Aktivitas Tambang Galian C Di Desa Marobea, Jalan Licin, Sangat Membahayakan Pengendara

kondisi jalan yang tertutup lumpur dan licin sangat membahayakan pengendara yang melintas

MUNA BARAT, KANALINDONESIA.COM: Jalan poros Lakanaha – Marobea yang semula terbilang mulus dan nyaman saat dilintasi, namun dengan adanya aktivitas tambang galian C di Desa Marobea, Kecamatan Sawerigadi, Muna Barat kondisinya berubah menjadi licin dan berlumpur serta berdebu akibat tumpahan material yang dimuat oleh truk roda enam. Kondisi ini sangat membahayakan keselamatan pengendara yang melintas.

Fitriani (21) warga Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah yang hendak menuju rumah kerabatnya di Kambara, Kecamatan Tiworo Kepulauan (Tikep) tidak berani melintasi jalanan yang licin dan berlumpur itu. Dirinya memilih memutar balik menggunakan rute Wadaga – Lawa – Barangka – Marobea – Kambara yang jaraknya kurang lebih 25 kilometer untuk sampai ditempat tujuan. Padahal jarak lokasi kegiatan dengan jalan poros Lagadi – Marobea – Kambara kurang lebih 1 kilometer lagi.

Baca:  Ribuan CPNS Mubar Lolos Passing Grade SKD, Panselda: Tidak dijamin Bisa Ikut SKB

“Kalau terus kan jalan poros sudah tidak jauh dapat tugu belok kiri langsung ke Kambara, tapi karena jalan licin saya lewat saja di Lawa,”ucap Fitriani kepada awak media ini.

Namun dirinya takut jatuh dari kendaraanya ketika melewati jalan itu karena kondisi jalan yang licin dan berlumpur. “Saya rela menempuh jarak 25 kilometer agar tiba dengan selamat ditempat tujuannya,” jelas Fitriani.

Dikatakan Fitriani,”baru saat itu, kondisi dijalan sepi tidak ada juga kendaraan yang melintas untuk minta bantu kasih menyebrangkan motorku sampai dijalan yang bagus,”ucapnya.

Sementara Muhamad Fajar, warga Kecamatan Wadaga mengatakan, bila dirinya sudah mengetahui ada aktivitas tambang galian C diwiliyah itu, ia tidak pernah melintasi jalan poros Marobea – Lakanaha sampai aktivitas selesai. Karena pada saat turun hujan jalanan licin dan berlumpur, kalau tidak turun hujan sisa material yang ada di badan jalan menjadi debu dan hal ini mengganggu kesehatan dan keselamatan pengendara.

Baca:  Himpaud SBB Dipercaya Kelola Program Diklat Dasar Kementerian di Provinsi Maluku

“Kalau hujan licin dan berlumpur, kalau tidak hujan sisa-sisa material tadi berubah menjadi debu,” kata Fajar.

Lebih lanjut dikatakan Fajar,”jadi ada dua pilihan yaitu lumpur atau debu, bila saat turun hujan jalanan berlumpur jika tidak turun hujan material yang tersisa di badan jalan kering langsung menjadi abu dan itu juga menghalangi pandangan pengendara selain juga mengancam kesehatan pengendara,” ujar Fajar kepada awak media ini, Selasa (10/3/2020).

Seorang arga Desa Marobea yang enggan dimediakan namanya, mengaku kesal dengan ulah pekerja tambang galian material C tersebut yang tidak memperhatikan keselamatan pengendara dan pejalan kaki, seharusnya sisa material yang berada di badan aspal disiram dengan air agar jalanan tidak licin dan berlumpur.

Baca:  Demo Tolak Pendirian Pabrik Gula, 20 Anggota DPRD Mubar Kompak Keluar Daerah

“Setiap pulang atau pergi ke kebun harus serba hati – hati lewat disini karena jalanan licin,” tuturnya.

Pantauan Kanalindonesia.com di lokasi kegiatan tambang galian C memang sangat memprihatinkan. Kondisi badan jalan sebelumnya hitam nan mulus berubah menjadi warna cokelat kekuningan akibat sisa material yang melekat di ban truk sehingga tertinggal di badan aspal yang mengakibatkan jalan menjadi berlumpur dan licin.

Akibatnya sejumlah pengendara yang melintas di jalan tersebut harus ekstra berhati-hati karena jalanan yang licin dan berdebu. Namun sebagian pengendara memilih tidak melewati jalur tersebut.(Sanjaya)