Tebang Pohon Ketapang Milik Perhutani, Dua Pria Tulungagung Diamankan Polisi

TULUNGAGUNG, KANALINDONESIA.COM: Anggota Polsek Tanggunggunung, Tulungagung mengamankan  YS (28) dan SPD (37) warga Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung lantaran diduga telah melakukan pembalakan liar pohon jenis Ketapang milik Perhutani pada Kamis (27/2/2020) lalu.

“Kedua tersangka sudah diamankan di Mapolsek berikut barang bukti berupa 2 potong kayu berukuran 130 X 23 X 15 centimeter,” kata Kapolsek Tanggunggunung Iptu Sukardi.

Selain itu lanjut Iptu Sukardi, petugas juga menyita sebuah gergaji mesin merk STIHL tipe MS 381, sebilah sabit, dan dua unit sepeda motor merk Yamaha Vega dan Honda Blade.

“Kedua kendaraan ini juga tanpa nomor polisi,” terangnya.

Dijelaskan, terungkapnya kasus pengrusakan hutan lindung tersebut bermula dari hasil operasi tim gabungan dari RPH Tanggunggunung dan anggota Unit Reskrim Polsek Tanggunggunung. Ketika itu, kedua tersangka tengah berada di hutan lindung petak 98G masuk Desa Jengglungharjo dengan membawa alat gergaji mesin dan sabit.

Baca:  Kapolrestabes dan PMII Surabaya Gelar Doa Bersama untuk Randi dan Yusuf

“Gerak-gerik yang mencurigakan tersebut dipantau petugas yang tengah patroli,” terangnya.

Ternyata lanjut Sukardi, kedua tersangka tersebut baru menebangan satu pohon Ketapang dan membelahnya menjadi dua bagian. Setelah dilakukan pelacakan, tunggak dari pohon tersebut ditemukan dengan lingkar tunggak 190 centimeter, dan tinggi tunggak 100 centimeter.

“Keduanya tida bisa mengelak, dan langsung digelandang ke Mapolsek untuk pemeriksaan lebih lanjut,” imbuhnya.

Akibat perbuatannya, pihak Perhutani mengalami kerugian sekitar Rp 9 juta. Kini kasus tersebut masih dalam proses penyidikan. Petugas juga masih berupaya menggali motif dan modus yang digunakan kedua tersangka ini.

“Atas perbuatannya, kedua tersangka baka dijerat dengan pasal 12 huruf b jo pasal 82 ayat (1) huruf b UURI No 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan dengan ancaman hukuman maksimal 9 tahun penjara,” pungkasnya.

Baca:  Beberapa SMA dan SMK Di Lamongan Belum Penuhi Pagu