SURABAYA KANALINDONESIA.COM – Fraksi Nasdem mengingatkan Pemprov Jatim untuk tanggap dan waspada dengan perubahan iklim global terutama munculnya fenomena La Nina yang secara pengalaman memunculkan curah hujan di penghujan tahun dengan intensitas cukup tinggi khususnya di Jawa Timur.
M Nasich Ashchal Ketua Fraksi Nasdem DPRD Jatim mengatakan, mengacu pada perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa puncak musim penghujan 2025 akan terjadi pada kisaran Januari hingga Februari mendatang. Maka sudah seharusnya kata Politisi muda yang akrab disapa Lora Nasich ini, Pemprov Jatim lebih proaktif untuk melakukan komunikasi, sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak terkait dalam upaya antisipasi dan mitigasi bencana yang bisa terjadi akibat curah hujan yang tinggi tersebut.
“Potensi banjir susulan atau pun genangan air yang cukup tinggi di beberapa daerah di Jatim yang menjadi langganan banjir perlu dilakukan antisipasi dan penanganan yang baik dari hulu ke hilir. Setiap permasalahan yang muncul dari hulu ke hilir harus dikaji dengan benar. Kami mendorong Pemprov proaktif berkomunikasi dengan pemerintah kabupaten atau kota dan tentunya dengan BBWS untuk memastikan kesiapan antisipasi terjadinya banjir susulan,” katanya saat dikonfirmasi Rabu (8/1/2025).
Politisi Madura ini menegaskan, penanganan banjir tidak bisa sepotong sepotong tetapi ini harus dilakukan secara tuntas dan komprehensif serta terintegrasi dengan baik. Permasalahan dari hulu ke hilir, ia mencontohkan dari hulunya itu ini erat kaitanya dengan potensi terjadinya penggundulan hutan atau pengembangan lahan untuk pembangunan baik pemukiman ataupun bangunan yang lain sehingga menyebabkan daerah resapan air menjadi berkurang secara maksimal.
“Akibatnya air yang mengalir ke sungai itu debitnya menjadi besar sehingga berpotensi menyebabkan banjir,” beber pria asal Bangkalan ini.
Selanjutnya terkait permasalahn sungai, kata Lora Nasich diperlukan duduk bersama untuk bersinergi dalam usaha mencegah dan mengantisipasi terjadinya banjir. Bicara sungai berarti kita melibatkan beberapa pihak, mengingat sungai itu ada yang menjadi ranahnya BBWS Brantas maupun BBWS Bengawan Solo. Kemudian ada juga yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.
“Makanya kita berharap ada kolaborasi antara BBWS, Pemprov Jatim dan pemerintah kabupaten maupun kota sehingga sinergitas ini perlu dilakukan untuk menghasilkan sebuah solusi yang terbaik,” harapnya.
Di sisi lain, masalah kebersihan sungai juga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap terjadinya banjir. Mengingat, masih banyak dijumpai adanya sampah alami seperti enceng gondok, bambu, ranting dan batang pohon tumbang yang dibiarkan masuk ke sungai. Bahkan karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai sehingga mereka membuang sampah rumah tangga ke sungai tanpa berpikir dampak yang bisa ditimbulkan seperti aliran sungai buntu dan menjadi dangkal sehingga mengakibatkan banjir.
“Potensi lain yang bisa timbul dalam permasalahan sungai sungai di Jatim adalah adanya penyempitan dan pendangkalan sungai. Kemudian tanggul yang kategorinya masuk kategori kritis, ini menjadi problematika yang luar biasa dalam penanganan banjir.” tegas Lora Nasich Ashchal.

