Istri saya (ibu kandung korban-red) sakit, jadi saya lampiaskan kepada anak tiri saya,” katanya.

TW mengaku sudah mencabuli korban sejak korban duduk dibangku kelas 4 sekolah dasar (SD) atau pada 2014 silam. Kemudian, hal tersebut terus berlanjut hingga korban beranjak kelas IX SMP. Selama lima tahun ini, ia juga mengaku sudah menyetubuhi korban sebanyak tiga kali. Yakni pada tahun 2016 dan pada 2019 sebanyak dua kali.

“Terakhir pada Rabu (27/11/2019), saat korban mau berangkat ke sekolah,” akunya.

Dari kejadian tersebut, polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa sebuah seragam rompi warna merah, sebuah seragam kemeja lengan panjang warna putih, sebuah seragam rok warna merah bergaris kotak-kotak, sebuah celana dalam warna putih, sebuah BH warna putih, sebuah kaos dalam warna putih, sebuah buku diary milik korban, dan sebuah sprei motif batik kombinasi warna merah muda, putih, biru, dan hitam.

Atas perbuatannya, tersangka bakal dijerat dengan pasal 76D jo pasal 81 (1), (2), (3), dan pasal 76E jo pasal 82 ayat (1), (2)) UURI No 23 Tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UURI No 35 tahun 2014 sebagaimana diubah dengan UURI No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi undang-undang dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara.