Mahasiswa STKIP PGRI Jombang Demo Protes kepada Pihak Kampus

perwakilan mahasiswa saat menyampaikan tuntutannya kepada sejumlah pimpinan

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Sejumlah mahasiswa perguruan tinggi dari kampus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Jombang, yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Transparansi (AMPT) melakukan aksi di depan kampusnya, Kamis(12/01/2017).

Hal ini dikarenakan, mahasiswa merasa bahwa pihak penyelenggara kampus tidak transparan dalam mengelola keuangan yang bersumber dari mahasiswa tersebut dan dirasa oleh mahasiswa bahwa biaya pendidikan cukup tinggi serta perlu adanya penurunan.

Ini merupakan bentuk penolakan yang dilakukan oleh mahasiswa yang sebagian banyak adalah mahasiswa angkatan baru yakni angkatan 2016. Akan tetapi, bisa diketahui banyak orang bahwa kampus STKIP PGRI Jombang sudah bisa dikategorikan sebagai kampus yang transparatif dan progesif.

Sucipto, salah satu mahasiswa prodi Penjas angkatan 2016 STKIP PGRI Jombang, dalam orasinya mengatakan,”biaya perkuliahan kami rasa cukup tinggi dan perlu adanya pengelolaan yang transparasi, belum lagi biaya DPP dan SPP selama per semester sebesar Rp 3,8 juta terlalu besar nilainya bagi kami, dan kami meminta penjelasan pada pimpinan di kampus ini,” ujarnya, Kamis (12/01/2017).

Setelah mendengarkan tuntutan mahasiswa, akhirnya beberapa perwakilan mahasiswa diperbolehkan masuk ke kampus dan bertemu pimpinan.

Dalam demo mahasiswa kali ini, pengamanan dipimpin langsung oleh Kapolres Jombang, AKBP Agung Marlianto sehingga demo berjalan kondisif dan tertib. Bahkan Kapolres juga mengawal langsung jalannya pertemuan antara pimpinan dengan perwakilan mahasiswa yang demo.

Setelah puas dengan penjelasan pimpinan akhirnya masa aksi yang didominasi oleh mahasiswa angkatan 2016 inipun membubarkan diri.

Dr. Firman Mpd, selaku bagian humas kampus STKIP PGRI Jombang, menuturkan bahwa sebagian mahasiswa yang ikut aksi, merupakan mahasiswa baru dan belum paham dengan mekanisme administrasi di dalam kampus, karena sebenarnya tidak ada kenaikan biaya pendidikan untuk angkatan tersebut.

“Sebagian mahasiswa yang keberatan dengan kenaikan biaya pendidikan itu sebenarnya hanya salah paham. Mereka tidak mengerti benar management di dalam kampus ini,”ungkapnya, Kamis(12/01/2017).

Ketika disinggung soal kenaikan dan mekanisme administrasi di kampusnya, pria yang akrab disapa Pak Firman ini mengatakan,” dari awal calon maba masuk, itu sudah ada brosur yang lengkap dengan penjelasan rincian biaya tiap angkatan, karena tiap angkatan di kampus ini beragam biaya pendidikannya, mulai dari angkatan 2015 dan angkatan 2016 pasti berbeda, dan yang paling jelas adalah setiap mahasiswa ketika masuk di kampus ini pasti menandatangani kesanggupannya untuk menaati segala peraturan di dalam kampus ini, dan kesemuannya itu diatas materai, jadi kan sudah gak ada keluhan sebenarnya,”tegasnya.

Masih menurut Firman,” belum lagi mahasiswa seharusnya bangga terhadap kampus ini, mengingat Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) sudah diterapkan di kampus ini, namun biaya perkuliahan kita masih jauh dari standar nasional, karena pimpinan beserta yayasan di kampus mempunyai strategi yang terintegritas untuk mewujudkan kampus yang berstandar nasional dengan harga pendidikan yang murah dan terjangkau bagi masyarakat, nah sekarang kalau ditanya mahal atau tidak mereka bisa berkaca pada kampus-kampus yang lain, dan membandingkan biaya pendidikannya,” pungkasnya.(elo)