Selama 2019, Angka Kematian Bayi di Tulungagung Masih Tinggi

Kasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Dinas Kesehatan Tulungagung, Siti Munawaroh

TULUNGAGUNG, KANALINDONESIA.COM: Angka kematian bayi di Kabupaten Tulungagung bisa dibilang masih cukup tinggi pada tahun 2019.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, dari 14.364 kelahiran 126 diantaranya meninggal dunia.

Meski jumlah tersebut jika diprosentase masih dibawah 1 persen yakni 0,87 persen. Namun hal tersebut patut menjadi perhatian. Pasalnya, jika dibandingkan dengan tahun 2018, ada kenaikan sebanyak 20 kematian.

Plt Kepala Dinkes Tulungagung Bambang Triono melalui Kasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Siti Munawaroh mengungkapkan, penyebab kematian paling besar terhadap bayi yakni asfiksia. Dimana dalam pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh yang disebabkan karena terganggunya fungsi paru-paru, pembuluh darah, atau jaringan tubuh.

“Selain itu berat badang lahir rendah (BBLR), dan aspirasi (tersedak) juga menjadi salah satu penyebab kematian pada bayi,” katanya.

Siti melanjutkan, pada kasus aspirasi misalnya, disebabkan karena pemberian susu formula kepada bayi menggunakan dot dengan teknik yang tidak tepat. Alhasil, ketika bayi tersedak, cairan susu tersebut akan masuk ke dalam saluran nafas hingga paru-paru.

“Tanpa disadari paru-paru anak mengalami infeksi. Hal ini ditandai dengan gejala panas yang semakin parah hingga meninggal dunia,” jelasnya.

Masih menurut Siti, selama ini pemberian susu formula dengan dot memang dianggap hal yang sepele oleh orang tua bayi. Padahal, ada teknik khusus agar bayi terhindar dari aspirasi ini.

“Cara menggendong bayi, dan posisi kepala bayi saat minum juga perlu diperhatikan,” terangnya.

Menurutnya, kondisi yang paling aman yakni dengan memberikan air susu ibu (ASI) kepada bayi. Tetapi, jika si ibu memang tidak memungkinkan untuk memberikan ASI, maka bayi bisa diberikan susu formula namun harus seizin petugas medis.

“Untuk itu, bagi ibu-ibu yang tengah mengandung agar mengikuti program ibu hamil,” imbuhnya.

Siti mengungkapkan, hal ini sangat penting karena bisa menekan jumlah kematian bayi atau ibu hamil. Menurutnya, jika ibu hamil segera memeriksakan kandungannya secepatnya, atau diwaktu awal kehamilan, maka jika ditemukan masalah kesehatan maka petugas medis masih memiliki jeda waktu untuk melakukan intervensi.

“Salah satu yang dilakukan yakni dengan triple eliminasi, meliputi HIV, hepatitis dan infeksi menular seksual (IMS),” katanya.

Harapannya lanjut Siti, ibu hamil tidak akan menularkan penyakitnya kepada bayinyan. Selain itu, hal yang sangat vital adalah memberikan suplemen tambah darah agar tidak mengalami anemia. Sebab sel darah merah adalah transportasi nutrisi.

“Jika sel darah merah rendah, maka bayi yang dilahirkan kemungkinan akan mengalami BBLR, dan ibu mengalami pendarahan saat melahirkan,” terangnya.

Siti menambahkan, selama 2018 penyebab kematian ibu paling banyak didominasi kasus pendarahan dengan 5 kasus, jantung 3 kasus, eklamsia (kejang), asma dan hepatisis masing-masing 2 kasus, serta emboli, kematomesis, hypertyroid dan infeksi masing-masing 1 kasus.

Sedangkan ditahun 2019, kematian ibu tertinggi disebabkan karena eklamsia 3 kasus, HIV 2 kasus, meningitis, asma, pnemonia dan lupus masing-masing 1 kasus, dan lain-lain 7 kasus.