BANDUNG BARAT, KANALINDONESIA.COM: Dampak bencana cuaca ekstrem yang menerjang Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terus didata. Hingga Selasa (27/10/2026) siang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB mencatat sebanyak 524 rumah dan sembilan bangunan fasilitas sosial serta fasilitas umum (fasos-fasum) terdampak.
Data terbaru tersebut menunjukkan luasnya dampak bencana angin kencang yang melanda sejumlah wilayah Padalarang pada Senin (26/10/2026) sore. Kerusakan yang terjadi membuat penanganan dan pendataan terhadap warga terdampak menjadi perhatian pemerintah daerah.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Barat, Rega Wiguna, menyampaikan bahwa jumlah tersebut merupakan hasil pendataan sementara hingga siang hari. Data dapat mengalami perubahan seiring proses verifikasi dan pembaruan informasi dari petugas di lapangan.
Bencana tersebut berdampak pada empat desa di Kecamatan Padalarang, yakni Desa Kertajaya, Kertamulya, Padalarang, dan Laksanamekar. Rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan yang beragam akibat terjangan angin kencang.
Selain kerusakan permukiman, sembilan bangunan fasos-fasum turut masuk dalam pendataan BPBD. Kerusakan pada bangunan tersebut menambah cakupan dampak bencana yang perlu ditangani oleh pemerintah bersama unsur terkait.
LONGSOR JUGA TERJADI DI CAMPAKAMEKAR
Di tengah penanganan dampak angin kencang, bencana tanah longsor juga dilaporkan terjadi di Desa Campakamekar. Hujan deras memicu pergerakan tanah hingga menimpa satu rumah warga.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri karena hujan dengan intensitas tinggi berpotensi meningkatkan risiko longsor, terutama di kawasan yang memiliki kondisi tanah labil.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana susulan. Warga yang tinggal di sekitar lereng, tebing, maupun bangunan yang mengalami kerusakan diminta memperhatikan kondisi lingkungan dan menghindari lokasi berbahaya.
WAKIL BUPATI TINJAU LOKASI TERDAMPAK
Sebelumnya, Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, turun langsung meninjau wilayah terdampak untuk melihat kondisi warga sekaligus memastikan penanganan darurat berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.
Langkah tersebut dilakukan menyusul instruksi Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, agar jajaran pemerintah daerah segera merespons bencana dan memberikan perhatian kepada masyarakat yang terdampak.
“Bapak Bupati menginstruksikan kami untuk segera turun ke lapangan dan memastikan seluruh kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi tanpa tertunda,” ujar Asep saat menemui warga.
Pemkab Bandung Barat bersama BPBD, unsur TNI-Polri, relawan, dan pihak terkait terus melakukan koordinasi dalam penanganan dampak bencana. Upaya yang dilakukan meliputi pendataan kerusakan, pemantauan kondisi warga, serta penanganan kebutuhan darurat sesuai kondisi di lapangan.
DATA KERUSAKAN JADI DASAR PENANGANAN
Pembaruan data menjadi bagian penting untuk menentukan langkah penanganan lanjutan, termasuk mengidentifikasi kebutuhan warga dan tingkat kerusakan bangunan.
Dengan jumlah sementara mencapai 524 rumah dan sembilan bangunan fasos-fasum terdampak, proses verifikasi diperlukan agar penanganan dan penyaluran bantuan dapat disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan kerusakan maupun potensi ancaman bencana kepada aparat desa atau petugas kebencanaan setempat.
BPBD dan unsur terkait diharapkan terus memperbarui informasi perkembangan situasi, mengingat pendataan masih berlangsung. Prioritas penanganan diarahkan pada keselamatan warga, pemenuhan kebutuhan mendesak, serta upaya mengurangi risiko apabila cuaca ekstrem kembali terjadi.
Bencana di Padalarang ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi hujan deras dan angin kencang, terutama di kawasan permukiman padat serta wilayah yang rawan pergerakan tanah.

