Bupati Trenggalek Ingin Musrena Keren Tahun Kedua Lebih Dikawal

Usai pembukaan Musrena Keren tahun 2020 atau tahun kedua, Bupati Trenggalek H Moch Nur Arifin pose bersama Sekda Joko Irianto dan bintang tamu stand up Komedian disabilitas, Aditya Dani, pendopo Manggala Praja Nugraha, Kamis,(12/3)

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Perempuan, anak, disabilitas dan kelompok rentan di Trenggalek dilibatkan dalam perencanaan pembangunan dalam wadah Musrena Keren. Kali ini diselenggarakan untuk Tahun kedua atau Tahun 2020.
Sebelumnya pertama kali di gelar Musrena Keren tahun 2019 yang hanya diikuti 3 kecamatan diantaranya Dongko, Pule dan Watulimo. Sedangkan Musrena Keren Tahun 2020 seluruh wilayah kecamatan atau 14 kecamatan di Kabupaten Trengalek telah mengikuti.

Musrena Keren sendiri adalah kependekan dari musyawarah perempuan, anak, disabilitas dan kelompok rentan lainnya sebagai wujud keberpihakan Pemkab Trenggalek terhadap kesetaraan gender, kelompok perempuan, anak, disabilitas dan kelompok rentan.

Musrena Keren ini digelar di Pendopo Manggala Praja Nuraga dan menjadi satu satunya Kabupaten yang menggelar Musrenakeren. Sebelumnya musyawarah yang sama juga digelar di 14 Kecamatan yang ada.

Menurut Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin alasan kenapa dirinya menggelar Musrena keren di Trenggalek, karena ingin suara perempuan, anak, disabilitas dan kelompok rentan lebih didengar oleh pemerintah. Dengan begitu ada keperpihakan pemerintah terhadap kelompok rentan dan pemerintahan yang lebih inklusif itu benar-benar terwujud di Trenggalek.

Baca:  Ciptakan Alat Tepat Guna, Polisi Trenggalek ini Jadikan Rumah Janda Miskin Nikmati Aliran Listrik

“Berikan ruang agar mereka itu terfasilitasi,”ungkapnya.

Lebih dari itu penajaman hasil dari Musrena Keren, masih menurut Arifin hanya ada pada cara mengawal dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang singkron dengan kegiatan usulan kelompok masing-masing kecamatan.

“Usulan itu harus dikawal dan inisiasi dari OPD agar masuk di RKPD nya,”tuturnya.

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) menjadi pijakan awal dalam menentukan apakah usulan hasil Musrena Keren itu sudah ditindaklanjuti apa belum.

“Ya harus masuk RKPD sehingga aman saat digedoknya APBD,”tegasnya.

Sedangkan Ketua TP PKK Trenggalek, Novita Hardini Mochamad menambahkan, dengan Musrena Keren ada wadah bagi Perempuan, anak, disabilitas dan kelompok rentan untuk terlibat dalam pembangunan melengkapi tahapan Musrenbang.

Baca:  Bupati Trenggalek Tegaskan Gotong Royong Kunci Perangi Covid-19

“Suara dari kelompok marginal bagi kita di pemerintah wajib hukumnya untuk diperhatikan dan diwujudkan,”ucapnya.

Perempuan yang getol memperjuangkan perempuan dan kelompok rentan ini juga menyebut bahwasannya Musyawarah Perempuan, anak, disabilitas dan kelompok rentan yang digelar Trenggalek, merupakan yang pertama dan satu-satunya yang ada di tanah air.

“Gagasan ini murni keberpihakan kita kepada kaum perempuan dan marginal,”cetusnya.

Kepala Dinas Sosial,Perlindungan, Pemberdayaan, Perempuan dan Anak (Dinsos P3A) Ratna Sulistyowati, membenarkan jika Musrena Keren kali ini telah berhasil mengikutkan 14 kecamatan , dimana tahun 2019 yang lalu masih diikuti 3 kecamatan saja.

“Alhamdulillah kini seluruh kecamatan sudah ikut,”katanya.
Ratna berjanji akan mengawal usulan dari Musrena Keren utamanya yang terkait dengan yang dibidanginya saat ini.

Baca:  Bupati Lamongan Bangun 50 Rumah untuk Nelayan

“Pasti nanti kita rangkum usulan dan kita koordinasikan dengan TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) mulai dari dari RKPD nya,”tandasnya.

Perwakilan Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK) Jawa Timur, Sarwo Edi mengapresiasi terselenggaranya Musrena Keren di Trenggalek yang digelar untuk kesekian kalinya. “Ada banyak yang keren-keren di Trenggalek dan semoga Trenggalek Meroket dengan keren,” ujar Manager Kompak Jatim ini.

Masih menurut pria yang akrab disapa Bob ini, selain Musrenakeren di Trenggalek ada sekolah perempuan, anak, disabilitas dan kelompok rentan (Sepedakeren)) yang merupakan sekolah vokasi untuk perempuan dan kelompok rentan agar lebih berdaya dan juga Rumah perempuan. “Pokoknya banyak yang kerenlah,” imbuh aktivis Kompak ini.

Penulis : Eny Suprapti