Rawan Sebabkan Tanah Longsor, Penambangan Sirtu Ilegal di Jombang dan Sampang Ditutup Polisi

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Dua lokasi tambang sirtu ilegal yang berada di Jombang dan Sampang diduga tak dilengkapi izin kini ditutup paksa Polda Jatim. Selain itu terdapat tiga alat berat, yakni dari Sampang dua unit dan satu lagi dari Jombang diamankan polisi.

Pada gelar rilis, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan sejak tanggal 3 dan 5 Maret Ditreskrimsus Polda Jatim melakukan tindakan penyidikan ke dua lokasi yang dijadikan tambang sirtu secara ilegal berdasarkan dari laporan.

“Berdasarkan laporan diterima Ditreskrimsus di daerah Jombang dan Sampang terkait dugaan tindak pidana ilegal mining Undang-undang minerba. Saksi dalam kasus ini, di daerah Jombang maupun Sampang masing-masing ada 4 orang,” kata Trunoyudo di Mapolda Jatim, Senin (16/3/2020).

Menurut Trunoyudo, untuk penanganan perkara ini, pihaknya melibatkan beberapa instansi, yakni dari TNI AL, AD dan AU hingga instansi LH serta Dinas ESDM dan Garnisun.

Baca:  Ikut Turunkan Jenazah, Ifan Seventeen Enggan Berpisah Dengan Dylan

“Beberapa instansi dilibatkan guna sebagai bentuk wujud keseriusan kami terkait hal-hal antisipasi bencana alam. Banyak tambang yang mengabaikan atau baik tidak izin minerba, izin operasi. Harusnya melalui mekanisme instansi LH dan ESDM. Kalau ini diabaikan dan kita tindak,” tandasnya.

Dirreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Gidion Arif Setyawan menyampaikan, kegiatan tambang ilegal mengakibatkan bencana alam, seperti longsor hingga banjir bandang. Mengingat sejak awal tahun 2020, bulan Januari sampai Maret iklim cuacanya rentan terjadi bencana alam.

“Kita mengantisipasi bencana alam yang terjadi sebelumnya, karena iklannya masih rentan. Kami sepakat TNI, Polri, instansi pemerintah melakukan penegakan hukum ilegal mining yang rawan mengakibatkan bencana alam di Jatim,” ucap Gidion.

Baca:  exclusive concert Padi Reborn

Lanjut Gidion, agar tidak memakan korban, pihaknya segera menindak tegas terhadap kegiatan tambang ilegal.

“Ini masih berlangsung sampai dengan tiga bulan kedepan itu operasinya. Kita lihat perkembangan dan situasi yang menyertai,” tandasnya.

Ada berapa orang yang telah ditetapkan tersangka dari tambang ilegal ini? Gidion mengaku masih belum menetapkan tersangka, karena sampai saat ini polisi masih mendalami keterangan saksi.

Namun kata Gidion, ada pihak-pihak yang bisa berpotensi dijadikan tersangka. Misalnya saja pamer atau pemilik tambang, orang yang menyuruh melakukan kegiatan penambangan dan operator tambang sampai pemodal di balik penambangan tersebut.

“Pelanggarannya melakukan penambangan tanpa izin di lokasi yang dilarang. Ini pengembangan. Mens rea orang yang menyuruh melakukan, operator. Siapa owner, pemodal yang berkepentingan paling utama itu kita periksa ya,” tuturnya, (16/3).

Baca:  Terpidana Henry J Gunawan Meninggal di Rutan Medaeng, Jaksa: Karena Serangan Jantung

Sementara itu, Kasubdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Wahyudi memaparkan jika para penambang ini beberapa kali telah menjual hasil tambang sirtunya. Namun untuk berapa keuntungannya, Wahyudi menambahkan masih dalam tahap pemeriksaan.

Wahyudi menyebut tambang Sirtu di Jombang telah beroperasi selama empat hingga lima bulan. Sedangkan di Sampang sudah beroperasi dua bulanan.

“Backhoe nya yang warna hijau sudah beroperasi beberapa bulan yang lalu kemudian hasilnya sudah ratusan sampai ribuan (sirtu) yang dijual setiap harinya. Kemudian yang di Sampang itu sama sekali tidak memiliki izin dari manapun dan melakukan penambangan dan dijual juga,” papar Wahyudi. Ady