Ratek Ditutup, Ditjen PSP Kementan Formulasikan 4 Strategi Utama

SOLO, KANALINDONESIA.COM — Dalam mensukseskan program 2020, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian (Ditjen PSP Kementan) menggulirkan 4 strategi utama. Komposisinya terdiri dari peningkatan produksi dan provitas, pertanian berbiaya rendah, mekanisasi juga pengaplikasian teknologi, dan aspek sosialisasi program tepat sasaran.

Formulasi 4 strategi itu disampaikan dalam penutupan Rapat Teknis (Ratek) dan Pengelolaan Anggaran Tahun Anggaran (TA) 2020 Wilayah III, Kamis (27/02) malam.

Digelar 26-28 Februari, event ini diadakan di Hotel Best Western, Solo, Jawa Tengah dengan pesertanya adalah Dinas Pertanian Provinsi/Kabupaten/Kota dari 13 daerah di Indonesia.

Rapat Teknis (Ratek) dan Pengelolaan Anggaran Tahun Anggaran (TA) 2020 Wilayah III, di Hotel Best Western, Solo, Jawa Tengah, resmi ditutup Dirjen PSP Kementan, Kamis (27/2/2020) malam. Foto : Dok. Humas Kementan

Selain tuan rumah Jawa Tengah, bergabung juga Dinas Pertanian dari Aceh, Bengkulu, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, dan Banten. Slot lainnya diisi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Sulawesi Selatan.

Dirjen PSP Kementan Sarwo Edhy mengungkapkan, strategi diperlukan untuk mencapai sasaran umum kebijakan 2020.

“Rangkaian Ratek dan Pengelolaan Anggaran TA 2020 sangat penting. Posisinya pun strategis khususnya untuk mendukung pencapaian target sasaran umum kebijakan Kementan tahun ini. Untuk itu, semua harus fokus pada 4 aspek tersebut. Turunan pengaplikasiannya sudah dijelaskan dalam rangkaian Ratek ini,” ujar Sarwo Edhy, Kamis (27/2) malam.

Mengurai 4 aspek strategi utama, peningkatan produksi dan provitas bisa menjadi fokus pertama. Usaha ini bisa dilakukan dengan peningkatan produktivitas dan produksi komoditas pertanian. Di dalamnya, juga mencakup peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) petanian.

Aspek lainnya adalah pertanian berbiaya murah. Cara ini kepanjangan upaya menurunkan beban pembiayaan pertanian.

Untuk mendapatkan pertanian berbiaya murah dilakukan dengan efisiensi dan pengembangan kawasan berbasis korporasi. Adapun aspek lain, mekanisasi dan akselerasi pemanfaatan inovasi teknologi. Cara ini mampu memberi efisiensi waktu kerja pengolahan lahan hingga 97,4%. Total efisiensi pembiayaan bisa mencapai 40%. Untuk itu, sosialisasi agar mindset petani berubah dipilih sebagai aspek berikutnya.

“Penerapan 4 aspek strategi utama akan memberikan manfaat maksimal bagi pertanian. Yang utama itu biaya efisien, tapi produkivitasnya tinggi. Setelah Ratek ini, peserta Ratek harus turun ke lapangan untuk mensosialisasikan semuanya. Mindset petani harus diubah dari tradisional menuju modern. Caranya dengan mekanisasi dan Alsintan yang sudah diberikan. Jumlahnya sangat banyak,” jelas Sarwo Edhy.

Mendukung mekanisasi pertanian, Kementan sudah menyerahkan total 463.000 unit Alsintan. Jumlah ini akan terus bertambah karena total anggaran besar Rp 1,169 Triliun disiapkan tahun ini. Jumlah itu untuk pengadaan 23.440 unit Alsintan. Rincian Alsintannya, ada 8.500 unit Traktor Roda 2 dan Traktor Roda 4 TP tersedia 1.210 unit. Kementan pun menyiapkan kuota maksimal 10.000 unit Pompa Air

Bantuan Alsintan tahun 2020 semakin lengkap dengan 1.100 unit Rice Transplanter. Adapun Seeding Tray berjumlah 50.000 unit, lalu Cultivator memiliki slot 2.630 unit.

“Kebijakan relokasi nantinya akan diberlakukan. Alsintan harus memberikan manfaat optimal. Pokoknya peralatan mesin jangan dibiarkan rusak. Pengelolaannya harus jelas dan transparan,” kata Sarwo Edhy.

Untuk memanfaatkan Alsintan, pengelolaannya bisa dilakukan bersama Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA). Koperasi di tingkat petani juga bisa diberdayakan, lalu alternatif lain kelompok usaha bersama. Edhy menjelaskan, Alsintan harus dikaryakan untuk mendapatkan imbal balik berupa jasa. Nantinya jasa tersebut bisa digunakan untuk pembiayaan perawatan hingga pengadaan Alsintan baru.

“Silahkan saja Alsintan dikelola bersama agar memberi manfaat lebih. Dari situ, tentu ada hasil berupa jasa yang bisa digunakan lebih lanjut. Bisa untuk perawatan alat hingga pengembangan usaha, seperti penambahan jumlah Alsintannya. Kalau pola ini terbentu, semua akan sejahtera. Sebagai percontohan bisa melihat Gorontalo. Mereka itu sangat tertib,” ungkapnya.

Selain fokus pengaplikasian 4 formulasi tersebut, Edhy tetap mengingatkan target serapan anggaran 40% hingga Triwulan I 2020.

Sepanjang 2020, Ditjen PSP Kementan memiliki alokasi anggaran Rp 3,4 Triliun. Artinya, kabupaten/kota punya slot anggaran Rp1,36 Triliun untuk mendukung produkivitas pertanian. Selain Alsintan, dana ini bisa dialirkan melalui UPPO, KUR, Irigasi, Optimasi Lahan, Pengendalian Lahan, bahkan Asuransi.

“Pokoknya serapan anggaran 40% harus tercapai. Anggaran yang dibutuhkan daerah sudah dipetakan dan bisa dieksekusi lebih cepat. Langsaung saja laksanakan kegiatan terkait pengalokasian anggaran yang sudah dipekati melalui workshop,” tutup Sarwo Edhy. @Rudi