Polisi Tulungagung Gagalkan Penjualan 9 Ekor Daging Lumba-Lumba, Per Kg Dihargai Rp 5 ribu

TULUNGAGUNG, KANALINDONESIA.COM: Penjualan daging satwa dilindungi jenis ikan lumba-lumba moncong panjang berhasil dibongkar Unit Reskrim Polsek Kalidawir pada Jumat (2/3/2020). Daging lumba-lumba ini dijual dengan harga Rp 5 ribu per kilogram (kg).

Sembilan ekor lumba-lumba dalam kondisi mati dengan bagian sirip dan ekornya terpotong, serta bagian jeroannya yang telah dihilangkan berhasil disita dari sebuah gudang penyimpanan ikan masuk Dusun Sine Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir.
Dari kejadian tersebut, polisi mengamankan dua orang tersangka yang berprofesi sebagai nelayan yakni Sunar (49) dan penadahnya yakni Fredi (19) warga Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir.

Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia mengungkapkan, terbongkarnya kasus tersebut bermula dari laporan yang diterima petugas pada Kamis. Bahwasannya, ada seorang nelayan yang baru saja pulang melaut dengan membawa ikan lumba-lumba. Ketika itu, informasinya ada 9 ekor lumba-lumba dalam keadaan mati.

Baca:  Rumah Aspirasi DPR RI Dijadikan Posko Paslon, Akhirnya Dilaporkan ke Bawaslu

“Mendapat laporan tersebut akhirny apetugas langsung melakukan penyelidikan,” ungkapnya.

Hasilnya lanjut Pandia, ternyata informasi tersebut benar adanya. Saat petugas ke lokasi, juga menemukan Sembilan ekor lumba-lumba yang telah mati dan diawetkan dengan es.

“Kesembilan lumba-lumba tersebut bagian sirip, ekornya sudah terpotong. Seluruh isi dalam perutnya juga sudah dikeluarkan,” katanya.

Pandia melanjutkan, karena ikan lumba-lumba jenis moncong panjang ini termasuk satwa yang dilindungi, akhirnya si nelayan yakni Sunar diamankan untuk dilakukan pemeriksaan. Sunar mengaku jika ikan-ikan tersebut diperoleh saat melaut. Rencananya ikan tersebut akan dijual dengan harga Rp 5 ribu/kg.

“Dari keterangan Sunar, petugas langsung mengembangkan kasus dan berhasil menangkap si penadah yakni Fredi,” ungkapnya.

Baca:  Diduga Konsumsi Sabu, SenimanTatto Tulungagung ini Dibekuk Polisi

Pandia menambahkan, atas perbuatannya, tersangka bakal dijerat dengan pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ayat (2) huruf b UURI No 5 th 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistimnya.

“Ancaman hukumannya 5 tahun penjara,” pungkasnya.