Mulyono Sutrisno : Saya Pemilik Excavator Tidak Mengerti Ada Lelang oleh Kejaksaan

KANALINDONESIA.COM, KEDIRI : Mulyono Sutrisno (53) asal Desa Bugasur Kedaleman, Kecamatan Gudo, Jombang yang merupakan pemilik Excavator warna kuning merk CAT yang dilelang oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Kediri, mulai dari awal pemeriksaan oleh penyidik kepolisian hingga proses persidangan dalam perkara terdakwa Syafudin Bin (alm) Musni atas kasus pertambangan ilegal, status Mulyono Sutrisno adalah saksi pemilik atas alat berat tersebut.

Namun yang janggal dari perkara lelang barang rampasan ini Mulyono Sutrisno tidak pernah mendapatkan surat pemberitahuan lelang, justru pihaknya baru mengetahui kalau Excavator miliknya kini sudah menjadi milik pengusaha dari Madura yang merupakan pemenang lelang tersebut, dari ramainya pemberitaan oleh media.

“Saya gak tahu mas, kalau alat berat saya sudah dilelang kejaksaan, justru saya tahu setelah membaca informasi dari media,” ujarnya pada KANALINDONESIA.COM, Rabu (01/02/2017).

Saat disinggung soal statusnya dalam perkara terdakwa Syaifudin yang sudah di putus oleh PN Kediri nomor :54/Pid.Sus/2016/PN.Gpr, pihaknya menyatakan bahwa statusnya saat itu adalah sebagai saksi pemilik alat berat.

“Dalam perkaranya mas Syaifudin saya statusnya sebagai saksi pemilik alat berat, saya juga diperiksa di Polres Kediri waktu itu, dan saya juga didatangkan dalam persidangan dengan membawa faktur pembelian alat berat saya yang waktu itu saya beli dengan harga 170 juta dari CV. SOESISWO PUTRA,” tegasnya.

Ketika ditanya soal pemberitahuan lelang rampasan oleh Kejari Kabupaten Kediri,  selaku pemilik alat berat Excavator, ia mengaku jika tidak pernah menerima surat pemberitahuan kepadanya sebagai pemilik alat berat tersebut.

“Tidak pernah dapat mas, saya tidak pernah menerima surat pemberitahuan dari kejari Kediri,” pungkasnya.

Sementara itu, Benny Nugroho, S.B, SH, selaku Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejari Kabupaten Kediri, ketika dikonfirmasi soal adanya saksi pemilik alat yang juga diperiksa dan dihadirkan dalam sidang Syaifudin, namun tidak menerima pemberitahuan lelang rampasan, pihaknya menuturkan bahwa, semua itu sudah menjadi keputusan hakim dalam persidangan dan tentunya keputusan tersebut sesuai dengan fakta persidangan.

“Semua ini kan diputuskan oleh pak hakim, melalui fakta persidangan dan kami di kejaksaan hanya menjalankan putusan tersebut,” ujarnya.

Pun demikian, saat ditanya soal kenapa pemilik alat berat tidak menerima pemberitahuan lelang, padahal Sutrisno juga diperiksa dan didatangkan dalam persidangan Beny Nugroho mengatakan,” itu kan yang mutus pak hakim, dan menurut hakim alat tersebut adalah milik terdakwa, seharusnya terdakwa menolak pada saat putusan di bacakan, kalau terdakwa diam ya alat itu dianggap milik terdakwa, maka surat pemberitahuan lelangnya tidak ke Sutrisno,” terangnya.

Dan dalam perkara ini perlu dipahami dan diuraikan terlebih dahulu proses lelang barang rampasan.

Hal ini disampaikan oleh praktisi hukum Beny Hendro Yulianto, SH, memaparkan bahwa mekanisme lelang ada prosedur termasuk dalam memahami kronologis perkara dan alat bukti, untuk kasus ini alat berat tersebut adalah alat bukti dan bukan alat bukti hasil kejahatan.

“Dipahami dulu perkaranya, dan harus diuraikan, antara alat bukti dan alat bukti hasil kejahatan, kalau alat bukti kan alat yang digunakan melakukan kejahatan kalau alat bukti hasil kejahatan adalah alat atau benda yang digunakan melakukan kejahatan yang sumber dana untuk pembelian alat tersebut dari hasil kejahatan, dalam perkara ini Excavator itu menurut faktur pembeliannya tertera tahun 2012, sedangkan penangkapan terdakwa ada pada tahun 2015, jelas ini ada pembedaannya, selanjutnya uang yang digunakan untuk pembelian excavator tidak diperoleh dari hasil kejahatan, nah ini kan ada perbedaannya dan ini juga akan mempengaruhi latar belakang pelelangan. Dan yang paling penting proses lelang harus juga mendatangkan ahli tafsir harga agar harga jual lelangnya tidak dibawah standart, ahli tafsir ini bisa diambil dari kalangan profesional atau ahli,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya bahwa LSM TC Jatim menyoal proses lelang barang rampasan oleh Kejari Kabupaten Kediri.

LSM TC Jatim menduga jika ada rekayasa dalam proses lelang tersebut.(elo)