Adanya Virus Corona Pengarajin Kendang Blitar Tak Bisa Ekspor

BLITAR, KANALINDONESIA.COM: Tak hanya menjadi ancaman mematikan bagi manusia wabah virus Corona juga berpengaruh besar terhadap ekonomi. Salah satu yang terkena dampak virus yang telah merenggut ribuan nyawa ini adalah pengrajin kendang jimbe di Kota Blitar.

Sugeng Haryanto salah satu pemilik tempat produksi kendang jimbe di Kelurahan Sentul, Kota Blitar mengaku produksinya mengalami penurunan yang cukup drastis. Pasalnya, permintaan kendang jimbe ke Tiongkok berhenti total sejak sebulan terakhir.

“Sudah sebulan ini produksi turun karena permintaan juga turun drastis. Permintaan paling banyak untuk pasar ekspor dari Tiongkok. Sementara saat ini permintaan dari Tiongkok itu berhenti total karena ada virus Corona,” ungkap Sugeng, Jumat (28/2/2020).

Baca:  Transparansi dan Keterbukaan Informasi Melalui Sistem Bersatu Lawan COVID

Sugeng menjelaskan, biasanya dalam seminggu dia memproduksi
400 kendang jimbe. Namun sekarang dalam seminggu dia hanya memproduksi 100 kendang jimbe. Karena jumlah produksi yang turun dia juga terpaksa memangkas jumlah pekerjanya. Dari yang awalnya 40 pekerja, kini Sugeng hanya mempekerjakan 15 sampai 20 orang.

“Karena kami hanya bisa melayani pasar lokal otomatis produksi turun. Karena minat pasar lokal tidak setinggi pasar ekspor. Kalau dulu biasanya dalam seminggu kami produksi 400 kendang dengan jumlah pekerja 40 orang. Sekarang seminggu kami hanya produksi 100 kendang dengan 15 sampai 20 pekerja yang masih kami pertahankan,” jelasnya.

Menurut dia selama ini pengrajin kendang jimbe baik di Kota maupun Kabupaten Blitar memang mengandalkan pesanan dari negeri tirai bambu. Ekspor kendang jimbe ke Tiongkok itu sudah berlangsung sejak 2010. Sebelum merebaknya virus Corona, para perajin kendang jimbe dari Blitar mampu mengekspor dua kontainer kendang jimbe ke Tiongkok per minggu.
Tiap kontainer berisi sekitar 3.000 kendang jimbe.

Baca:  Akhirnya Makam Presiden Pertama Indonesia di Blitar Ditutup

“Kondisi seperti ini sudah berlangsung sejak akhir Januari 2020. Sudah tidak ada permintaan lagi dari Tiongkok, karena ada kasus virus Corona. Padahal sebagian besar pengrajin dari Kota maupun Kabupaten Blitar memang mengandalkan produksi untuk ekspor ke Tiongkok,” paparnya.

Untuk mensiasati kondisi ini, Sugeng memilih menawarkan produksi kendang jimbe ke pasar lokal. Seperti Bali, Jawa Barat, Jakarta, Kalimantan, Jawa Tengah dan Surabaya. Selain tetap memproduksi kendang jimbe dalam jumlah kecil Sugeng juga memproduksi aneka souvenir lainnya.

“Kami tetap produksi tapi dalam jumlah kecil untuk kami tawarkan ke pasar lokal. Meski permintaannya tidak banyak. Kadang hanya 20 sampai 30 kendang. Selain itu kami juga membuat souvenir kecil-kecil yang sekiranya laku di pasar lokal,” pungkasnya.(me)

Baca:  Pemerintah Lamongan Terus Geber Pasar Murah Selama Ramadhan