Cegah Teroris Masuk Kota, Satpol PP Ngawi Gelar Operasi Yustisi

Operasi Yustisi yang dilakukan Satpol PP Ngawi

KANALINDONESIA.COM, NGAWI: Untuk mengantisipasi ancaman teroris di dalam kota, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Ngawi menggelar Operasi Yustisi dengan mengerahkan puluhan petugas gabungan di Jalan Ahmad Yani tepanya di depan Kantor Desa Beran Ngawi, Selasa (20/12). Sasaran dari operasi itu sendiri menyasar kepada warga pengguna jalan yang tidak melengkapi identitas diri terutama Kartu Tanda Penduduk (KTP).

“Tujuan operasi yang kami lakukan secara gabungan ini salah satunya untuk mencegah aksi teroris yang mungkin masuk kota. Jadi apabila ada warga yang tidak membawa identitas diri langsung kami hentikan untuk diberikan tindakan,” terang Arif Setiyono Kasi Penegakan Perda Satpol PP Ngawi, Selasa (20/12).

Kata Arif, operasi yang mengerahkan puluhan anggota Satpol PP diback up petugas Satlantas Polres Ngawi Sub Denpom V/1-2 Ngawi dilakukan sekitar satu jam mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB. Hasilnya, sekitar 57 orang warga terjaring dalam Operasi Yustisi kali ini. Sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 08 Tahun 2010 tentang Administrasi Kependudukan maka setiap pelanggar dikenai sangsi dengan membayar denda Rp 20 ribu.

“Memang tadi ada puluhan warga kena operasi tentunya penerapan sangsi langsung dilakukan ditempat berupa tindak pidana ringan yakni dengan membayar denda sesuai ketentuan. Sidang yang dilakukan tersebut dilakukan oleh para penyidik dari Kejari maupun PN (Pengadilan Negeri-red) yang ada di Ngawi ini,” terang Arif.

Dia menjelaskan, bagi warga yang terjaring diharapkan segera memproses indentitas kependudukan ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Ngawi atau ke kecamatan wilayahnya masing-masing. Diakui Arif, rata-rata dari pengakuan puluhan pelanggar selalu mengatakan blanko KTP kosong ketika hendak mengurus identitas diri tersebut.

“Kalau beralasan blanko kosong memang tidak masuk akal karena setahu saya pihak Disdukcapil memberikan solusi yakni dengan membuatkan surat keterangan dan itu pun sah dipakai sambil menunggu blanko,” tambah Arif.

Diakui dia, selama dua bulan jelang akhir tahun 2016 ini sudah dilakukan Operasi Yustisi sebanyak dua kali. Apalagi pasca penangkapan terduga teroris asal Desa Walikukun, Kecamatan Widodaren, pada Minggu (11/12) lalu pihaknya terus mengintensifkan jalanya operasi. Sasaran berikutnya kata Arif, tidak menutup kemungkinan rumah kost maupun kontrakan maupun tempat tertentu yang menjadi pusat konsentrasi kegiatan warga masyarakat.