Kabupaten Trenggalek Raih Juara Pertama Kriya Dekranasda Pemprov Jatim 2020

Novita Handini Arifin, Ketau Dekranasda Kab Trenggalek tampil lagi d catwalk Kriya Dekranasda Pemprov Jatim 2020 Grand City Mall, Surabaya (3-8) Maret 2020 dan raih juara pertama

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Kabupaten Trenggalek berhasil meraih juara 1 di ajang Gelar Kriya Dekranasda Provinsi Jawa Timur tahun 2020 .
Gelar Kriya Dekranasda Provinsi Jawa Timur tahun 2020 sendiri digelar di Grand City Mall, Surabaya (3-8) Maret 2020. Dekranasda 38 Kabupaten/ Kota di Jawa Timur ikut ambil bagian dalam ajang ini.
Yang mengejutkan , penampilan Novita Hardini Arifin, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Trenggalek, karena penampilannya di panggung Catwalk untuk meragakan Batik Tulis Warna Alam dengan motif perpaduan Turonggo Yakso dan Van Dilem merhasil menduduki podium utama.
“Ini pencapaian yang sangat luar biasa, bagi Dekranasda Kabupaten Trenggalek setelah berikhtiar bertahun tahun akhirnya kita bisa meraih yang terbaik,” ungkap Novita Hardini usai menerima penghargaan ini, Kamis,(5/3) di Surabaya.
Lebih lanjut Novita menambahkan, tampilnya Trenggalek di Ajang ini bagian dari promosi daerah karena Trenggalek diakui atau tidak punya segudang tempat wisata yang molek.
“Kita semua berharap, Kabupaten Trenggalek bisa terus berprestasi, meraih prestasi demi prestasi. Dan di tahun 2020 ini, penghargaan ini menjadi prestasi pertama yang kita dapatkan di tahun ini,” lanjutnya.
Dari penghargaan ini , Dia ingin menjadi kebanggaan dan motivasi serta pembuktian bawasannya Kabupaten Trenggalek mampu menjadi yang terbaik dari Kabupaten-kabupaten yang lain.
“Harus lebih baik dan lebih maju serta jangan kalah dengan kabupaten/kota yang lain ,” lanjutnya.
Dengan adanya juara ini, dirinya berharap Kabupaten Trenggalek juga mempunyai kebanggaan akan produk produknya sendiri.
“Dengan begitu bisa mempengaruhi kepercayaan diri kami yang ada di daerah-daerah, di desa-desa bisa berdaya saing lebih untuk kemajuan Dekranasda di Jawa Timur,”cetusnya.

Baca:  Cabup 01Trenggalek Alitofan Sempatkan Ziarah Makam Aulia

Sedangkan kepada pelaku UKM di Trenggalek, Ketua Dekranasda ini berpesan, untuk lebih kreatif. Jadikan prestasi ini untuk membuka pemikirannya lebih open minded tidak hanya punya kemampuan untuk membatik saja, melainkan punya kemampuan untuk membuat seutas kain batik menjadi baju yang bernilai seni dan bernilai jual yang lebih tinggi lagi, tutupnya.

Perpaduan Batik Turonggo Yakso dan Van Dilem Tampil dalam Gelar Kriya Dekranasda Jatim 2020
Batik Trenggalek kembali ramaikan ajang Gelar Kriya Dekranasda Provinsi Jawa Timur tahun 2020, di Grand City Mall Surabaya, Rabu (4/3/2020).
Kali ini motif batik yang dipilih adalah perpaduan antara motif Batik Turonggo Yakso dan Van Dilem, dimana Pemerintah Kabupaten Trenggalek ingin mencoba mengenalkan kesenian dan hasil perkebunan yang ada di Bumi Menak Sopal Trenggalek.
Mardiyanto, (48), seniman tulen asal Tugu Trenggalek menjelaskan, suatu kebanggaan, karena batik ini diperagakan langsung oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Trenggalek, Novita Hardini Mochamad, yang tentunya semakin melengkapi keindahan Batik Trenggalek ini sendiri.
Turonggo Yakso merupakan kesenian asli dari Kabupaten Trenggalek. Kesenian ini berasal dari wilayah Kecamatan Dongko yang terletak di daerah pegunungan selatan Trenggalek.
“ Tarian ini muncul saat terjadi malapetaka, yakni kematian hewan ternak dan tanaman petani,”jelas pelukis dan pemerhati seni alumni ISSI Yogjakarta ini.
Setelah bertapa, seorang kesatria mendapat wangsit untuk merendam kuda raksasa di suatu kubangan air lalu meminumkannya pada hewan ternak dan menyiramkannya pada sawah yang rusak. Upaya ini membuahkan hasil.
“Sebagai wujud puji syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, warga desa setempat melakukan upacara ‘Baritan’, yang artinya dilaksanakan bubar ngarit, tandur. Para petani melakukan upacara dengan membawa sesaji, ambeng dan tali dadhung yang diikatkan di atas pogo dengan harapan hewannya terhindar dari penyakit,”imbuhnya.
Upacara ini terus diperingati setiap 1 Suro. Dalam upacara tersebut ditampilkan Tari Turonggo Yakso. Tarian ini menceritakan tentang kemenangan warga desa dalam mengusir marabahaya yang menyerang desanya.
“Turonggo yakso digambarkan sebagai Kuda yang berkepala Buto, yang bermakna kesatria bijaksana yang dapat mengendalikan seekor hewan raksasa,”imbuhnya.
Saat ini tari turonggo yakso berkembang sangat pesat, tidak hanya untuk tontonan atau hiburan saja, tetapi menjadi tarian yang bersifat seremonial. Sejarah Tarian Turonggo Yakso ini menggambarkan bahwa suatu karya seni dapat tercipta dari musibah yang tak terduga.
Sedangkan , Agrowisata Dilem Wilis berada di kawasan lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Dompyong Kecamatan Bendungan, Trenggalek. Ditempat itu terdapat sebuah bekas perkebunan dan pabrik pengolahan kopi di zaman Belanda. Pabrik kopi ini sudah ada sejak masa penjajahan Belanda yaitu tahun 1929.
“Pemilik pabrik kopi ini adalah warna Belanda yang bernama Meneer Van Dilem, yang saat ini digunakan untuk menamai kawasan perkebunan tersebut,”tuturnya.
Saat ini peninggalan Belanda ini dikembangkan menjadi kawasan Agrowisata Heritage Dilem Wilis. Mesin pembuatan kopi dan sisa-sisa Pabrik kopi ini menjadi saksi sejarah masa kwjayaan kopi di Trenggalek yang masih bisa di operasikan sampai sekarang.
“Kini Dilem Wilis berkembang menjadi destinasi wisata yang baru,”pungkas pria yang dikenal di dunia seni berjuluk Jeansen ini.
Penulis: Eny Suprapti

Baca:  Sambangi Ponpes Ar Ridwan Trenggalek, Nyai Pandan Arum Zaenal Bawa Angin Segar untuk Pendidikan Pesantren