Polres Ponorogo Terima Laporan Dugaan Penipuan Investasi Sapi Perah

PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Satreskrim Polres Ponorogo menerima aduan dari sejumlah korban dugaan penipuan investasi bodong dengan berkedok kemitraan dalam usaha sapi perah.

“Kemarin ada pelapor ke Polres Ponorogo terkait dengan dugaan tindak pidana penipuan dalam hal investasi atau kerjasama atau kemitraan yang dilakukan oleh salah satu CV TMJ di Ponorogo, sudah kita tindaklanjuti dan ini masih proses penyelidikan,”ucap Kasatreskrim Polres Ponorogo, AKP Maryoko.

Terkait dengan adanya laporan tersebut, Kasatreskrim mengaku telah memanggil sejumlah saksi untuk dimintai keteranganya.

“Kami telah melakukan pemeriksaan terhadap 5 orang saksi, dan ini tetap akan ditindaklanjuti terhadap saksi terkait serta pengumpulan beberapa barang bukti. Dari hasil pemeriksaan awal ada indikasi bahwa CV tersebut kerjasama dalam bidang sapi perah, nah ini yang harus kita faktakan dan ini harus kita cek terkait dengan modus operandi, bagaiman dia menarik simpati sehingga mitranya itu bisa memberikan sejumlah nominal uang. Dan kemarin ternyata profit yang dijanjikan tidak realisasi sehingga ada pihak yang merasa dirugikan melapor ke Porles Ponorogo,”tegas AKP Maryoko.

Baca:  Gandeng OJK, Kapolres: Investasi Sapi Perah Ponorogo Illegal

Disebutkan Maryoko, lima orang saksi tersebut diantaranya saksi pelapor, dari pihak CV TMJ yang kebetulan tempatnya didatangi oleh beberapa orang mitra, karena situasi kurang kondusif yang bersangkutan minta perlindungan dan pengamanan ke Polres Ponorogo.

“Untuk saksi H, yang bersangkutan minta perlindungan dan pengamanan di Polres Ponorogo karena ada beberapa orang mencari yang bersangkutan di rumahnya, sehingga yang bersangkutan meminta perlindungan dan pengamanan di Polres,”terang Kasat Reskrim.

Maryoko menyebut, dari para saksi yang telah dimintai keterangan merasa dirugikan sekitar Rp906 juta terdiri dari beberapa paket, ada paket Rp16juta, Rp17juta, dan Rp19 juta.

Pengakuan korban

Salah satu korban yang melapor ke Polres Ponorogo mengaku,”saya ditawari teman, saya jadi mitra kerja dengan pembagian hasil dari sapi perah. Dari itu saya dijanjikan umroh, dan saya percaya karena juga diajak ke Malang untuk melihat pabrik. Saya jadi yakin. Yang ikut ya ada orang-orang yang ngerti hukum, jadi saya semakin mantap,”ucap Tini salah satu korban warga Munggung, Kecamatan Pulung.

Baca:  Cari Untung Lebih, Pedagang Selongsong Ketupat Rela Bermalam Di Pasar Tradisional

Tini mengaku jika sejak dirinya ikut berinvestasi pada 2017 profit yang diterimanya masih lancar dan memutuskan untuk menambah investasinya hingga mencapai sekitar 25 paket atau setara Rp500 juta.

Dikatakanya, profit yang diterimanya mulai tersendat sejak bulan januari 2020.

Sementara dari pengakuan korban yang lain,“ada sekitar 2000 korban yang ada di Ponorogo belum yang diluar daerah maupun luar pulau, itu juga banyak sehingga mereka menanyakan nasib kerjasama tersebut. Ternyata investasi atau kerjasama abal-abal, sampai sekarang selaku direktur saudara Hadi S tidak bisa menjawab kapan pengembalian kerjasama atau nilai uang kerjasama ini. Kerugian total untuk Ponorogo kurang lebih mencapai sekitar Rp200 miliar,”terang Didik Hariyanto.

Baca:  Arifin-Syah Siap Makmurkan Rakyat Trenggalek

Dijelaskan Didik, para korban telah berinvestasi rata-rata paling sedikit Rp120 juta, karena 1 paket ada Rp17,5 juta, Rp15 juta dan ada yang Rp 19 juta.

“Kalau rata-rata 5 paket sudah berapa, kali sekian ribu orang untuk Ponorogo, sekitar Rp200 miliar,”terangnya.

Dikatakan Didik, satu kemitraan mendapatkan keuntungan dari nilai investasi dalam jangka waktu tertentu akan memperoleh bonus berupa sapi, yang jika dirupakan uang senilai Rp2 juta per paket dengan lama kontrak 3 tahun.

“Karena diakui direktur ini adalah investasi atau kemitraan abal-abal, uangnya menurut keterangannya diinvestkan ke salah satu perusahaan, tapi perusahaan mana yang ini kita belum tahu,” pungkas Didik Hariyanto.