Carier Corona

Kolonel Mar. Hisnindarsyah Dokter RS TNI AL Marinir Cilandak
Kolonel Mar. Hisnindarsyah Dokter RS TNI AL Marinir Cilandak

JAKARTA, KANALINDONESIA.COM : Sampai kemarin, jalanan di jakarta masih relatif padat. Jika tidak mau dibilang ,biasa biasa saja. Tapi sudah lancar jaya .

Masih banyak yang kongkow di warung, dan santuy ngopi rokok an di cafe cafe. Meski memang tidak seramai biasanya. Tapi, ini menunjukkan sikap acuh yang luar biasa. Disaat kondisi pandemi dunia ini, yang bernama Corona.

Padahal, pengumuman pemerintah, instruksi tertulis pimpinan wilayah, himbauan dari gubernur sampai RT , ada dimana mana.

Di Itali, polisi tegas menjaga setiap gang,dan yang keluar rumah, tanpa alasan jelas , akan di denda. Malaysia juga memperlakukan hal yang sama. Negara seperti arab saudi, iran dan banyak negara di dunia, sudah memutuskan tidak menerima lawatan dari negara manapun. Dalam bentuk apapun.

Sekali lagi, Pemerintah selalu bilang, jangan panik. Tidak perlu cemas. Tetap tenang dalam menghadapi Corona ini. Dan aku sangat setuju untuk hal ini.

Tapi kita  yang mensikapinya , yang harus rasional. ” Mikir gitu loh” kata Cak Lontong. Jangan bebal dan ” Keukeuh” untuk tetap KELUAR RUMAH,  dengan berbagai macam alasan.

Virus Corona  ini penyebarannya sangat cepat. Dapat melalui kontak fisik, media udara dan media benda. Dia bisa menyebar melalui logam, kaca, kertas, kayu, kulit dan aneka benda dalam kehidupan sehari hari.

Mungkinkah kita menghindari kontak itu?

Jelas tidak mungkin. Oleh karena itu , disarankan untuk cuci tangan dengan sabun sesering mungkin. Pakai hand sanityzer seperlunya selama ada air sabun. Pakai masker saat sakit batuk pilek. Jika dlm kondisi” terasa” sehat, gunakan masker seperlunya. Makan dengan asupan buah dan  sayur , dlm jumlah yang cukup. Dan jadikan hal itu sebagai prioritas.

Apakah terus kita harus mendekam dirumah saja?

Ya juga tidak demikian. Jika tujuannya adalah untuk jogging, bersepeda, itu malah suatu keharusan. Minimal kita harus kena sinar matahari 30 menit. Karena virus Corona , mati dalam suhu udara 26 sampai dengan 27 derajat. Tapi usahakan olahraga yang tidak di jalan berdebu. Pilihlah taman, daerah agrowisata atau aerobik di rumah saja.

Ingat, Trias prinsip cegah putus Corona. Tinggal di rumah.Jaga jarak jika kita berkomunikasi. Dan hindari kerumunan , kelompok atau massa dalam jumlah banyak. Batasannya antara 10 sampai dengan 20 orang. Tidak boleh lebih dari itu.

Mengapa? Karena virus Corona dapat bersemayam dalam tubuh kita, tanpa menunjukkan gejala apapun. Atau gejala yang sangat ringan. Flu biasa saja, contohnya. Tidak harus panas tinggi, atau batuk hingga sesak nafas.

Orang yang membawa virus Corona , tanpa gejala ini justru yang berbahaya. Ini di sebut CARIER Corona. Pembawa virus Corona.

Sampai saat ini, belum ada alat yang dapat mendeteksi dini, seorang menjadi carier corona. Rapid Test Corona, yang sedang digembor grmborkan oleh pemerintah, tidak bisa mendeteksi jika dia adalah penderita awal Virus Corona. Jika sudah masuk ke Hari ke 7, baru bisa dideteksi.

Apasih Rapid Test itu ? Rapid test adalah test untuk deteksi immunoglobulin  tubuh. Fungsi kekebalan tubuh. Sampai saat ini RT ini sebenarnya belum disarankan oleh Kemenkes RI.

Tapi sebagai ikhtiar,  Rapid Test dapat membantu. Namun harus dikaitkan dengan gejala klinis pasien. Sehingga hasilnya  bisa negatif/positif palsu. Istilahnya, hasilnya seolah positif, tapi sebetulnya tidak terpapar, demikian juga sebaliknya.

Baru bisa dikatakan  positif kalau gejala sudah beberapa hari positif. Sehingga jika RT dilakukan pada pasien immunocompromised, hasil  bisa saja negatif.

Ada lagi pemeriksaan serologi yang hanya menemukan jejak, bukan patogennya. Alias tanda tanda bahwa pernah ada virus itu bersemayam disana. Tapi kepastian derajat kemampuan virus  corona , membahayakan tubuh kita, belum dapat dipastikan.

Dan uniknya, pasien yang terinfeksi COVID19 ini , dapat menimbulkan positif pada serologi Dengue. Yang dikenal dengan virus nya demam berdarah.

Ilmiahnya,  dihipotesiskan bahwa COVID19  dan Dengue memiliki irisan di serologi. Tapi patogenitasnya, yang berbeda.

Diagnosis PDP ( Penderita Dengan Corona) sekarang di Indonesia , sudah cukup dengan ditemukannya Lekopeni( penurunan sel darah putih) dan ada infiltrat atau bercak bercak di paru disertai gejala klinis. Ini untuk yang bergejala. Mudah dihindari.

Untuk pengambilan spesimen ODP dan PDP: hari ke-1, hari ke-2, dan hari jika terjadi perburukan. Pengambilan spesimen kontak erat risiko tinggi: hari ke-1, hari ke-14.

Yang sulit dimonitor adalah yang tidak bergejala, rapid test nya negatif, thermal scanner suhunya normal.

Apa sudah pasti aman dari corona? Sudah pasti Tidak. Hanya kebetulan Imunitas tubuh nya bagus. Staminanya sedang baik.

Lalu dia dengan santuy jalan jalan ke negara antah berantah yang belum di banded atau di lockdown. Maklum, harga tiket hotel , travel lagi banting harga. Discount 50 sampai 70 persen brooww. Ngga nanggung. Jadi , kesempatan buat yang belum sempat selfie di menara eifel , di bunga tulip belanda, mungkin di belantara amazone, ini peluang yang tidak boleh disia siakan. Cuzz mabur.

Iya mabur boleh saja, tapi jangan balik ke Indonesia. Atau kalau balik , tau diri dengan melapor ke call center Covid19 yang sudah didirikan untuk masuk karantina 14 hari. Kalau tidak, itu sama saja, mengajak orang lain yang sehat , tanpa rentan imunitas. Menjadi tertular.

Apalagi, Indonesia saat ini sudah berstatus  locally-transmitting disease. Penyakit yang sudah ada di berbagai wilayah lokal Indonesia. Dan dapat dipindahkan, tertular dengan media lokal yang ada disekitar kita.

Jadi intinya, kalau anda  terinfeksi COVID19 ini anda yang memberikan  senyum manis  pun  tidak akan tau kalau ternyata mereka menderita  COVID-19 positif.

Aku sendiri, tidak tau, apakah aku ini carier Covid19 atau bukan. Meskipun aku sendiri sudah cek thoraks foto, laboratoroum lengkap, thermal test, semuanya nornal normal saja. Hanya batukku yang tidak sembuh hampir 10 hari. Alhamdullilah, sekarang sudah membaik.

Tapi ingat, aku ada di lingkungan rumah sakit. Ring 1 dengan  tingkat keterpaparan tinggi.   Dan rumah sakitku ada di jakarta selatan. Yang sebagaimana diumumkan Presiden RI Jokowi kemarin, wilayah ini, memiliki insidens yang sangat tinggi.

Apakah tidak menutup kemungkinan aku menjadi Carier Corona Virus?. Siapa yang berani menjamin aku clear corona?

So aku putuskan dengan isolasi mandiri. Bersama teman teman sejawat di Rumah sakit , sambil mengurus pasien pasien yang memerlukan penangananku. Mempersiapkan ruang dekon dan desinfeksi, merancang ruang isolasi dan melakukan kesibukan banyak hal.

Dan merelakan diriku, untuk meninggalkan keluarga di rumah, demi mengurangi potensi keterpaparan virus corona.

Tidak mudah mengambil pilihan seperti ini.

Bagi dokter TNI ,berpisah meninggalkan keluarga untuk waktu yang lama, adalah hal yang biasa. Bukan berhari bahkan berbelas tahun ,aku dan anggota TNI lainnya meninggalkan keluarganya.  Semua dilakukan demi bangsa dan negara ini. Tanpa perlu dipuji, dihormati, disebut hebat dan sejenisnya.

Tapi ini kasus Corona ini yang berbeda. Kami seluruh tenaga medis Indonesia, butuh kerjasama semua komponen bangsa, bersama memerangi Covid 19. Dengan stay and work at home. Jika tidak, semua sia sia.

Dan terbukti banyak yang acuh, cuek dan mungkin “bebal” , tetap saja melakukan aktivitas di luar. Ngemall, ngrumpi , kongkow, melakukan perjalanan lintas daerah terutama masuk dan keluar Jakarta.

Alasan bisa macam macam. Ada yang memang harus meeting, tidak bisa ditunda. Ada yang memang karena harus beli beli kebutuhan. Ada yang memang harus nencari nafkah harian, karena sumber pendapatan.

Tapi untuk saat ini, bijaklah menentukan skala prioritas. Jika ada yang bisa ditunda, tundalah. Ikuti perintah resmi pemerintah. Jangan ngeyel. Jangan ngotot. J

Jika mmng harus beli kebutuhan , usahakan gunakan sarana kirim antar. Jika tdk bisa, jangan berlama lama, lengkapi dgn masker , hand sanitayzer dan alat pelindung diri. Jangan bonek. Jangan nekat. Jika memang harus mencari nafkah harian, tetaplah ikuti aturan yang seharusnya. Jangan cuek dan EGP.

Ini tanggung jawab komunal. Jika sistem tidak berjalan. Jika tidak muncul kesadaran semua upaya memutus rantai covid19 , akan sia sia.

Ingat , bisa jadi anda merasa sehat. Tapi tidak jaminan, anda luput dari keterpaparan. Anda suspeck  Carier Corona.

Pikirkan nasib anak anak, lansia dan orang dengan komplikasi beragam penyakit. Tidak perlu takut berlebihan. Tapi rasional dan Jangan “ngeyel”.

Hargai kami , bantu kami tenaga medis. Yang merelakan diri untuk meninggalkan keluarga di rumah, demi kesehatan Indonesia bebas dari Covid 19.

Tolong, bantu dengan tinggal dirumah, jaga jarak jika harus bepergian dan hindari kerumunan.

Salam perangi dan bebaskan Indonesia dari Covid -19.*

“Oleh Hisnindarsyah Dokter RS TNI AL Marinir Cilandak