Sang Kebo Ketan Seni Berkisah Tentang Alam Sebagai Khasanah Budaya

Ritual budaya Kebo Ketan kental akan pesan

KANALINDONESIA.COM, NGAWI: Masih dalam tema Kebo Ketan salah satu ritual budaya karya Bramantyo Prijosusilo seni kolaborasi antara tradisi dan agama yang digelar selama dua hari mulai Sabtu kemarin hingga Minggu ini, 17-18 Desember 2016. Tentu melibatkan komponen tidak sedikit baik dari tokoh masyarakat, seniman maupun budayawan serta tokoh agama.

Sejak awal Bramantyo Prijosusilo mengatakan, sesuai pesan Habib Lutfi Yahya ritual budaya Sang Kebo Ketan bisa diwujudkan melalui upacara sakral harus dikaitkan dengan tradisi adat disuatu daerah. Melatarbelakangi tradisi yang sudah jamak dilakukan terutama di daerah Ngawi dan sekitarnya lebih tepat jika dikaitkan dengan peringatan Maulud Nabi atau mengenang atas lahirnya Nabi Muhamad SAW setiap 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah.

“Upacara Kebo Ketan memang sangat bermakna dan sesuai arahan Habib Lutfi Yahya bisa diselenggarakan setiap tahun yang dikaitkan dengan tradisi yang ada dan tepatnya itu Mauludan. Seperti semalam yang sudah dilakukan termasuk Khataman Al Qur’an itu,” terang Bramantyo Prjosusilo, Minggu (18/12).

Kupasnya, tentang upacara ritual Sang Kebo Ketan tidak lain sebuah seni kejadian berdampak hasil dari serial narasi yang dibangun mempunyai pesan tentang kecintaan kepada kelestarian alam. Awal dari narasi itu sendiri masih segar dalam ingatan dimulai dari perkawinan dua alam antara seniman Mbah Kodok atau Kodok Ibnu Sukodok dengan Setyowati tidak lain Dhanyang dari Sendang Margo di Alas Begal pada 8 Oktober 2014.

Narasi tersebut terus berlanjut, tepatnya pada Juni 2015 ditandai dengan lahirnya Jaga Samudra dan Sri Parwati yang dilahirkan secara dampit hasil perkawinan Mbah Kodok dengan Setyowati. Kata Bramantyo, melalui komunitasnya Kraton Ngiyom menandai lahirnya kedua jabang bayi tersebut bersama Perhutani yang disaksikan masyarakat luas memastikan batas daerah konservasi baik Sendang Margo maupun Sendang Ngiyom sesuai perundang-undangan yang berlaku.

Selaras dengan komitmen bersama ini, maka wilayah hutan yang menjadi cakupan Perhutani setempat untuk menjaga ekologi alam disekitar Sendang Margo dan Sendang Ngiyom harus ada perubahan status dari yang sebelumnya. Dari status wilayah areal produksi menjadi wilayah konservasi. Artinya, lahan pertanian masuk kawasan Perhutani disekitar kedua sendang tersebut harus dikembalikan menjadi hutan lindung atau konservasi.

Dengan demikian narasi karya Bramantyo melalui Kraton Ngiyom terus berlanjut dalam seni upacara Sang Kebo Ketan. Dalam narasi yang baru digelar ini disebutkan, Jaga Samudra dan Sri Parwati sejak kecil memang dididik untuk memperjuangkan kejayaan nuasantara dalam kontek sebagai bangsa maritim yang tidak lupa daratan.

“Seperti yang kita lihat bersama sekarang ini dimana-mana keseimbangan alam mulai rusak. Jika itu dibiarkan jelas yang rugi juga kita bersama dimana lahan yang seharusnya subur dipertahankan terus bukan sebaliknya dimanfaatkan tetapi malah rusak. Itulah kandungan dari narasi-narasi yang ada,” beber Bramantyo Prijosusilo.

Jelas dia, terkait narasi Sang Kebo Ketan diceritakan Sang Ratu Kidul memerintahkan kepada Jaga Samudra maupun Sri Parwati untuk ngenger atau berguru kepada Bagindo Milir yang tak lain penguasa Bengawan Solo. Dalam pesan yang tersirat agar konsisten dan berkesinambungan untuk menjaga Bengawan Solo agar dikembalikan lagi menjadi Wuluayu (nama kuno dari Bengawan Solo-red) menjadi bagian dari kegiatan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat sepanjang 600 kilometer daerah yang dialirinya.

Masih keterangan Bramantyo, menandai ngengernya Jaga Samudra dan Sri Parwati sebagai pangeran dan putri Kraton Ngiyom telah diisyaratkan untuk menyelenggarakan prosesi ritual budaya yang dikemas Upacara Kebo Ketan sebagai bentuk suatu pengorbanan. Tentu yang diistilahkan ini tidak lain bentuk pengorbanan masyarakat yang senantiasa menjaga kohesi sosial.

Dan didalamnya ikut andil dalam pelestarian mata air, keseimbangan hutan serta menguatkan kreatifitas masyarakat termasuk penguatan tata perekonomian yang tidak menggantungkan dari lahan yang tidak seharusnya digarap untuk bercocok tanam.

Pungkas Bramantyo, melalui Kraton Ngiyom sengaja mengajak seluruh lapisan masyarakat dan semua golongan untuk menyatukan persepsi, sudut pandang didalam menjaga kelestarian alam dengan ditandai perayaan Upacara Kebo Ketan wujud suatu pengorbanan bersama. Maka perayaan itu sendiri dikaitkan dengan peringatan Maulud Nabi yang diikuti oleh semua golongan tentunya akan bermuara pada Rahmatan Lil ‘Alamin kesejahteraan untuk semua seluruh alam semesta.

Dengan demikian, Upacara Kebo Ketan yang digelar dua hari ini tidak lain sebagai tonggak sejarah didalam kebudayaan  Jawa. Dimana sebelumnya ada kegiatan Gerebeg Suro yang selalu identik dan dikerjakan oleh penguasa atau bisa disebut raja. Tetapi dengan Upacara Kebo Ketan justru sebaliknya sebagai prosesi mencintai alam semesta yang dilakukan oleh rakyat jelata. (pr)