Pendeta Cabuli Jemaat Diperiksa di Polda Jatim, Dirreskrimum: Berpeluang Jadikan Tersangka

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM:  Soal penetapan status HL, pendeta dari Gereja Happy Family Center (HFC) Surabaya naik menjadi tersangka atas kasus cabuli jemaat sendiri tinggal menunggu hasil pemeriksaan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim.

Yang seperti diketahui, pendeta HL yang awalnya berstatus sebagai pihak terlapor, kini menjadi saksi. Namun tidak menutup kemungkinan juga akan menjadi tersangka.

Sebagai bahan kelengkapan data untuk dijadikan dasar polisi atau memperkuat merubah status HL, sudah ada enam orang saksi lain telah diperiksa penyidik. Pasalnya, sikap kooperatif ditunjukkan oleh pendeta HL yang telah penuhi panggilan penyidik, untuk menjalani pemeriksaan pada Jum’at (6/3/2020).

“Kita sudah periksa enam saksi. Terlapor HL juga telah diperiksa sebagai saksi hari ini. Tidak menutup kemungkinan peluang tersangka juga ada,” kata Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jatim, Kombes Pol Pitra Ratulangie, Jum’at (6/3/2020).

Baca:  Ringkasan Sejarah Trenggalek Bagian 2

Terkait penanganan kasus dugaan pencabulan dan pemerkosaan yang dilakukan pendeta HL sendiri, menurut Pitra naik, dari penyelidikan menjadi penyidikan.

“Kalau status kasusnya sudah dik (penyidikan). Terlapor HL pun hingga malam ini masih diperiksa,” paparnya.

Seperti diketahui, pendeta HL dilaporkan atas dugaan mencabuli jemaatnya sendiri. Bahkan perbuatan pencabulan ini telah dilakukan pendeta HL terhadap korbannya selama 17 tahun, terhitung sejak korban berusia 9 tahun.

Jeanie Latumahina, aktifis perempuan yang diminta mengawal kasus yang telah dilaporkan ke Polda Jatim pada 20 Februari 2020 dengan nomor LPB/ 155/ II/ 2020/ UM/ SPKT itu menceritakan, terungkapnya kasus ini berawal ketika korban berinisial IW (26) akan melangsungkan pernikahan.

Baca:  Lagi, Polisi Tangkap Pelaku Baru Terkait Kasus Pembobolan Kartu Kredit Beromset Ratusan Juta

Keluarga IW menyampaikan, bawah pemberkatan pernikahan akan dilangsungkan di gereja yang dipimpin Pendeta HL. Namun dengan histeris IW menolak keras jika pemberkatan dipimpin Pendeta HL.

“Jadi ketika anak ini akan melangsungkan pernikahan di gereja tersebut, dia menolak. Dia akhirnya menceritakan hal yang semestinya tidak terjadi di tempat ibadah itu,” cerita Jeanie ditemui di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jatim, Senin (2/3/2020) kemarin.

Atas terbongkarnya aksi bejat itu, lanjut Jeanie, korban mengalami depresi berat. Menurutnya saat ini yang dibutuhkan oleh korban yakni dukungan dari keluarga dan masyarakat. Ady