Home / Daerah / Jatim

Senin, 9 Agustus 2021 - 14:55 WIB

Aufa Zhafiri Minta Masyarakat Awasi Dana Bansos Agar Tak Ada lagi Kasus Seperti Pendamping PKH di Malang

Editor - ANANG

SURABAYA KANALINDONESIA.COM : Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Jatim, Aufa Zhafiri menyampaikan apresiasi terhadap keberhasilan Polres Malang mengungkap korupsi dana bantuan sosial (bansos). Pada Minggu (8/8), Polres Malang mengumumkan kasus korupsi dana Program Keluarga Harapan (PKH) oleh seorang pendamping.

“Kami apresiasi kepada aparat penegak hukum dalam hal ini Polres Malang yang sudah mengungkap kasus ini,” kata Aufa Zhafiri, Anggota DPRD Jatim dari Dapil Malang Raya ini, Senin (9/8/2021).

Politisi muda Partai Gerindra ini pun telah menyerukan dan memberikan instruksi kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada kader Partai Gerindra untuk turut serta mengawasi dan mengawal agar tidak terjadi kasus serupa.

“Dan jika menemukan adanya dugaan kasus itu untuk segera melaporkan. Karena bantuan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat apalagi pandemi Covid-19 masih melanda,” tegas Aufa yang juga putera Wakil Wali Kota Blitar Tjutjuk Soenarjo.

Menurut Aufa, langkah tegas aparat penegak hukum tersebut sekaligus menjadi pesan kepada semua pihak untuk tidak mempermainkan penyaluran bansos. Terlebih, pendamping sudah mendapat honor sehingga tak ada alasan untuk mengurangi hak penerima bansos.

Baca Juga  Di Kampung Kelahirannya , Moeldoko Didukung Ratusan Warga Maju Capres 2024

“Bantuan itu diberikan untuk masyarakat yang beban hidupnya berat, apalagi di masa pandemi. Jangan lagi dikurangi dengan cara melanggar hukum,” ujarnya.

Dalam jumpa pers, Polres Malang menetapkan seorang perempuan pendamping PKH berinisial PT (28) sebagai tersangka kasus korupsi dana bansos. Warga Perumahan Joyogrand, Lowokwaru, Kota Malang itu melakukan tindak pidana dengan modus tidak memberikan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) pada sekitar 37 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH di Kabupaten Malang.

Rinciannya, 16 KPM tidak pernah diberikan KKS, sementara 17 KKS tetap aktif padahal KPM tidak ada di tempat atau meninggal dunia. Sementara untuk 4 KKS, bantuannya dicairkan, tetapi dana yang diberikan hanya sebagian.

Kapolres Malang AKBP Bagoes Wibisono menyatakan, seluruh dana bansos yang dikuasai tersangka dibelanjakan untuk kepentingan pribadi seperti laptop dan televisi, serta membantu biaya pengobatan sang ibu.
Dalam pengakuannya kepada penyidik, aksi kejahatan diperkirakan berlangsung mulai tahun anggaran 2017 hingga tahun 2020.

Baca Juga  Bangkitkan Semangat Kemerdekaan, DHC BPK 45 Kota Madiun Bagikan Ratusan Bendera Gratis

Tersangka menjabat sebagai pendamping sosial PKH Kabupaten Malang sejak Tangan. 12 September 2016 sampai 10 Mei 2021. Total kerugian negara ditaksir mencapai Rp450 juta.

PT disangka melanggar peraturan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Nomer 02/3/KP/.05.03/10/2020 tentang Kode Etik SDM PKH, juga dijerat pasal 2 ayat 1 sub pasal 3 sub pasal 8 UU nomer 20 tahun 2001 atas perubahan UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dia terancam hukuman pidana penjara paling lama seumur hidup atau 20 tahun penjara dan denda paling banyak Rp1 miliar.

Sebelumnya, pengungkapan kasus juga dilakukan Kejaksaan Negeri Tangerang (Kejari), di mana dua orang pendamping PKH ditetapkan sebagai tersangka. Nang

Share :

Baca Juga

Maluku Utara

Jelang HUT Universitas Khairun Ternate ke-58 Tahun, Sharing Session Digelar

Daerah

Komisi A DPRD Gresik Gelar FGD Penanggulangan Banjir dan Mendongkrak PAD

Jatim

Kapolres Gresik Hadiri HANI Bersama Forkopimda Secara Virtual

Bola

Soal Kericuhan Pertandingan Sepak Bola Liga Santri di Jombang, Begini Duduk Perkaranya

Jatim

Sebanyak 45 Rumah Warga Jember di Tiga Desa Terendam Banjir

Jabar

Warga Kelurahan Margadadi Dapat Bansos dari Polres Indramayu

Jatim

Kepala Desa Tidak Usah Takut, Kapolres : Diperas Laporkan !

Jabar

Bhabinkamtibmas Polsek Indramayu Pantau Penerapan Prokes PTMT di SMK NU