Muak Jalan Rusak 30 Tahun, Warga Ngawi Tanam Pohon Pisang di Tengah Aspal
NGAWI, KANALINDONESIA.COM: Sejumlah warga di Dusun Gemporapah, Desa Selopuro, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, melakukan aksi protes unik dengan menanam belasan pohon pisang di tengah jalan yang rusak parah dan berlubang.
Aksi ini menjadi puncak kekecewaan warga lantaran jalan alternatif penghubung Ngawi (Jawa Timur) dengan Blora (Jawa Tengah) sepanjang 750 meter tersebut tidak pernah mendapat perbaikan selama 30 tahun.
Warga mengaku aksi ini mereka tempuh untuk menarik perhatian Pemerintah Daerah agar segera memperbaiki infrastruktur vital tersebut. Kondisi jalan yang penuh lubang membahayakan pengguna jalan, terutama saat musim penghujan.
Agil Setyo Nugroho, salah satu warga setempat, menjelaskan bahwa kerusakan jalan tersebut sudah terjadi sangat lama, namun hingga kini belum ada perbaikan dari Pemerintah Desa. Warga merasa hanya diberi janji tanpa realisasi.
“Jalan ini rusak sudah lama sekali. Kami sudah sering mengeluh, tapi hanya dijanjikan terus, tidak pernah ada perbaikan,” ujar Agil Setyo Nugroho.
Ia menambahkan, kondisi jalan semakin parah saat memasuki musim penghujan. Selain itu, banyaknya kendaraan truk pengangkut tebu yang melintas memperburuk kerusakan.
Kepala Desa Selopuro, Sunarno, membenarkan bahwa rencana perbaikan jalan tersebut sudah masuk dalam daftar. Sunarno menyatakan bahwa jalan desa tersebut sedianya akan mendapat bantuan perbaikan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim), tetapi rencana itu belum terealisasi.
“Memang benar, jalan ini direncanakan mendapat bantuan dari Pemprov Jatim, tetapi sampai sekarang belum turun,” jelas Sunarno.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Desa telah menggelar Musyawarah Desa (Musdes) bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) serta RT/RW. Musdes memutuskan untuk mengalokasikan anggaran perbaikan melalui Dana Desa pada tahun 2026 mendatang.
Terkait kendaraan berat, Sunarno menambahkan bahwa truk pengangkut tebu yang melintas memberikan kompensasi sebesar Rp10.000,00 untuk setiap truk. Uang kompensasi, yang rata-rata mencapai 100 unit per hari selama musim giling, dikelola langsung oleh warga setempat.
Saat ini, warga berharap Pemerintah Desa atau Pemerintah Kabupaten segera merealisasikan perbaikan, sehingga akses masyarakat menjadi lebih mudah dan aman.(Rzl)






















