PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri, Bambang Priambodo, resmi mengemban amanah baru sebagai pengurus Kasepuhan Glagah Wangi Notoprojo. Pria asli Ponorogo ini mengaku terpanggil untuk memperkuat pelestarian seni budaya di tanah kelahirannya, terutama dalam menjaga marwah Reyog Ponorogo di kancah internasional.
“Sebagai putra daerah, hati saya selalu terpanggil untuk pulang dan berbuat sesuatu bagi tanah kelahiran. Bergabung dengan Kasepuhan Glagah Wangi adalah wujud komitmen saya untuk ikut menjaga marwah Reyog Ponorogo agar terus hidup dan semakin dikenal dunia,” ujar Bambang dengan penuh semangat usai prosesi pengukuhan.
Acara pengukuhan yang berlangsung di Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ponorogo, Agus Sugiarto, yang datang mewakili Plt Bupati Ponorogo. Kehadiran jajaran pemerintahan ini mempertegas pentingnya sinergi antara komunitas adat dan pemerintah dalam melestarikan tradisi lokal.
Bambang Priambodo menilai, posisi paguyuban seperti Kasepuhan Glagah Wangi Notoprojo memiliki peran vital sebagai benteng utama dalam membentengi identitas budaya lokal dari arus globalisasi.
Ia menggarisbawahi bahwa kesenian Reyog bukan sekadar hiburan komersial, melainkan sebuah mahakarya yang sarat akan nilai kebersamaan, kekuatan, keikhlasan, serta misi spiritualitas dan sosial yang sangat tinggi.
Sebagai pejabat aktif yang sehari-hari menakhodai urusan kebudayaan di Kediri, Bambang siap menularkan pengalaman birokrasi dan jaringan luasnya untuk memperkuat kolaborasi budaya antardaerah demi kemajuan Bumi Reyog. Ia menegaskan, langkah ini murni lahir dari panggilan jiwa seorang putra daerah yang ingin memastikan warisan leluhurnya terus lestari.
Sementara itu, Ketua Kasepuhan Glagah Wangi Notoprojo, KH. Hamim Fahrurruji Hadi, menekankan bahwa momentum pengukuhan ini memikul tanggung jawab moral yang besar. Ia juga menjelaskan bahwa nama “Glagah Wangi” diambil dari akar sejarah babad Ponorogo yang merujuk pada wilayah legendaris besutan Raden Katong, pendiri Ponorogo. Nama ini menyimbolkan keteguhan iman dan keharuman nama yang harus dijaga oleh para generasi penerus.
KH. Hamim Fahrurruji Hadi mengingatkan kepada seluruh pengurus baru bahwa mandat ini bukan sekadar urusan seremonial di atas kertas, melainkan sebuah instruksi nyata untuk bergerak bersama di lapangan demi mempertahankan marwah Reyog Ponorogo sebagai warisan budaya dunia yang sah.

