Air Bengawan Solo Meningkat disertai Busa, Bau dan Berwarna

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Air Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo di Lamongan diduga tercemar limbah. Indikasinya, air dari sungai terpanjang di Pulau Jawa itu berwarna gelap, terdapat banyak busa dan berbau tak sedap. Air seperti itu masih dijumpai di aliran Bengawan Solo masuk Desa Mertani, Kecamatan Karanggeneng hingga kemarin (6/12/2019).

“Datangnya air sampai di sini sekitar dua hingga tiga hari ini. Sepertinya ada limbah dari barat,” tutur Muriyono, salah satu warga desa setempat.

Dia menjelaskan, kondisi Bengawan Solo kali ini berbeda dengan awal peningkatan debit air musim lalu. Biasanya air berwarna kecoklatan dan tidak berbau. Tapi sekarang, airnya berwarna hijau kehitam-hitaman.

Baca:  Bayi Komodo Dragons KBS

“Baunya tidak enak,” ujar pria yang juga menjabat ketua HIPA Umum Kecamatan Karanggeneng tersebut.

Dia mengatakan indikasi adanya limbah masuk ke DAS Bengawan Solo bukan sekali ini saja terjadi. Muriyono mengaku pernah melaporkan kepada pihak terkait adanya dugaan limbah sekitar tujuh tahun yang lalu.

“Saat itu tidak ada tindak lanjut. Tapi memang lebih parah yang sekarang,” tutur Muriyono.

Dia berharap, pemerintah bersedia turun ke bawah untuk melihat kondisi air Bengawan Solo yang terindikasikan tercemar limbah. Muriyono mengklaim juga mendapatkan keluhan dari warga desa tetangga yang mengalami hal serupa.

“Harapan saya, kami mohon dari atas turun ke bawah dan melihat keluh kesahnya dengan adanya air yang semacam ini,” katanya.

Baca:  Menlu Autralia Kunjungi Lokasi Ledakan Bom 14 Mei

Warga ainnya, Mat Sholeh, menuturkan sebagian warga sekitar baru memulai musim tanam. Mereka sangat menggantungkan irigasi air Bengawan Solo.

“Dari dulu, petani dan petambak di sini ya menggantungkan dari air Bengawan Solo,” tutur pria paruh baya tersebut sembari memasang pipa untuk irigasi.

Namun dirinya belum mengetahui air Bengawan Solo ini bakal berpengaruh terhadap pertanian padi maupun jagung. Hanya, air tersebut tidak bisa digunakan petambak udang windu dan vaname.

“Dengan adanya kemarau panjang ini tetap menggunakan air ini. Karena memang tidak ada sumber air lainnya,” katanya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lamongan, Fadeli Purwanto, mengaku belum mendapatkan informasi adanya air DAS Bengawan Solo yang terindikasikan tercemar limbah.

Baca:  Menpora : Persiapan Asian Games 2018 Sudah Mencapai 50 Persen

“Kemarin saya sempat lewat sana, memang melihat banyak busa. Tetapi sampai sekarang belum ada laporan yang masuk,” ujar Fadeli, sapaan akrabnya.

Mantan Camat Paciran tersebut berjanji bakan menurunkan petugas untuk mengecek ke lapangan, sehingga nantinya diketahui secara pasti penyebabnya. Apakah karena limbah atau karena faktor lainnya.

“Kita belum mengetahui penyebabnya sebelum ada petugas yang mengecek ke lapangan,” ujar Fadeli saat dikonfirmasi via ponsel. (omdik)