Home / Pendidikan

Jumat, 3 September 2021 - 15:29 WIB

Diateck Bawa Mahasiswa Battra Unair Sabet Juara Bafeng 2021

Editor - SHITA

Aplikasi Diateck bawa dua mahasiswa Battra Unair raih Juara Bafeng 2021 (foto :istimewa)

Aplikasi Diateck bawa dua mahasiswa Battra Unair raih Juara Bafeng 2021 (foto :istimewa)

Surabaya, KanalIndonesia.com : Dua mahasiswa Prodi Pengobat Tradisional (Battra) Fakultas Vokasi Universitas Airlangga meraih juara 1 lomba esai nasional, Battra Festival Essay and Creating Video (Bafeng 2021). Keduanya Qori Qonitatuz Zahra dan Ely Rochimatun Ni’mah meraih juara lewat ide aplikasi pendeteksi dini penyakit Diabetes Melitus (DM) tipe 2 melalui segmentasi citra lidah, bernama Diabetic Tongue Check (Diateck).

Keduanya mengalahkan 112 mahasiswa dari seluruh Indonesia dengan pemilihan subtema teknologi, “Mengoptimalkan Peranan Pengobatan Tradisional Menuju Indonesia Emas 2045”. Qori selaku ketua tim membeberkan latar belakang munculnya ide aplikasi tersebut yaitu dapat melakukan deteksi terhadap penyakit pada manusia yang memiliki kadar glukosa (gula) darah di atas normal atau yang kerap dikenal sebagai penyakit DM tipe 2.

“Ide tersebut berawal dari kerabat saya yang terserang DM tipe 2 karena keturunan keluarga. Ternyata setelah saya telusuri, kebanyakan seorang yang mengidap penyakit tersebut baru menyadari ketika mereka telah sampai tahap komplikasi,” terang mahasiswa Battra tersebut, Jumat (3/9/2021).

Baca Juga  Jelang HUT Kemerdekaan RI ke-77, YPTA Surabaya Gelar Lomba Agustusan

“Tentunya hal tersebut berakibat fatal. Apalagi komplikasi dari DM tipe 2 ini tergolong berat, seperti arteriosklerosis (menumpuknya lemak atau zat lain di dinding arteri) hingga gagal jantung,” imbuhnya.

Qori juga menjelaskan bahwa Diateck memanfaatkan ilmu penegakan diagnosis berdasarkan lidah dalam Traditional Chinese Medicine (TCM). Menurutnya, setiap penyakit bermanifestasi pada penampakan lidah yang berbeda, tergantung sindrom yang diderita.

Lebih lanjut, sistem pada Diateck tersebut bekerja mencocokkan foto lidah yang dimasukkan pengguna dengan basis data lidah DM tipe 2. Kemudian hasilnya akan muncul persentase risiko berdasarkan kecocokan citra lidah.

Baca Juga  Wow! 18 Mahasiswa UK Petra Lolos Masuk Program MSIB

“Pengguna memasukkan gambar lidahnya. Nah, itu nanti gambarnya disamakan dengan basis data yang sudah ada pada aplikasi. Kemudian secara otomatis boot aplikasi menampilkan persentase kemiripan. Artinya jika sangat mirip berarti tingkat DM tipe 2-nya berisiko tinggi. Sesimpel itu,’’ jelas Qori.

Ide gagasan tim tersebut disambut baik oleh juri sebab Diateck tergolong inovasi baru yang relevan dengan pengobat tradisional. Namun, hal itu tidak ditaklukkannya dengan mudah. Pasalnya, dalam proses penyusunan mereka diakrabkan dengan beberapa kendala.

“Sebelumnya, gagasan tersebut sudah pernah kami ajukan ke tiga kompetisi tetapi semuanya ditolak. Bahkan saat kompetisi pertama, juri menganggap ide tersebut kurang masuk akal. Setelah kami evaluasi dan perbaiki bersama, Alhamdulillah akhirnya bisa mendapatkan juara,” tegas Qori. (shi)

Share :

Baca Juga

Pendidikan

Ikuti Perkembangan Iptek, KKG PAI Magetan Gelar Lomba Video Pembelajaran
tukar menukar Cindera mata

Militer

Ini Pesan Kasad:  Jadilah Garda Terdepan Dalam Manjaga Nilai-Nilai Pancasila

Birokrasi

Sahh… Untag Surabaya dan Pemkot Blitar Resmi Bekerjasama, ini buktinya

Daerah

Kejati Jatim Terima Limpah Tahap I Berkas Perkara Cabul Siswi SPI Batu

Pendidikan

Guru Olga Jackie Chan Ponorogo Jadi Jawara Athletik

Lifetrend

Pocari Sweat Bintang SMA 2021 Jalin Kerjasama dengan Label Musik Asal Amerika Serikat 88RISING

Jatim

Puluhan SD di Magetan Bakal Diregrouping

Birokrasi

Untag Surabaya Terima 1 Mobil Ambulans Khusus Covid-19 Dari Ketua IKBA